TUTUP
TUTUP
NASIONAL

Bachtiar Nasir: Umat Islam Harus Revolusi

Kalau umat Islam bangkit, dia yakin negara akan maju.
Bachtiar Nasir: Umat Islam Harus Revolusi
Bachtiar Nasir , Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) (VIVA.co.id/Syaefullah)

VIVA.co.id - Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Ustadz Bachtiar Nasir, menutup aksi simpatik 505 di dalam Masjid Istiqlal Jakarta Pusat, Jumat, 5 Mei 2017. Setelah itu, massa mulai membubarkan diri, namun ada juga yang masih bersantai dan tiduran di dalam masjid.

Meski sudah ditutup, para peserta aksi masih ada yang terlihat di halaman masjid. Mereka masih bersantai, duduk bersama para peserta lainnya.

"Saya ucapkan terima kasih setinggi-tingginya. Anda sudah siap menjadi barisan yang kuat," kata Bachtiar di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat, Jumat, 5 Mei 2017.Para peserta aksi 505 tengah duduk di Masjid Istiqlal, Jumat, 5 Mei 2017.

[Suasana di Masjid Istiqlal, Jumat, 5 Mei 2017. Tampak para peserta aksi duduk di dalam masjid (Foto: VIVA.co.id/ Syaefullah)].

Dalam kesempatan itu, Bachtiar juga menyampaikan suasana yang dialami oleh umat Islam saat ini. Menurutnya, mereka menginginkan perubahan yang mendasar dan radikal.

"Umat Islam sekarang ini, banyak teriak revolusi. Saya kira (mereka) harus revolusi," kata Bachtiar.

Meskipun demikian, dia mengingatkan dalam melakukan revolusi yang perlu dibangun ialah infrastruktur sumber daya manusia itu sendiri. Kedua adalah soal ekonomi.

"Kalau umat Islam bangkit secara revolusioner, negaranya akan maju," katanya.Para peserta aksi 505 di Masjid Istiqlal, Jumat, 5 Mei 2017.

[Para peserta aksi 505 di dalam Masjid Istiqlal, Jumat, 5 Mei 2017. (Foto: VIVA.co.id/ Syaefullah)].

Sementara itu, salah satu peserta aksi 505, Djarot Bakri Yusuf, yang ditemui VIVA.co.id di Masjid Istiqlal mengemukakan soal alasannya ikut aksi simpatik 55. Dia hanya ingin keadilan dalam kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama.

"Ingin menuntut keadilan, kasus sudah berjalan lama. Kasus penistaan agama berjalan lambat. Kami anggap menghina Alquran," kata Djarot.

Sebelumnya, umat Islam menggelar aksi bela Islam atau dikenal dengan 505 pada Jumat, 5 Mei 2017. Mereka meminta Mahkamah Agung memastikan agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara tetap menjaga independensi dan mencegah adanya intervensi dari sekelompok orang dalam sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok. (ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP