Pedagang Kaki Lima di Yogya Bikin Kumuh, Sultan HB X Marah

Ilustrasi-Jalan Malioboro, Yogyakarta.
Sumber :
  • Antara

VIVA.co.id –  Lautan manusia yang merayakan pergantian tahun di kawasan Malioboro memberi pekerjaan berat bagi pengelola Malioboro. Kawasan pedestrian yang baru saja diresmikan tampak kotor, bau dan kumuh akibat para pedagang kaki lima yang berada disisi timur membuang limbah dan sampah sembarangan.

PKL Malioboro Nurut Direlokasi, Tapi Kalau Bisa Habis Lebaran

Kondisi demikian ini, mengundang perhatian Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang menganggap kondisi ini harus segera diatasi dan ditertibkan. Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang juga Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, meminta Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Malioboro bertanggungjawab memperbaiki wajah Yogyakarta dengan memanggil pemilik dan pelayan warung kuliner yang ada di jalan jantung Kota Yogyakarta.

“Sebelum semua menjadi parah, hendaknya segera ditertibkan agar kedepan tidak menjadikan masalah. Mestinya pemilik dan pelayan warung kaki lima bisa dididik untuk mengedepankan kebersihan, apalagi saat membuang air sisa dagangan yang menimbulkan bau tidak tidak sedap tersebut,” ujarnya.

Sri Sultan HB X Nonton Losmen Bu Broto, Maudy Koesnaedi Deg-degan

Menurut dia, mestinya, pedagang lesehan maupun pelayan bisa membedakan air sisa makanan yang mengandung bau tidak dibuang sembarangan apalagi dibuang dipinggir jalan. Begitu juga pedagang lesehan dan pelayan, bisa membedakan sampah basah dengan sampah kering. Bila masing-masing dibuang ditempatnya, tidak akan menjadikan masalah.

Sebaliknya, bila kotoran tersebut dibuang seenaknya tanpa mempedulikan tempat sampah yang sudah disediakan, tentu bakal menjadi masalah. ''Air sisa makanan jangan dibuang sembarangan, dan jangan membuang sampah seenaknya sendiri,'' ujar Ngarsa Dalem, panggilan akrab Sri Sultan Hamengku Buwono X, Selasa 3 Januari 2016.

Ekonomi Yogyakarta Tumbuh 11,8 Persen, Mendagri Belajar ke Sultan HB X

Untuk itu, Sultan minta UPT Malioboro bisa memberi peringatan kepada pemilik dan pegawai agar tidak lagi melakukan tindakan yang merusak kebersihan kawasan Malioboro. Adanya UPT Malioboro seharusnya sudah cukup untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di kawasan Malioboro termasuk kebersihan.

''UPT jangan jadi penonton saja, dulu sudah saya tegur kalau tidak sanggup ya sudah saya ganti saja,'' ujar Ngarsa Dalem dengan nada jengkel.

Sebelumnya pada pembukaan jalur pedestrian Malioboro akhir tahun 2016 lalu, Sultan sempat mengingatkan agar PKL di Malioboro bisa menjaga kebersihan baik lokasi berdagang, makanan maupun sampah sisa dagangan.

Namun kenyataannya saat libur panjang Natal dan Tahun Baru, pedagang tidak mengikuti permintaan atau anjuran Sri Sultan Hamengku Buwono X dan tetap berperilaku tidak bersih dengan membuang air sisa dagangan di pinggir jalan dan selokan yang membuat munculnya bau tak sedap.

Padahal orang nomor satu di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pemda DIY ini, hanya minta pedagang kaki lima dan lesehan Malioboro menjaga kebersihan dan mau hidup bersih. Dengan demikian, Malioboro yang asri dan nyaman bagi wisatawan bisa tetap terus terjaga kenyamanannya.

(ren)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya