TUTUP
TUTUP
NASIONAL

Kemenkes Imbau Pemeriksaan Pengemudi Transportasi Umum

Dalam rangka menjelang libur Natal dan Tahun Baru.
Kemenkes Imbau Pemeriksaan Pengemudi Transportasi Umum
Ilustrasi mudik (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVA.co.id – Menjelang mudik Hari Raya Natal dan Tahun Baru, intensitas penggunaan transportasi umum cenderung meningkat. Peningkatan ini biasanya diiringi dengan peningkatan jumlah risiko kecelakaan transportasi lalu lintas.

Untuk itulah, Direktur Kesehatan Kerja dan Olah Raga Kementerian Kesehatan drg. Kartini Rustandi, M.Kes mengimbau perlunya pemeriksaan kesehatan bagi para pengemudi yang memiliki jarak tempuh cukup lama, setidaknya lebih dari empat jam.

Kartini menjelaskan, para pengemudi bus antar kota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKDP) adalah pengemudi yang berperan penting dalam keselamatan penumpang karena sering berkendara lebih dari empat jam atau memiliki rute padat dan berintensitas tinggi sehingga berisiko mengalami kecelakaan.

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan ini merupakan upaya untuk deteksi dini faktor risiko cedera akibat kecelakaan lalu lintas. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan tekanan darah, kadar alkohol, kadar amphetamin dalam urine, kadar gula darah, dan kolesterol.

"Deteksi dini tidak hanya dilakukan kalau akan Lebaran atau libur akhir tahun, tapi rutin dilakukan karena kondisinya sama. Kenapa menjelang libur? Karena akan banyak yang bepergian sehingga macet yang bisa mengakibatkan tingkat kelelahan tinggi. Kalau supir tidak sehat, yang rugi adalah penumpang yang dibawa," kata Kartini kepada media saat acara Sosialisasi Kelaikan Kerja pada Pengemudi Jelang Libur Nasional di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu, 16 November 2016.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2004 kecelakaan menjadi penyebab kematian urutan kesembilan di dunia dan akan terus meningkat. Sementara di Indonesia, menurut data dari Korps Lalu Lintas Polri, lebih dari 8.000 kasus kecelakaan terjadi pada mudik Lebaran tahun 2016 dan lebih dari 2.000 korban meninggal akibat kecelakaan.

Sementara kerugian ekonomi nasional yang akan ditimbulkan oleh kecelakaan mencapai 1-2 persen dari total pendapatan per kapita negara di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia, kerugian ekonomi akibat kecelakaan mencapai 2,91 persen.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP