TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
NASIONAL

Kedubes AS Antusias Adanya Media Khusus Warga Desa

Surat kabar khusus desa itu ada di Ketapang dan Cimenyan.
Kedubes AS Antusias Adanya Media Khusus Warga Desa
Pelatihan jurnalis warga oleh Komunitas Noong di Desa Ketapang, Bandung (Komunitas Noong)

VIVA.co.id – Ada yang menarik dari Desa Ketapang dan Desa Cimenyan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Desa tersebut kini memiliki media cetak khusus desa yang dikelola dengan swadaya bersama. Surat kabar desa tersebut bernama Noong dilengkapi dengan paket pelatihan menulis berkala dan perpustakaan desa.

"Kehadiran surat kabar sudah kian langka di perdesaan, Keengganan masyarakat desa berlangganan surat kabar karena tidak terwakilinya warga desa dalam konten yang disajikan," kata Pendiri Noong, Lina Lursanty melalui siaran pers yang diterima VIVA.co.id, Senin, 10 Oktober 2016,

Noong juga menyelenggarakan pelatihan jurnalistik warga yang digelar di Desa Ketapang, Bandung, Jawa Barat pada Minggu petang, 9 Oktober 2016.

Dalam pelatihan yang dihadiri 34 pemuda dan warga desa itu hadir Wakil Atase Pers Amerika Serikat (AS), Alexia Branch, Ketua Pusat Studi Budaya Sunda (PSBS) Universitas Padjadjaran, Tedy Muhtadin dan pendiri media anak BEST, Nilam Zubir.

Wakil Atase Pers Amerika Serikat, Alexia Branch menyambut baik pemberdayaan masyarakat desa dengan media jurnalistik ini. Hal ini kata dia sangat penting dalam menumbuhkan iklim demokrasi yang baik.

"Sebagai dua negara demokrasi dengan keberagaman, AS dan Indonesia memiliki hubungan yang sangat baik. AS dan Indonesia sama-sama berkomitmen mendukung masyarakat madani yang kuat, pers dinamis dan meningkatkan kesempatan bagi perempuan dan kaum minoritas," kata Alexia Branch dalam kesempatan itu.

Noong diambil dari kata bahasa Sunda yang berarti ‘melihat’ atau ‘mengintip’. Bisa juga digunakan ketika mengungkapkan sesuatu dengan cara meneropong. Noong pada awalnya hadir di Desa Katapang, Kabupaten Bandung pada akhir tahun 2015 oleh beberapa anak muda desa yang mempertanyakan masa depan dan mental masyarakat serta peran media massa di dalamnya.

Sementara Ketua Pusat Studi Budaya Sunda (PSBS) Universitas Padjadjaran, Tedy Muhtadin menilai, bahwa media Noong akan bisa membantu masyarakat tetap memelihara bahasa dan budaya Sunda tersebut. Hal ini dinilainya krusial dalam kondisi gempuran informasi dan pengaruh budaya asing saat ini.

Noong dan perpustakaannya selama enam bulan terakhir mulai aktif bekerja sama dengan sejumlah lembaga antara lain pondok pesantren desa Al-Furqan, Kedutaan Besar (Kedubes) AS dan sejumlah jurnalis serta aktivis pemberdayaan masyarakat.

(mus)

 

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP