TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
NASIONAL

Ketika Jemaah Haji Indonesia Dirindukan Pedagang di Madinah

Banyak pedagang di Madinah yang mengerti bahasa Indonesia.
Ketika Jemaah Haji Indonesia Dirindukan Pedagang di Madinah
Kios perbelanjaan di Madinah (VIVA.co.id/Arinto)

VIVA.co.id – Selama delapan hari ke depan, jemaah haji Indonesia gelombang kedua secara bertahap akan terus dipulangkan ke Tanah Air. Pemberangkatan terakhir dari Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, sesuai jadwal pada 15 Oktober 2016.

Selama waktu tersisa itu di Madinah, jemaah haji akan menyelesaikan ibadah arbain, yakni salat fardhu 40 waktu tanpa terputus di Masjid Nabawi. Seperti terlihat dalam beberapa hari terakhir, jemaah haji Indonesia, masih banyak yang memadati areal masjid yang dibangun Rasulullah SAW itu.

Jemaah haji Indonesia sepertinya tidak ingin menyia-nyiakan waktu selama di Madinah untuk beribadah. Apakah itu salat fardhu, salat sunah, berzikir dan berdoa, hingga mendengarkan ceramah dalam bahasa Indonesia di Masjid Nabawi.

Ya, di Masjid Nabawi memang rutin diadakan ceramah dalam bahasa Indonesia setiap selesai salat Maghrib dan salat Subuh. Penceramahnya warga Indonesia dan dilaksanakan di dalam masjid di area jemaah pria.

Namun, di sela waktu ibadah arbain, jemaah haji juga menyempatkan untuk berbelanja oleh-oleh bagi keluarga dan kerabat di Tanah Air. Di sekitar hotel jemaah haji hingga menjelang pintu masuk Masjid Nabawi, banyak berjejer toko dan kios yang menjajakan berbagai produk.

Mulai dari baju-baju muslim, sajadah, parfum khas Arab, tasbih, surban, kopiah, hingga mainan anak-anak. Sejumlah toko emas dan kurma juga tak sedikit dikunjungi jemaah.

Pengunjung tidak hanya jemaah Indonesia, tapi juga dari berbagai negara yang masih berada di Madinah. Selain Indonesia, yang cukup mendominasi adalah jemaah dari India, Pakistan, dan Bangladesh.

Pantauan tim Media Center Haji, pada 1-2 hari terakhir, jemaah haji Indonesia banyak yang memborong emas, gamis, sajadah, hingga kopiah. Bahkan di salah satu toko emas di dekat Masjid Nabawi, beberapa jemaah haji Indonesia, dengan sangat percaya diri menawar cincin emas yang hendak dibelinya.

"Sebentar, sebentar, tunggu dulu, ini berapa harganya," katanya dalam bahasa Indonesia kepada penjaga toko warga Arab.

Penjaga toko pun hanya tersenyum-senyum, melihat cara menawar jemaah haji asal Malang tersebut. Penjaga toko yang mengerti bahasa Indonesia itu sebelumnya memberikan harga 170 riyal untuk satu gram emas Dubai.

Namun, jemaah perempuan tersebut tidak sepakat dengan harganya, dan terjadinya tawar-menawar yang cukup panjang. Setelah sekitar 10 menit terjadi tawar-menawar, disepakati harga 160 riyal untuk satu gram emas.

Belum sampai di situ, jemaah haji perempuan tersebut ternyata hanya membawa uang rupiah. Transaksi pun kembali terjadi. Dengan bantuan kalkulator, akhirnya disepakati untuk tiap Rp100 ribu setara dengan 28 riyal.

Cincin seberat hampir 5 gram tersebut akhirnya berpindah tangan ke jemaah haji itu. Tak lupa, ibu yang sebelumnya sudah membeli cincin di toko yang sama itu meminta "surat" pembelian emas. "Surat, suratnya mana," ujar dia.

Masih sambil tersenyum, penjaga toko emas itu pun membuatkan faktur pembelian cincin emas itu. Karena setiap tahun jemaah haji Indonesia adalah yang terbanyak dari seluruh dunia, banyak pedagang di Madinah, paham karakter dan bahasa yang digunakan jemaah dari Tanah Air itu.

Sejumlah pedagang parfum, sajadah, hingga gamis, banyak yang memahami bahasa Indonesia. "Indonesia, Indonesia bagus. Murah, murah, lihat-lihat dulu," kata mereka saat melihat beberapa jemaah haji Indonesia melintas di depan kios atau tokonya.

Kondisi serupa terlihat saat seorang ibu, jemaah haji asal embarkasi Solo, tengah memilih gamis yang memang sedang turun harga. Sejumlah pedagang mengobral harga gamis dari sekitar 65-80 riyal menjadi 30-40 riyal.

"Lihat-lihat dulu, murah," kata seorang pedagang sambil menggandeng tangan tim Media Center Haji.

Kios perbelanjaan di Madinah

Menurut jemaah haji yang sedang memilih gamis di salah satu kios di Taiba Commercial Center, Madinah, itu, gamis yang diobral bahannya cukup bagus. "Adem, ini seperti yang saya pakai," kata si ibu, sambil menunjukkan gamis yang dikenakannya.
 
Sebelumnya, jemaah haji ini sudah pernah membeli gamis di kios yang sama. Si ibu membelinya saat menunaikan umrah beberapa waktu lalu.

"Kalau yang suka ditawarkan di pinggir-pinggir jalan itu memang lebih murah. Tapi, bahannya agak panas," ujarnya.

Tidak hanya emas maupun gamis, selepas Salat Jumat, banyak jemaah yang menyempatkan mampir di sejumlah kios dan toko di sekitar Masjid Nabawi itu. Mereka umumnya membeli untuk oleh-oleh keluarganya di rumah.

"Buat istri, kebetulan tidak ikut pergi (haji)," kata seorang jemaah dari Jawa Barat yang tergabung dengan embarkasi Jakarta-Bekasi, Jumat 7 Oktober 2016.

Tidak banyak belanjaannya hari itu, karena esok sudah harus pulang ke Tanah Air. Sementara itu, jemaah lain yang mendampinginya, rata-rata banyak yang membeli kurma untuk oleh-oleh. "Paling kurma aja," ujarnya.

Selain sebagai oleh-oleh, ada jemaah haji yang berbelanja untuk dipakai sendiri. Saat ditemui tengah memilih kopiah warna hitam, jemaah haji asal embarkasi Jakarta-Pondok Gede itu sepertinya ingin menambah koleksi kopiahnya.

"Saya waktu itu sudah beli yang itu (menunjuk kopiah warna-warni)," kata dia.

Namun, karena tidak sesuai dengan harganya, sang bapak kemudian meninggalkan kios itu. Berlanjut ke kios sebelah, jemaah haji yang berangkat bersama istrinya itu pun tidak mendapatkan harga yang diinginkannya.

Kepala Sektor Khusus Masjid Nabawi Daker Madinah, Slamet Budiyono Sabar, mengakui, banyak pedagang di sekitar Masjid Nabawi yang menunggu-nunggu kedatangan jemaah haji Indonesia. Bahkan, sebelum kedatangannya di Madinah, pedagang seperti tidak sabar menunggu para jemaah, setelah selesai prosesi ibadah haji di Mekah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP