TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
NASIONAL

Tiga Pengikut Dimas Kanjeng di Sumsel Hilang

Mereka sempat menawari pengurus MUI untuk bergabung ke padepokan
Tiga Pengikut Dimas Kanjeng di Sumsel Hilang
Pemimpin Padepokan Kanjeng Dimas, Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng. (VIVA.co.id/Istimewa)

VIVA.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut tiga warga Sumatera Selatan telah menjadi pengikut padepokan Dimas Kanjeng, yang kini sedang ditahan Polda Jawa Timur sebagai tersangka kasus pembunuhan dan penipuan.

Amin Yati, Ketua Komisi Fatwa MUI Sumsel, mengatakan tiga warga tersebut tinggal di Kelurahan Borang, Keramasa, dan Kecamatan Talang Kelapa.

"Dari padepokan Dimas Kanjeng sudah membenarkan kalau mereka jadi pengikut," kata Amin, saat dihubungi, Kamis, 6 Oktober 2016.

Amin melanjutkan, ketiga warga tersebut berprofesi sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta seorang kiai.

"Salah satu pengikut Dimas Kanjeng yang berprofesi sebagai kiai tersebut, bahkan pernah membawa kerabatnya untuk mengikuti prosesi menggandakan uang," ujarnya.

Saat ini, MUI Sumsel rencananya akan mengumpulkan para pengikut Dimas Kanjeng tersebut untuk dilakukan pembinaan. Namun, yang menjadi masalah adalah, MUI tak mengetahui keberadaan tiga warga tersebut.

"Kita masih mencari lokasi mereka sekarang dimana, karena di tempat tinggal mereka sekarang sudah tidak ada lagi," kata dia.

Ketiga warga itu diketahui sudah dua tahun terakhir ini menjadi pengikut padepokan. Mereka awalnya mendapatkan tawaran menggandakan uang dengan biaya sebesar Rp5 Juta.

"Setoran awal diminta Rp5 juta, tetapi mereka belum melakukan transaksi. Baru sebatas mendaftar saja di Padepokan Dimas Kanjeng," ungkap Amin.

Amin juga menerangkan bahwa salah satu dari ketiga pengikut itu pernah menawarinya untuk menjadi pengikut. Namun, dia menolak ajakan itu.

"Salah satu pengikutnya yang pernah datang ke sana mengaku sedang ada acara di padepokan Dimas Kanjeng, bapak Presiden Joko Widodo dan mantan Kapolri dan Kejagung juga datang. Memang pernah saya ditawari untuk ikut, tapi saya tidak yakin," ujarnya.

MUI Sumsel pun menyatakan apa yang diajarkan pimpinan padepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi, merupakan perbuatan sesat dan dilarang agama. Terlebih lagi menggunakan kekuatan gaib untuk menggandakan uang.

"Banyak yang tergiur karena bisa menggandakan uang dalam waktu singkat. Seharusnya warga berpikir logis, tidak ada uang bisa digandakan tanpa bekerja dan usaha," ucap dia.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP