TUTUP
TUTUP
NASIONAL

Jejak Kota Madinah di Museum Dar Al-Madinah

Pengunjung akan mengingat kembali perjalanan hijrah Rasulullah SAW.
Jejak Kota Madinah di Museum Dar Al-Madinah
Museum Dar Al Madinah (VIVA.co.id/Arinto)

VIVA.co.id – Berada di kota Madinah, belum lengkap bila tidak mengunjungi museum Dar Al-Madinah. Ditempuh sekitar 20 menit dari Masjid Nabawi, museum ini memang belum sepopuler Museum Asmaul Husna maupun Museum Alquran.

Secara geografis, letak museum ini memang tidak dekat dengan Masjid Nabawi. Berbeda dengan dua museum yang disebutkan sebelumnya, yang hampir menempel dengan masjid yang dibangun Rasulullah SAW itu.

Namun, letaknya yang cukup jauh, akan terbayar jika sudah mengunjunginya. Sepintas, saat tim Media Center Haji pertama kali mengunjunginya, pada Minggu, 2 Oktober 2016, hampir tidak ada pengunjung lain yang datang.

Meski cukup terawat dan "disambut" dengan beberapa meja kursi taman terbuat dari daun kurma, suasana museum belum terasa. Beberapa maket masjid yang ada di Madinah tertata di antara sejumlah kios yang belum sepenuhnya buka pagi itu.  

Hanya beberapa guci dan teko kuno serta sejumlah lampu artistik yang terpasang di tembok gedung, mulai menyiratkan "aroma" sebuah museum. Penataan taman mungil sebelum menuju pintu masuk cukup menambah kesan artistik.

Halaman terbuka ini seolah menggambarkan koridor berumput figuratif yang menampilkan arsitektur lokal tua kota Madinah. Namun, untuk masuk ke museum ini tidak gratis. Pengunjung harus menyiapkan 25 riyal untuk tiket.

Jika ingin bersantai lebih dahulu, tersedia gubuk kecil yang menyediakan minuman teh hingga kopi Arab. Untuk segelas teh hangat, siapkan kocek 4 riyal.

Gubuk kecil ini diibaratkan kafe tua. Di mana pengunjung seolah dapat beristirahat dan mengambil air harum dari pot tembikar tradisional.

Sebelum memulai penjelajahan area dalam museum, pengunjung akan didata, terkait dengan kebutuhan pemandu. Terutama untuk layanan bahasa yang akan digunakan.

Pengelola museum, Sulaiman, mengatakan, pengunjung disiapkan pemandu yang mampu berbahasa Arab, Inggris, Urdu, dan Turki. Tim pemandu yang terampil, akan menemani pengunjung selama berkeliling museum.

Secara singkat, Dar Al-Madinah adalah museum kota pertama yang menampilkan arsitektur dan ruang budaya. Seluas 500 meter persegi, museum mencakup berbagai miniatur, patung, dan gambar langka dari kota Madinah.  

Pengunjung pun dibawa dalam suasana spiritual perjalanan sejarah Nabi Muhammad SAW, saat hijrah dari Mekah ke Madinah, pembangunan Masjid Nabawi, hingga pengembangan kota Madinah.

Pada bagian awal, pemandu akan menjelaskan mengenai sejarah dan evolusi kota Mekah. Termasuk proses pembangunan Kakbah, yang terlihat mengalami enam fase pengembangan, hingga masa hijrah Nabi SAW dari Mekah ke Madinah.

Pengunjung juga akan mendapat gambaran mengenai Masjid Quba, yang pertama kali dibangun Rasulullah SAW, dan Masjid Jumuah, tempat pertama kali Nabi Muhammad SAW, menjalankan salat Jumat berjamaah setelah hijrah.

Selanjutnya, pengunjung akan dijelaskan mengenai sejarah pembangunan dan pengembangan Masjid Nabawi.

Museum Dar Al Madinah

Dari awalnya seluas 30 x 35 meter, perubahan ketiga seluas 50 x 50 meter hingga saat ini yang mampu menampung sekitar 1 juta jemaah.

Pengunjung juga akan mendapatkan cerita sejarah mengenai pertempuran di Uhud pada tahun ketiga Hijriah, serta perang Khandaq pada tahun kelima Hijriah.

Di dalam museum ini, pengunjung juga akan dibawa melihat landmark, budaya, dan peradaban perkotaan pada awal Kerajaan Arab Saudi, sebelum perluasan Masjid Nabawi di era Raja Abdul-Aziz Al Saud. Selain itu, beberapa benda bersejarah dan koleksi busana pengantin sekitar 100 tahun lalu masih tersimpan rapi.

Bagi jemaah haji Indonesia yang masih berada di Madinah, museum ini bisa menjadi salah satu alternatif tujuan wisata sejarah. Minimal untuk mengingat kembali sejarah perjalanan Hijrah Nabi Muhammad SAW dan perkembangan kota Madinah.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP