TUTUP
TUTUP
NASIONAL

Kronologi Pemukulan Jurnalis NetTV versi Kodim Madiun

Kodim mengklaim kejadian itu cuma salah paham.
Kronologi Pemukulan Jurnalis NetTV versi Kodim Madiun
Jurnalis NetTV di Madiun, Sony Misdanto, jadi korban penganiayaan. (VIVA.co.id/ Nur Faishal.)

VIVA.co.id - Komandan Distrik Militer (Dandim) 0803/Madiun, Letnan Kolonel Infantri Rahman Fikri, mengakui terjadi insiden pemukulan oleh anak buahnya kepada jurnalis NetTV, Sony Misdanto, saat terjadi keributan antara beberapa oknum TNI Yonif 501 dengan konvoi Sura Agung yang terlibat kecelakaan. Tapi, peristiwa itu terjadi karena kesalahpahaman.

Rahman menjelaskan, memang dua hari ini ada kegiatan peringatan Sura Agung di Kota Madiun dan sekitarnya. Oleh anggota perguruan silat SH Terate, momen sakral tersebut dimanfaatkan untuk melaksanakan acara ziarah bersama-sama ke para pendiri perguruan.

"Kedatangan ini (anggota SH Terate) tidak hanya dari Madiun, tapi dari kota lain se-eks Karesidenan Madiun. Ada dari Bojonegoro, bahkan dari Sragen. Hari ini giliran dari Ponorogo," kata Dandim Rahman dihubungi VIVA.co.id, Minggu, 2 Oktober 2016.

Anggota TNI, lanjut dia, membantu petugas dari kepolisian mengamankan tertibnya kegiatan tersebut sejak kemarin. Anggota TNI dari Yonif 501 juga di-BKO-kan membantu pengamanan.

"Konvoi dari luar kota sampai Madiun dikawal dan berjalan tertib. Tapi rupanya ada rombongan konvoi yang terputus dan terlibat kecelakaan," ujar Rahman.

Anggota Yonif 501 dan polisi yang berada di lokasi kecelakaan, lanjut Rahman, kemudian mengamankan peserta konvoi yang menabrak seorang wanita pengendara sepeda motor.

"Tapi karena massa yang banyak kondisi memanas. Terjadilah pemukulan pada peserta yang tidak bisa diatur," cerita dia.

"Momentum seperti itu membuat jurnalis atau wartawan tertarik mengambil gambar. Tapi dalam kondisi (panas) seperti itu, lalu terjadilah pemukulan (kepada Sony Misdanto, kontributor NetTV) yang sampai sekarang juga belum diketahui siapa yang mukul," kata Rahman.

Dia mengatakan bahwa petugas Datasemen Polisi Militer (Denpom) sudah memintai keterangan anggota TNI yang berada di lokasi saat kejadian, juga korban Sony.

"Saya kira kejadian itu karena ada kesalahpahaman. Karena sebelumnya korban katanya tidak menunjukkan ID-Card," ujar Rahman.

Korban, lanjut dia, belum melaporkan apa yang dialaminya secara resmi ke Denpom Madiun. Tapi dia berharap masalah tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Dia juga langsung melakukan pembinaan kepada anggotanya ketika bersama wartawan di lapangan.

"Kami masih terus berkoordinasi untuk menyelesaikan masalah ini baik-baik. Kami juga lakukan evaluasi," katanya.

Sebelumnya, Sony mengaku dipukuli beberapa oknum TNI AD saat mengambil gambar beberapa anggota TNI ketika terlibat keributan dengan peserta konvoi Sura Agung yang menabrak pengendara wanita di jalan depan markas TNI AD di Kota Madiun, Jawa Timur, pada Minggu siang, 2 Oktober 2016. Akibatnya, Sony mengalami luka lebam dan kameranya rusak.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP