TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
NASIONAL

Children With No Land, Lagu dari Teluk Lampung yang Mendunia

Lagu ini pernah bertengger di tangga lagu dunia.
Children With No Land, Lagu dari Teluk Lampung yang Mendunia
Kim Commanders alias Lukman Hakim pencipta lagu Children With No Land. Lagu ini menjadi juara pertama kategori balada di tingkat internasional di ajang Reverbnation. (VIVA.co.id/youtube)

VIVA.co.id – Pernah mendengar lagu Children With No Land? Jika belum. Untuk diketahui, lagu ini pernah bertengger di tangga lagu dunia 'Reverbnation' dalam kategori balada. Setidaknya selama dua bulan, alunan lirik yang lahir dari tangan Lukman Hakim alias Kim Commanders ini merayap di telinga penggemar lagu balada internasional.

Lagu Children with No Land, sejatinya telah lahir sejak tahun 2013. Lagu ini disebar lewat jejaring sosial facebook oleh sang penciptanya. Dengan format sederhana MP3. Namun siapa kira, dua tahun berjalan dan tanpa diduga.

Lagu milik Kim rupanya perlahan merayap menembus negara lain. Lagu itu rupanya tenar di tangga musik dunia, Reverbnation. Bagaimana tidak, Bonie Mc Giel, seorang musisi lagu Country asal Kanada yang pernah menjadi juara pertama dunia musik balada, lalu Josie Bernales musisi Jerman bahkan ikut terpukau dengan lagu Child With No Land.

"Saat itu yang mengunduh lagu saya ada 12 ribuan lebih. Padahal lagu itu baru dibuat dalam bentuk MP3, belum pakai video klip," kata Kim kepada VIVA.co.id, Sabtu, 1 Oktober 2016.

Sejak itu, berdasarkan permintaan. Kim pun mulai tertarik membuatkan klip video untuk karya lagunya. Dengan mengumpulkan potongan gambar-gambar perang dan tampilan sederhana, Kim pun mengunggah karyanya. Alhasil, karyanya pun menjadi peringkat pertama dunia dalam kategori balada.

Terinspirasi Rohingya

Bagi Kim, lirik lagu Children with No Land, memang bukan sembarang lirik. Diakuinya, penulisan lagu ini memang hanya dua hari. Namun ada pergulatan batin yang keras di balik setiap penggalan lirik karya tangan Kim Commanders.

Lirik magis yang ada di lagu Kim, sesungguhnya lahir dari pertemuan tak sengajanya dengan pengungsi Rohingya dari Myanmar di pantai Teluk Lampung. Kala itu, ia melihat seorang ibu dengan dua anaknya sedang terlunta-lunta usai terdampar bersama puluhan pengungsi Rohingya lainnya.

"Saya lihat dia menggendong kedua anaknya. Yang satu digendong di punggungnya, dan satunya lagi di pinggangnya. Mereka sangat menderita, kehausan, dan kelaparan. Lalu saya berikan air minum dan makanan ringan seperti roti yang saya bawa saat itu kepada mereka,” kata Kim mengenang pertemuannya pada tahun 2013 silam.

Penduduk Muslim Rohingya di Myanmar.

FOTO: Ilustrasi/Pengungsi Rohingya

Kim yang penasaran lalu mendekati perempuan tersebut dan mencoba menanyakan langsung apa yang sesungguhnya terjadi. Sebab saat para nelayan Lampung membantu menarik kapal yang berisi puluhan manusia itu, saat itu kapal tersebut dalam kondisi sudah pecah akibat dihantam gelombang.

"Saya tanya sama Ibu ini pakai bahasa Indonesia. Ibu itu tidak mengerti bahasa saya. Lalu saya tanya lagi dengan bahasa Inggris. Ternyata ibu itu juga  tidak mengerti,” katanya.

Beruntung, ada seorang petugas penerjemah yang akhirnya membantu. Saat itulah Kim mendengarkan kesaksian langsung dari ibu tersebut. Dalam ceritanya, ibu yang tak diketahui namanya itu mengaku belari karena negaranya sedang bertikai.

Ia pergi membawa tiga anaknya tanpa bekal apa pun. Dan kemudian menumpang kapal. Namun nahas, empat hari perjalanan kapal tersebut kehabisan bahan bakar. Alhasil bersama puluhan pengungsi, bergantung pada tiupan angin kapal berisi puluhan manusia itu terombang ambing di tengah laut.

Satu per satu orang di kapal meninggal dunia. Sebagian karena kehausan dan lainnay karena tak kuat menahan dinginnya angin laut. Termasuk diantaranya anak bungsu dari ibu yang ditemui Kim. "Air mata saya tumpah saat itu. Ibu ini menangis dan berkata tidak apa-apa anaknya jadi makanan ikan. Tidak berjasad pun anaknya masih bermanfaat untuk makhluk ciptaan Tuhan lainnya,” kenang Kim.

"(Karena itu) Mereka sangat berharap, masih ada tanah lain yang bisa dipijak di bumi ini."

Sejak itu, kenangan itu pun melekat kuat di benak Kim. Kegelisahannya membuncah. Pria kelahiran tahun 1973 ini pun merasa tak tenteram. Berjarak dua pekan dari kejadian itu, Kim pun mulai mencoba menulis lagu. Dengan pergulatan perasaan dan kenangan pedih tentang para pengungsi Rohingya alhasil lahirlah lagu Children with No Land.

“Bukan tanganku sebenarnya yang menulis lirik lagu ini, tapi hati dan air mataku yang menulisnya,” kata Kim.

Warga sipil korban perang di Somalia.

FOTO: Ilustrasi/Warga sipil korban perang di Somalia

 

Kim pun mencoba untuk merekam lagu tersebut dengan aat seadanya. Ia pun menghubungi sejumlah rekannya sesama musisi untuk menjadikan lagu itu hidup dan bernyawa. Kim mengingatnya setidakny butuh dua hari saat merekam lagu itu.

"Di teras rumah inilah kami melakukan perekamannya dalam bentuk MP3,” ujar Kim di kediamannya di Jalan Ikan pari, Kelurahan Teluk Betung Bandarlampung.

Ada Krishna Murti
Diakui Kim, ia sesungguhnya memang tak begitu memahami sejumlah jejaring sosial. Kalau pun ada ia hanya mengenal facebook. Sebab itu, maklum bila lagu Children with No Land, memang disebar lewat jejaring sosial tersebut.

Meski begitu, Kim juga pernah mendengarkan lagu ciptannya kepada seorang anggota kepolisian di Lampung. Saat itu di tahun 2013, ia mengenal Kompol Nuswanto, yang kini menjabat Wakapolres Tanggamus Lampung.

Selama ini Kim memang sering mengajar bahasa Inggris untuk perwira polisi. Karena itu, ia cukup familiar di kalangan pejabat polisi. "Setelah mereka mendengar lagunya, mereka bilang ke saya kalau lagunya bagus dan sangat menyentuh sekali. Lalu mereka menanyakan, ini lagunya gimana kalau dikirimkan ke Pak Krishna Murti," kata Kim.

"Karena saya tidak tahu, saya bertanya ke mereka, memang beliau (Krishna Murti) ini siapa? Mereka mengatakan bahwa Pak Krishna Murti adalah anggota Polri yang bertugas di PBB untuk misi perdamaian dunia."

Karena itu, lagu Kim pun dikirimkan ke Krishna Murti. Dan mendapat respons positif dari Krishna Murti yang saat itu masih bertugas di PBB. “Lagu tersebut dibantu beliau (Krishna) diunggah ke media sosial. Tapi saya tidak tahu di media sosial apa. Saat itu saya hanya berpikir, yang penting pesan melalui lagu yang saya ciptakan untuk perdamaian dunia itu sampai sampai ke telinga orang semua penjuru dunia. Hanya itu saja," ujarnya.

Dan kini, setelah kesuksesan lagu Children With No Land menapaki tangga usik dunia. Kim tetap pria sederhana dan ramah. Tidak ada yang berbeda dari sosok Kim meski kini sejak lagunya populer mulai banyak tawaran untuk berkolaborasi dengan musisi asing.

Bahkan, Kim mengaku meski lagu itu telah dua tahun mengudara. Faktanya Kim baru sekali menyanyikan lagu itu secara langsung di depan banyak orang di tanah lahirnya. Yaitu pada saat ia diminta untuk bernyanyi di hadapan anak-anak yatim piatu pada Hari Anak Nasional di Taman Baca Panca Warna di Gang Mulya Jaya, Kelurahan Kedamaian, Bandarlampung.

Dan kemudian baru itu publik mengenal Kim lewat karyanya. Beberapa kali ia pernah tampil di khalayak untuk mendendangkan lagu karyanya. Dalam harapnya, Kim tetap konsisten bahwa lagu itu harus menjadi inspirasi dan pesan bagi siapa pun.

Bahwa nilai-nilai kemanusiaan itu penting dan agar tidak ada lagi korban konflik perang pada masa mendatang. "Merekalah (anak-anak) yang nantinya menjadi generasi penerus bangsa dan menjunjung tinggi perdamaian dunia kelak," katanya.

Penasaran bagaimana magis lagu Children With No Land, simak video berikut:

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP