NASIONAL

Eksekusi Amrozi cs

Wasiat Imam Samudra Masih Mengancam Hakim

Imam Samudra menulis wasiat mengancam sejumlah menteri, jaksa dan hakim.

ddd
Minggu, 2 November 2008, 08:33
Surat Wasiat Terakhir Imam Samudra
Surat Wasiat Terakhir Imam Samudra (VIVAnews)

VIVAnews- Lahir 14 Januari 1970 dengan nama Abdul Azis, belakangan pria ini lebih dikenal dengan nama Imam Samudra.

Dalam catatan hariannya, Azis mengungkapkan mengapa ia memilih nama “Imam Samudra.” Banyaknya pertanyaan aparat membuat ia merasa perlu menerangkan pemilihan nama samaran tersebut.

“Imam” menurutnya berasal dari bahasa Arab yang artinya ‘pemimpin’ atau leader. Sedangkan “Samudera” berarti ‘lautan besar, lautan luas, lautan indah, kadang mengerikan, kadang mengasyikan, kadang menggetarkan.’

Pria kelahiran Serang, Banten, ini merupakan anak kedelapan dari 12 bersaudara. Ia besar bersama ibunya,  Embay Badriah (66). Ibunya bercerai dengan ayahnya saat ia masih kanak-kanak.

Tahun 1990 ia berangkat ke Malaysia sebelum melanjutkan perjalanan ke Afganistan. Di sana, Imam Samudra bergabung dengan para mujahidin untuk melawan kekuasaan Uni Sovyet.

Imam Samudra tinggal di Afganistan selama 2,5 tahun. Setelah itu ia menetap di Johor, Malaysia. Pada tahun 1999 ia baru kembali ke Indonesia.

Ia mulai menggunakan nama Imam Samudra saat melakukan aksi bom Natal di Batam, 24 Desember 2000. Setelah melakukan aksi pengeboman di Batam, ia kembali ke Malaysia.

Untuk Bom Bali I, Imam Samudra berperan sebagai komandan lapangan. Ia bertugas melakukan survei  dan menentukan sasaran serangan. Sekitar 202 jiwa melayang akibat ledakan bom maut itu.

Atas ulahnya meledakkan Bali itu, Imam kini bersiap menghadap regu tembak. Sepekan lalu, pada 22 Oktober, ia masih menulis wasiat terakhir di secarik kertas. Di wasiat itu, dia mengatakan hukuman mati atas dirinya tak lain karena perintah Amerika Serikat.

Di ujung ajalnya itu, Imam masih sempat juga "mengancam" Jaksa Agung Hendarman Supandji, Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata, jaksa dan para hakim di Bali. Mereka, kata Imam,  "tak bisa lenggang kangkung" karena telah "menghilangkan nyawa mujahidin". "Gak ada yang gratis! Kalian mungkin bisa saja menentukan eksekusi kami sesuai orderan baru boss. Ingat: tidak ada setetespun darah muslim yang gratis", tulisnya.

 


Lihat juga: Hari-Hari Terakhir Imam Samudra



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com