NASIONAL

Kongres Demokrat, Denny JA Akui Beri Dana ke Anas

Program yang dibuat Anas sangat banyak, sehingga butuh dana besar.

ddd
Kamis, 1 Agustus 2013, 19:20
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum pernah meminta sejumlah dana untuk dana kongres tahun 2010
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum pernah meminta sejumlah dana untuk dana kongres tahun 2010 (VIVAnews/Muhamad Solihin)

VIVAnews - Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia, Denny Januar Ali, Kamis, 1 Agustus 2013. Denny diperiksa sebagai saksi dalam kasus gratifikasi proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Usai menjalani pemeriksaan, Denny mengaku turut membantu mantan Ketua Umum Demokrat, Anas Urbaningrum, saat penyelenggaraan Musyawarah Nasional Partai Demokrat tahun 2010.

"Saya dipanggil sebagai saksi untuk kasus Anas Urbaningrum selaku konsultan politik yang tempo hari ikut membantu Anas menang di Munas Demokrat tahun 2010," ujar Denny.

Denny mengaku banyak hal yang ditanyakan oleh penyidik termasuk masalah sumber dana. Karena banyak program yang dibuat oleh Anas saat itu, maka biaya yang dikeluarkan cukup banyak. Oleh karena itu Denny berinisiatif untuk membantu menyumbang dana untuk Anas.

"Ditanya siapa yang memberi dana itu. Saya katakan yang sebenarnya bahwa dana itu adalah dana saya pribadi karena Anas datang kepada saya selaku teman minta dibantu. Saya membantu sebagai teman dengan dana saya sendiri," ungkap Denny.

Meski demikian Denny enggan membeberkan berapa jumlah dana yang ia sumbangkan untuk pemenangan Anas waktu itu.

"Jumlahnya tidak besar, tapi cukup efektif. Justru di situ seninya. Saya sudah katakan kepada KPK berapa jumlahnya. Di luar itu saya tidak tahu menahu," tegas dia.

Denny juga membantah ada timbal balik dari sumbangan dana tersebut. Ia menegaskan bahwa uang yang disumbangkan kepada Anas bukan berasal dari BUMN.

"Anas datang selaku teman dan saya bantu dia selaku teman. Cukup ya," kata Denny.

KPK menetapkan Anas sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi Hambalang pada 22 Februari lalu. Anas diduga melanggar Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal ini mendefinisikan gratifikasi dalam arti luas, yakni pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. (eh)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru