NASIONAL

Bacakan Nota Pembelaan, Terdakwa Penyuap Luthfi Hasan Nangis

Arya Effendy mengaku tersiksa selama menjalani proses hukum.

ddd
Rabu, 19 Juni 2013, 16:57
Direktur PT Indoguna Utama, Arya Abdi Effendi
Direktur PT Indoguna Utama, Arya Abdi Effendi (ANTARA/Wahyu Putro A)

VIVAnews - Terdakwa perkara suap impor daging sapi di Kementerian Pertanian, Arya Abdi Effendy, meminta majelis hakim mempertimbangkan vonis atau putusan akhir yang seadil-adilnya. Hal itu disampaikan terdakwa dalam pledoi atau nota pembelaan pribadi berjudul "Sumbangan Kemanusiaan Berbuah Bui" di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Rabu, 19 Juni 2013.

"Saya mohon ketua mejelis hakim yang terhormat agar membebaskan saya dari segala tuntutan hukum. Namun jika ketua majelis hakim berpendapat lain, saya minta keringanan akhir putusan," kata Arya.

Dalam nota pembelaannya, Arya juga meminta maaf kepada ibunya yang tak lain adalah Bos PT Indoguna Utama, Maria Elisabet Liman, yang juga tersangka dalam kasus yang sama. Arya juga meminta kepada istrinya, agar tegar dan sabar mendidik anak-anaknya selama ia menjalani hukuman.

"Ibu yang sekaligus bos saya di PT Indoguna, saya minta maaf jika anakmu belum bisa membahagiakan. Istri saya Feby kamu harus sabar mendidik buah hati kita, karena saya bukan koruptor, jadi jangan malu untuk memaafkan saya," pintanya sambil mengusap air mata.

Arya mengaku tersiksa selama menjalani proses hukum karena jauh dari anak-anaknya. Ia merasa proses hukum yang didakwakan kepadanya tidak adil.

"Saya tidak mengerti atas proses hukum ini, saya seorang pengusaha bukan politisi," katanya.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Arya Abdi Effendy selaku Menejen Operasional PT Indoguna Utama dan Juard Effendi, Direktur SDM dan Urusan Umum PT Indoguna Utama, dengan pidana penjara selama 4,5 tahun.

Keduanya terbukti memberikan suap sebesar Rp1,3 miliar kepada penyelenggara negara, yakni Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera dan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq. (ren)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
fan_fan
19/06/2013
TERBUKTI Uang suap itu tdk sampai ke tangan Anggota Komisi I DPR Fraksi PKS dan Presiden PKS. sebenarnya uang itu utk pribadi Fathanah (Makelar) dgn mencatut nama LHI. untungnya itu bukan uang negara tapi uang pengusaha. jd negara tdk rugi 1 rupiah pun.
Balas   • Laporkan
laifar | 20/06/2013 | Laporkan
tumben ga beo komentarnya... tapi maksa banget sih belain LHI... kasihan ngelihat lo
preemption
19/06/2013
bener sih bukan koruptor tapi mencari keuntungan lewat koruptor jadi ya bisa dibilang 11-12 lah
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com