NASIONAL

Densus Diminta Pelajari Cara FBI Tangkap Pengebom Boston

Densus dikritik selalu menembak mati sasaran.

ddd
Jum'at, 10 Mei 2013, 07:05
Densus saat menggerebek teroris di Bandung.
Densus saat menggerebek teroris di Bandung. (ANTARA)

VIVAnews – Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, kembali mengkritik Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri. Menurutnya, Densus terkesan tidak profesional, membabi-buta, dan selalu menembak mati sasarannya dalam upaya mereka memberantas teroris.

Din berpendapat, cara-cara seperti itu akhirnya membuat aktor intelektual dari aksi terorisme tidak terungkap. “Maka terjadilah pelestarian terorisme dan pelanggengan pemberantasan terorisme itu,” kata Din kepada VIVAnews, Jumat 10 Mei 2013.

Din menyatakan, semua pihak tentu mendukung pemberantasan terorisme karena terorisme adalah musuh bangsa dan negara, serta kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan

Namun pendekatan pemberantasan terorisme terhadap terduga teroris harus profesional, transparan, tidak melanggar hukum dan HAM, melabrak simbol-simbol keagamaan, dan sungguh-sungguh bertujuan menyingkap dalang utama,” kata dia.

Din meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88 belajar dari cara FBI mengejar dan menangkap tersangka pelaku bom Boston di Amerika Serikat belum lama ini.

Dalam kasus tersebut, FBI mengejar tersangka teroris berdasarkan fakta yang ada. “Kemudian dilakukan pengejaran, pengepungan, dan penangkapan untuk selanjutnya dilakukan proses hukum sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.

Menurut Din, FBI melakukan pemberantasan terorisme melalui penegakan hukum, tidak menggunakan upaya penggerebekan atau penembakan berlebih yang justru mengakibatkan sasaran tewas. Untuk diketahui, dari dua pengebom Boston yang ditangkap, satu berhasil dirungkus hidup-hidup sementara satu lainnya tewas.

“Tapi kalau di Indonesia begini terus (terduga teroris ditembak mati), maka warga negara terduga dan tersangka teroris akan mati sia-sia karena tidak dapat dilakukan investigasi untuk menyingkap aktor intelektual di belakang gerakan terorisme di Indonesia,” kata Din.

Sebelumnya, polisi membongkar jaringan Abu Roban dan menangkap kelompok teroris itu sejak Rabu, 8 Mei 2013. Sejumlah anggota kelompok itu tewas dalam penggerebekan.

Jaringan Abu Roban terungkap dari hasil pengembangan penyelidikan dan penyidikan Densus 88 terhadap sejumlah aksi teror. Densus mendapat temuan baru setelah menelisik jejaring teroris dari kelompok Toriq, kelompok Abu Omar, dan kelompok Kodrat. Sejumlah petunjuk mengarah ke target baru, yaitu kelompok Abu Roban. (ren)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
b.label80
10/05/2013
hehehe...pak din pura2 ngak tau kali...lho aktor intelektualnya di belakang teroris itu ya pemerintahan SBY ber konspirasi dengan Amrik dengan tujuan yang sangat komplit sekali..
Balas   • Laporkan
anakbaik
10/05/2013
Ga usah comment lahh boss, kenapa sih harus dibahas dan dibanding-bandingin sama luar negeri punya. Yg penting kan tujuannya sama, pemberantasan terorist..
Balas   • Laporkan
arya08
10/05/2013
tidak ada agama yang mengajarkan terorisme, yang mendukung terorisme tidak punya agama
Balas   • Laporkan
artstyle | 10/05/2013 | Laporkan
yang ada atas nama jihad! mestinya definisi jihad dikaji lagi, sehingga tidak disalahgunakan oleh org2 yg tdk bertanggungjawab.
mr_paidjo
10/05/2013
Namanya Juga Nggak Profesional,, Kalau Sudah Tau pasti Orangnya Ngapain pakai Acara di Grebek Segala,,, tinggak ciduk di Jalan,,,, SANDIWARA yang nggak Elit Persis Kerjaan YAHUDI...
Balas   • Laporkan
kuspomo.sadon
10/05/2013
saatnya dibentuk Densus 99 buat berantas preman pak.....
Balas   • Laporkan
grd1589
10/05/2013
Lah fbi sendiri nembak mati 1 pelaku jg. Sama aj bung. Troris klo digrebek ngelawan sambil nembakin densus. Ya gmn ga dibales tembak?
Balas   • Laporkan
kuspomo.sadon
10/05/2013
good jobs pak polisi, tapi memberantas preman kok susah amat ya pak...? rakyat semakin gatal aja...jangan jangan ada....
Balas   • Laporkan
frogman
10/05/2013
ada benernya juga,tp kalo udah dilapangankan kondisi beda,masalahnya udah kill or be killed,ngademin teroris b'senjata n punya bom,harus gimana coba,,,,atau si din ini suruh praktekin dulu....
Balas   • Laporkan
diana69
10/05/2013
Udahlah byk bacot, dah terusin DENSUS 88 ga usah dengerin dari pd terjadi lg pengeboman mendingan matiin aja tuh teroris... tdk usah menghubungkan dg simbol2 agama segala lah, krn ga ada satupun agama yg melegalkan terorisme, ingat dia tuh pembunuh!!!!1!!
Balas   • Laporkan
Taufik Hidayat
10/05/2013
Selain selalu "tembak mati" penyergapan beberapa orang teroris saja harus melibatkan lebih dari 1SSK Densus, lebih dari 1 SSK Brimob, 1Resmob dan sejumlah media massa. Kesannya koq seperti show of force ya...?
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru