NASIONAL

VIDEO: Kepsek Terjang Sungai, Susuri Hutan, Demi Ambil Soal UN

Inilah kisah perjuangan Kepala Sekolah di dusun terpencil di Semarang.

ddd
Selasa, 7 Mei 2013, 10:54
Samain, Kepala Sekolah yang menerjang sungai dan menyusuri hutan demi mengambil soal UN.
Samain, Kepala Sekolah yang menerjang sungai dan menyusuri hutan demi mengambil soal UN. (ANTV)

VIVAnews – Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan itu tak berlebihan bila melihat perjuangan Samain (45 tahun), Kepala Sekolah SD Negeri Candirejo 2 di Semarang yang berangkat pagi buta menerjang sungai tak berjembatan dengan sepeda motornya, guna mengambil soal Ujian Nasional untuk murid-muridnya.

Tidak hanya berbasah-basah menerjang sungai, sang Kepsek juga harus menyusuri hutan jati milik Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani) sejauh 22 kilometer untuk sampai ke sekolah tempatnya mengajar. Lihat perjuangan sang Kepala Sekolah di tautan video ini.

Hari masih gelap ketika Samain tiba di kantor Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, untuk mengambil soal Ujian Nasional SD.

Samain sudah 2,5 tahun menjadi Kepala Sekolah di SDN Candirejo 2. Setiap UN berlangsung, dia sengaja datang lebih awal untuk mengambil soal ujian di UPTD Pendidikan agar tak terlambat sampai sekolah.

Dengan beban naskah Ujian Nasional di tasnya, Samain harus ekstra hati-hati. Ceroboh sedikit saja, dia bisa terjatuh dan akibatnya bisa fatal bagi anak didiknya yang menanti soal ujian yang ia bawa. Perjuangan Samain membawa soal UN menjadi lebih berat karena jembatan di Sungai Jragung di Dusun Sapen yang terpencil, putus.

Putusnya jembatan itu menyebabkan akses jalan dari UPTD Pendidikan ke SDN Candirejo 2 terputus. Itulah yang menyebabkan Samain harus menerjang sungai dengan sepeda motornya. Hal ini harus dilakukan Samain selama tiga hari berturut-turut selama pelaksanaan Ujian Nasional SD.

Oleh sebab itu Samain berharap cuaca bersahabat dan tidak turun hujan selama tiga hari ini. Bila hujan turun, arus Sungai Jragung akan lebih deras bahkan meluap sehingga sungai itu tak bisa ia lewati. Bila sudah demikian, Samain terpaksa menggunakan jalur memutar ke wilayah Demak yang memerlukan waktu dua jam perjalanan.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
sekhan.as
08/05/2013
Tidak semua guru bisa digeneralisir begitu, bersikap obyektif lebih bagus dari pada menghina, mencaci yang tidak semua benar, guru yang baik masih banyak. Tidak semua Guru tidak gila hormat, kehormatan itu karena kemuliaan akhlaknya.Kalau menuntt hak wjr.
Balas   • Laporkan
harsa
07/05/2013
ini baru boleh naik gaji... kalo yang dijakarta mah guru bodo dan gak pantas dihormat... udah enak, minta naik gaji maksa pula
Balas   • Laporkan
dulkamid
07/05/2013
Ini namanya idealis dan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Bukannya nekad nerjang aturan nilep BOS, ngobyek buku paket, maksa dan ngancam murid les, malak uang bangku dan gedung, nyumbang sukarela a la mafia dan ancam mogok ngajar demi naik gaji tunjangan.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru