NASIONAL

VIDEO: Vrij Man, Sejarah Preman di Indonesia

Sejarah preman terentang sejak masa kolonial Belanda. Dahulu vrij man.

ddd
Jum'at, 12 April 2013, 09:54
Polisi menangkapi preman.
Polisi menangkapi preman. (TV One)

VIVAnews – Sepekan belakangan kepolisian gencar menangkap para preman. Mereka dicokok dari berbagai lokasi. Terminal, bus kota dan warung-warung pinggir jalan. Selain memberi rasa aman kepada warga, operasi  ini sekaligus jawaban atas perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo, agar segera membersihkan tempat-tempat umum dari preman.

Aksi para preman ini memang sudah keterlaluan dan meresahkan masyarakat. Mereka berulah dalam berbagai modus. Dari juru parkir hingga menjadi pengamen di angkutan umum yang meminta uang kepada penumpang dengan nada mengancam ( Baca: Modus Aksi Para Preman).

Dan modus-modus seperti itu sesungguhnya bukan taktik baru. Semenjak kelompok preman ada di Indonesia, berbagai modus itu sudah marak (Nonton Video Akar Sejarah Preman di Indonesia)

Apa kata Kriminolog

Preman kerap memeras, menganiaya, bahkan membunuh. Fenomena preman di Indonesia mulai berkembang saat kondisi ekonomi semakin sulit dan angka pengangguran semakin tinggi. Akibatnya, ada kelompok masyarakat yang mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan dengan membuka agen penyedia jasa yang menyediakan layanan kemananan. Pada praktiknya, orang-orang dari agen tersebut memeras bahkan mengancam warga untuk menjamin keamanan bagi segelintir orang lainnya.

Kriminolog Erlangga Masdiana mengatakan, preman di Indonesia dikenal sebagai orang yang sering berbuat onar, mengganggu keamanan, dan memanfaatkan berbagai macam cara untuk kepentingan ekonomi mereka. Parahnya, preman-preman ini justru kerap dibekingi atau dimanfaatkan oleh oknum tertentu demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Istilah “preman” yang kini digunakan di Indonesia sesungguhnya merupakan peninggalan kolonial Belanda. Preman berasal dari bahasa belanda “vrij man” yang berarti orang merdeka atau orang bebas. Persis seperti kata “free man” dalam bahasa Inggris. Namun label preman di masa sekarang dan di masa penjajahan Belanda, disematkan pada orang yang berbeda.

Di zaman kolonial, orang yang disebut preman adalah mereka yang membangkang pada pemerintahan kolonial. Banyak preman di masa itu justru merupakan pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, karena kata “vrij man” sulit diucapkan oleh lidah orang Indonesia, mala pelafalannya berubah menjadi “preman.”

Namun kini arti preman bergeser dan disematkan kepada mereka yang kerap berbuat onar dan meresahkan warga. Premanisme di kota-kota besar dianggal sebagai hal dilematis. Di satu sisi, keberadaan preman mengancam keamanan masyarakat. Tapi di sisi lain, aparat keamanan tidak tegas dalam memberantas preman.

“Preman itu gejala sosial dan sulit dihilangkan. Tapi bisa diminimalisir dan dikanalisasi,” kata Erlangga. Pertama, tak boleh ada oknum pejabat atau aparat yang justru membekingi dan memfasilitasi keberadaan preman. Kedua, penegak hukum harus konsisten menumpas preman.

Ketiga, orang-orang yang punya potensi menyimpang menjadi preman, energinya harus disalurkan dalam bentuk kegiatan positif. Jika pemerintah Indonesia tak punya cara efektif untuk memberdayakan preman di sektor ekonomi informal, maka bisa-bisa jumlah preman bakal terus bertambah.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
asemlegit
12/04/2013
klo dr dulu sy pengen usul, drpd TNI cuma latihan mlulu, perangnya kaga, mending tenaganya dipake utk berantas preman, caranya, penuhi tempat2 rawan dengan aparat ( polisi/ TNI ), persempit ruang gerak preman, masyarakat pasti tenang jika banyak aparat di
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id