NASIONAL

Di Jerman, Soeharto Pernah Didemo Tanpa Pengawalan

"Demonstran berjumlah 150 orang. Mereka adalah pelajar setempat,"

ddd
Rabu, 27 Maret 2013, 23:56
Presiden Soeharto (alm.)
Presiden Soeharto (alm.) (Wikimedia Commons)

VIVAnews - Tiga tahun sebelum Soeharto lengser dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia, tepatnya 5 April 1995, ia berkunjung ke Museum Zwinger di kota Dresden, Jerman.

Menurut  Wawan Indrawan, Wartawan LKBN Antara, yang bertugas untuk meliput kegiatan Presiden di Jerman, Presiden Soeharto pernah didemo tanpa pengawalan yang ketat.

"Saat presiden turun dari kendaraan, terlihat ada gerakan dari beberapa orang yang mencurigakan. Orang-orang itu berteriak-teriak, ketika presiden dan Ibu Tien serta rombongan memasuki pintu gerbang museum," ujar Wawan, dikutip dari buku 34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto.

Ia menuturkan, suara bunyian dari alat rumah tangga seperti panci, kentongan, dan pluit mulai nyaring. Tak lama suara-suara itu makin keras, diiringi teriakan-teriakan kasar.

"Diperkirakan jumlah demostran berjumlah 150 orang. Mereka adalah pelajar setempat," kata Wawan.

Wawan pun melihat wajah panik dari para pengawal presiden dan anggota rombongan lain. Saat itu pihak kepolisian Jerman tak banyak membantu pengamanan.

Hasilnya jarak demonstran dan presiden hanya dibatasi oleh Paspamres. Kalau dihitung jaraknya hanya dua sampai tiga meter saja dengan para demonstran.

"Di sini saya melihat kehebatan Pak Harto, dengan ciri khasnya, beliau tetap tersenyum. Beliau berusaha tenang dan tetap mengapit lengan Ibu Tien," kata Wawan.

Akhirnya untuk masuk dan keluar museum, para wartawan ikut mengamankan Presiden bersama Paspamres dan anggota rombongan dengan membentuk lingkaran pagar betis.

Dalam perjalanan menuju tanah air, Presiden Soeharto memberikan keterangan pers. Di sini pertama kalinya Wawan melihat kemarahan beliau yang sudah mencapai ambang tertinggi.

"Pak Harto menilai, tindakan dan ucapan para demonstran di Jerman tidak rasional. Bahkan ia mengatakan para demonstran itu sebetulnya seperti orang gila alias orang edan. Akhirnya kata-kata "edan dan gila" menjadi headline di seluruh media di Indonesia," kata Wawan. (eh)

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com