NASIONAL

Kronologi Serangan di LP Cebongan Versi Kontras

Empat orang tahanan tewas diberondong peluru pada Sabtu dini hari.
Minggu, 24 Maret 2013
Oleh : Antique, Dedy Priatmojo
Sejumlah petugas melakukan olah TKP setelah terjadi penyerbuan di Lapas 2B Cebongan, Sleman, Yogyakarta.
VIVAnews - Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengumumkan laporan hasil kunjungan mereka ke Lembaga Pemasyarakat Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Kompleks penjara ini menjadi lokasi penyerangan dan penembakan terhadap empat orang tahanan pada Sabtu dini hari.

Koordinator Kontras, Haris Azhar, mengatakan laporan ini disusun berdasarkan pengamatan lapangan pada Sabtu 23 Maret 2013 dan wawancara dengan pihak-pihak yang mengetahui kejadian yang mengakibatkan empat tahanan tewas dan delapan orang petugas LP yang luka-luka.

Menurutnya, penyerangan diperkirakan terjadi sekitar pukul 00.30 WIB, Sabtu dini hari. Kejadian itu bermula saat LP menerima kiriman 11 orang tahanan dari Polda Yogyakarta pada Jumat 22 Maret 2013. Dari 11 tahanan yang dipindahkan, empat di antaranya merupakan tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus di Hugos Cafe, Sleman.

"Saat itu juga Kepala LP Sukamto menelpon ke Polda mempertanyakan alasan pengiriman empat orang itu. Hal ini didasari firasat buruk seperti peristiwa OKU berulang," kata Haris di kantor Imparsial, Jakarta, Minggu 24 Maret 2013. Dijawab Polda bahwa mereka akan mem-back up pengamanan LP.

Sukamto, menurut Haris, berprasangka baik atas jawab Polda yang akan mengirim back up pengamanan di LP, baik dari personel polisi maupun intel Polda DIY. Meski sebelumnya, polda tidak pernah menitipkan tahanan ke LP, karena mereka memiliki tahanan sendiri. Hanya Kejaksaan yang biasa menitipkan tahanan di LP tersebut.

Kemudian pada sekitar pukul 00.30, Sabtu dini hari kondisi LP hanya dijaga sekitar delapan orang, dua di antaranya di meja piket. Datanglah seseorang ke pintu gerbang LP. Orang tersebut menunjukkan surat polda dan mengatakan ingin koordinasi tentang tahanan yang tadi pagi dititipkan ke LP.

Penjaga piket pun langsung memanggil kepala keamanan untuk berkoordinasi membuka pintu LP, karena ada orang yang mengaku membawa surat dari Polda. Setelah dibuka, ternyata gerombolan orang yang diperkirakan sebanyak 17 orang masuk ke LP secara paksa.

"Mereka berpakaian bebas, bercelana jeans, bersenjata laras panjang dan muka ditutup," ujar Haris.

Mereka menodongkan senjata ke arah petugas LP dan meminta agar menunjukkan sel tahanan yang baru dititipkan Polda Jumat pagi. Beberapa petugas mengaku tidak tahu sel tahanan titipan Polda.

Namun, mereka dipaksa untuk menunjukkan. Bahkan, gerombolan ini mengancam dengan granat.

"Akhirnya, di antara petugas ada yang mengaku mengetahui dan menunjukkan selnya. Letaknya di sel 5A. Kuncinya diambil paksa dan dipaksa mengantar," tutur Haris.

Setibanya di sel 5A, sebanyak 35 orang tahanan yang mendekam di sel itu langsung ditanya, bagian mana yang dihuni para pelaku pembunuhan di Hugos Cafe.

Haris menuturkan, terjadi kepanikan dan kegaduhan saat itu, hingga empat orang memisahkan diri.

Mereka langsung ditembak di hadapan para penghuni lainnya. "Pelaku yang mengeksekusi korban hanya satu orang," tutur Haris.

Rusak CCTV

Setelah itu, gerombolan lain langsung menyeret petugas LP untuk menunjukkan ruang kontrol kamera pemantau (CCTV). Petugas itu mengaku tidak tahu dan hanya diketahui oleh Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas).

Seketika itu, gerombolan langsung meminta petugas LP menunjukkan ruang Kalapas yang berada di lantai dua. Gerombolan itu mendobrak ruang Kalapas dan merusak kontrol CCTV dan mengambilnya.

"Keseluruhan penyerangan itu hanya dalam 15 menit. Ada salah satu penyerang yang bertugas sebagai time keeper. Saksi mengatakan bahwa ada salah satu petugas yang berulang-ulang melihat jam tangannya," ujar Haris.

Dari kejadian di atas, terdapat keterangan tambahan yang menyebutkan para pelaku melompat pagar LP, karena malam itu pagar LP terkunci. Bahkan dari kesaksian warga sekitar, suara tembakan itu terdengar hingga keluar LP. Ditambah lagi, warga melihat ada tiga truk berada dekat LP.

"Diduga jumlah penyerang lebih dari 17 orang. Estimasi 17 orang hanya teridentifikasi dari korban yang menyaksikan kejadian itu," tambahnya.

Di samping itu kondisi geografis LP berada di daerah yang agak sepi dari lingkungan penduduk dan dan tidak terlihat lampu jalan yang menerangi di malam hari. Di sebelah kanan LP, hanya ada rumah besar dan tanah kosong, sedangkan di halaman kiri hanya ada tanah kosong dan kebun.

Beberapa Kesimpulan

Dari rangkaian fakta di atas, Haris menyimpulkan, beberapa hal yang bisa didalami aparat. Pertama bahwa target pembunuhan adalah empat orang pelaku pembunuhan anggota Kopassus, Sertu Santoso. Diduga ada motif dendam.

Kedua, ada serangkaian tindak kekerasan yang dilakukan terhadap petugas LP.

Ketiga, penyerangan dilakukan secara terencana. Misalnya dengan menyiapkan 'surat dari Polda' dan pembagian tugas dari 17 pelaku penyerangan, sampai ada salah seorang yang khusus mengontrol waktu penyerangan.

Keempat, penyerangan memiliki informasi yang baik soal lokasi LP dan memiliki persenjataan tempur yang tidak mungkin dimiliki oleh warga sipil biasa.

Kelima, polisi membuat kebijakan yang aneh dengan mengirimkan tersangka ke LP hanya dalam waktu tiga hari setelah pengeroyokan di kafe. Padahal, tindakan ini tidak lazim dilakukan Polisi. Dan mereka tidak mendukung keamanan LP. Terbukti, saat penyerangan terjadi tidak ada satu pun petugas kepolisian yang berjaga di sekitar LP.

"Apakah Polda DIY sudah mengetahui bahwa akan ada rencana eksekusi terhadap empat tahanan tersebut. Polda DIY perlu diperiksa," tegas Haris. (ren)
TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found