NASIONAL

Eks Kepala RS Polri: Tak Ada Istilah Narkoba Jenis Baru

"Yang ada narkotika turunan dari yang terdahulu."

ddd
Rabu, 30 Januari 2013, 11:16
Methylenedioxymethcathinone yang dikonsumsi Raffi Ahmad merupakan turunan cathinone.
Methylenedioxymethcathinone yang dikonsumsi Raffi Ahmad merupakan turunan cathinone. (TV One)

VIVAnews – Mantan Kepala Rumah Sakit Polri yang pernah aktif di Badan Narkotika Nasional, Prof DR Dr Salamun Sastrawikarta, mengatakan bahwa tidak ada istilah narkoba jenis baru. Yang adalah narkotika turunan dari yang sudah ada sebelumnya.

“Obat-obatan selalu terkait pada obat sebelumnya. Selalu ada rumus kimianya. Jadi tidak ada istilah narkoba jenis baru, melainkan obat turunan dari obat terdahulu dengan efek yang sama atau lebih kuat,” kata Salamun kepada VIVAnews, Rabu 30 Januari 2013.

“Riset tentang narkotika selalu berkembang seiring dengan majunya ilmu pengetahuan,” kata dokter lulusan Universitas Indonesia yang meraih gelar European Public Health Master itu. Menurutnya, masuknya zat turunan narkotika apapun di Indonesia memang harus diawasi.

“Semua jenis obat-obatan yang beredar di wilayah Indonesia harus diketahui keberadaannya oleh instansi resmi Indonesia, yaitu Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan,” ujar Salamun yang juga mengelola Pusat Rehabilitasi Korban Narkoba di Pondok Pesantren Modern Darul Ihsan yang ia dirikan sejak tahun 1996.

BNN sendiri saat ini tengah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan dan BPOM untuk melacak masuknya methylenedioxymethcathinone, narkotika turunan cathinone, di Indonesia. BPOM juga diminta mengawasi sejauh mana peredaran methylenedioxymethcathinone di Indonesia.

Seperti dikatakan Lula Kamal, dokter spesialis adiksi dan ketergantungan narkoba, methylenedioxymethcathinone baru terungkap ada di Indonesia dengan adanya kasus penggerebekan di rumah Raffi Ahmad. Namun sesungguhnya zat itu sudah dipatenkan sejak tahun 1996.

“Obat itu tidak ngetren di kita, bukan mainan kita. Tapi di luar negeri banyak. Di Indonesia, yang populer shabu, amfetamin, ekstasi,” kata Lula. Sependapat dengan Salamun, menuru Lula narkotika selalu diperbarui.

“Dalam dua-tiga tahun, pasti ada yang baru. UU Narkotika di Indonesia yang dibuat tahun 2009 kemungkinan tidak bisa mengakomodir semua turunan,” ujar dokter lulusan King’s College, London, itu.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
judi
30/01/2013
semua pihak terkait tidak perlu memberi penjelasan tentang harga dan apappun tentang narkoba bisa memicu memakai oleh generasi muda dan lainnya.
Balas   • Laporkan
punyaku | 30/01/2013 | Laporkan
kita ini hidup dijaman informatika...jangan dibilang gatek...


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id