NASIONAL

Jenderal (Purn) Wiranto

-

ddd
Jum'at, 6 Maret 2009, 17:07
Wiranto
Wiranto (VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis)

10 Fakta Tentang Wiranto
1. Lahir di Yogyakarta, 4 April 1947
2. Sang Ibu memberi nama Wiranto yang merupakan gabungan dari nama Wira dan Anto yang artinya anak yang berani
3. Bercita-cita menjadi arsitek tapi gagal. Masuk Akademi Militer Magelang tahun 1965 dan lulus 1967.
4. Saat bertugas di Gorontalo menjadi Komandan Infanteri 713, dia bertemu dengan Rugaiya Usma yang kemudian dinikahinya.
5. Menjadi ajudan Presiden Soeharto sejak Oktober 1993-1994
6. Menjadi Panglima ABRI 15 Februari 1998
7. Dipecat Presiden Abdurrahman Wahid dari Menko Polkam April 2000
8. Calon Presiden Golkar 2004 tapi gagal di putaran pertama
9.Tanggal 22 Desember 2006 Mendirikan Hanura
10. Mendeklarasikan diri sebagai calon presiden

Percobaan Kedua Menuju Istana


VIVAnews - Jenderal Purnawirawan Wiranto. Dialah salah satu tokoh yang memahami begitu banyak rahasia di balik lengsernya Presiden Soeharto pada 21 Mei 2008.  Saat itu dia menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata, kekuatan yang menopang kekuasaan Presiden Soeharto selama 32 tahun. Dia banyak tahu mengapa akhirnya Jenderal Besar itu lengser dari kursi Presiden.


Wiranto bahkan, ini menurut pengakuannya, mendapat surat perintah dari Soeharto mengambil alih kekuasaan. Tapi entah kenapa dia tidak mengunakan “wasiat”  yang bisa mengantarnya ke pucuk republik itu. Tiga tahun setelah kejatuhan Soeharto, Jenderal Wiranto dipecat Presiden Abdurrahman Wahid dari kursi Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan.

Tapi sebagaimana tokoh Orde Baru lainnya, Wiranto belum tamat. Tahun 2004 dengan sekuat tenaga dia berusaha menang di Konvensi Golkar. Sukses. Tapi jenderal bintang empat ini kandas di pemilihan umum tahap pertama. Yang melaju ke putaran akhir Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai  mantan panglima TNI, Wiranto tentu paham betapa pentingnya membangun pasukan sendiri untuk bertempur. Mungkin itu sebabnya, dia membidani lahirnya partai Hati Nurani Rakyat yang lebih sohor dengan akronimnya Hanura. Hanura disebut banyak pengamat sebagai partai baru yang paling siap bertarung dalam Pemilu 2009. Walau tidak  nomor wahid, dalam berbagai jajak pendapat calon Presiden nama Wiranto kokoh  dalam lima besar. Pemilu 2009 adalah percobaan kedua Jenderal (purn) Wiranto merebut kursi Presiden.

Lahir di kota Gudeg, Yogyakarta, 4 April 1947, sejak kecil Wiranto diharapkan jadi manusia pemberani. Ayahnya bernama Wirowiyoto, seorang kepala sekolah rakyat (SR) dan ibunya bernama Suwarsijah. Sang ibu memberinya nama Wiranto yang merupakan gabungan dari Wira dan Anto yang artinya anak yang berani. Si pemberani ini anak keenam dari sembilan bersaudara.

Besar di lingkungan keluarga sederhana membuat Wiranto bekerja keras sejak belia. Dia  pernah menjadi loper koran untuk membayar uang sekolah. Sejak kecil bermimpi jadi arsitek. Kandas lantaran kurang uang. Dia lalu memilih jadi tentara. Tahun 1965 dia masuk Akademi Militer Nasional(AMN) di Magelang, Jawa Tengah. Lulus 1967.

Karir militernya merangkak dari Gorontalo di Sulawesi. Tahun 1968 dia ditugaskan di sana sebagai Komandan Peleton di Batalyon Infanteri 713. Di daerah kaya rempah-rempah itu dia bertemu Rugaiya Usman, putri seorang petani kelapa, yang kini memberinya dua puteri dan seorang putera.

Karir militer Wiranto  melaju pesat setelah jadi ajudan Presiden Soeharto Oktober 1993. Dia menjadi  Kepala Staf Komando Daerah Militer Jakarta Raya hingga November 1994. Tahun 1994, Wiranto menjadi Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya). Dua tahun kemudian, Wiranto dipromosikan menjadi Panglima Kostrad. Hanya setahun menjabat Pangkostrad, Wiranto melaju ke kursi Kepala Staf Angkatan Darat.

Di tengah badai krisis ekonomi  dan tensi politik yang mendidih, Soeharto mengangkat Wiranto menjadi Panglima ABRI pada 15 Februari 1998. Dia dituding sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas kerusuhan 13-14 Mei 1998. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia pernah memanggilnya untuk menjelaskan tragedi itu. Tapi  Wirantanto membantah, “Semua orang tahu bagaimana peran saya saat 1998. Jika saya salah bertindak, Indonesia sudah hancur berkeping-keping.” Dia juga membela diri lewat bukunya Bersaksi di Tengah Badai.

Wiranto juga tersangkut kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia saat kerusuhan pasca Jajak Pendapat di Timor Timur 1999.  Dia lolos. “Semua jenderal yang dianggap terlibat dalam kasus pelanggaran HAM di Timor Leste telah diperiksa oleh Mahkamah Militer Luar Biasa dan semuanya dianggap tidak bersalah," kata Wiranto. Belakangan hari, pada 2003, Unit Kejahatan Serius bentukan Perserikatan Bangsa-bangsa di Timor Timur menuduh Wiranto bersalah sehingga keluar surat perintah penangkapan untuknya. Surat perintah ini kemudian dianulir Presiden Timor Leste terpilih, Xanana Gusmao.

Namun di bawah Habibie dengan Wiranto sebagai Panglima TNI, Indonesia berhasil menggelar Pemilihan Umum 1999 dengan aman dan sukses. Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan komposisi baru terbentuk. Laporan pertanggungjawaban BJ Habibie -- yang berniat mencalonkan diri menjadi presiden dengan Wiranto – ditolak MPR. Habibie gagal. Abdurrahman Wahid naik ke kursi presiden yang kemudian digantikan Megawati Soekarnoputri.

Pada 22 Desember 2006, Wiranto mendeklarasikan berdirinya Hanura. Wiranto menjadi Ketua Umum. Sebagian petingginya pensiunan petinggi militer. Jajaran ketua antara lain Jenderal purnawirawan Fahrul Razi, Jenderal purnawirawan Soebagyo H.S., Laksamana purnawirawan Kent Sondakh, Jenderal Polisi purnawirawan Chaeruddin Ismail, Marsekla Madya purnawirawan Budhy Santoso, dan Letnan Jenderal purnawirawan Suaidi Marasabesi. Ada juga para politisi senior, seperti Nico Daryanto (mantan pengurus Partai Amanat Nasional) dan Djafar Badjeber (pendiri Partai Bintang Reformasi).

Hanura lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum dan berlaga dengan 37 partai lain dalam Pemilu 2009 nanti. Hanura maju sebagai kontestan dengan nomor urut 1. Hanura dinilai Lembaga Survei Nasional (LSN) sebagai partai baru yang paling siap untuk mengikuti Pemilu. Survei yang dilakukan Indonesian Research and Development Institute (IRDI) pada Juni 2008 juga menunjukkan Hanura sebagai partai baru paling populer dengan  persentase 11,45 persen. Bandingkan dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang jor-joran beriklan namun hanya dikenal 1,14 persen responden.

Namun ketika berhadapan dengan partai-partai mapan, Hanura harus mengaku keok. LSN mensurvei, hanya 4,5 persen responden yang percaya Hanura akan membuat perekonomian Indonesia lebih baik. Bandingkan dengan Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang masing-masing dipercaya 23 persen responden akan membuat perekonomian Indonesia lebih baik.

Wiranto sebagai Ketua Umum pun tidak terlalu menjual. Wiranto berada di tempat ketiga setelah Megawati dan Sultan Hamengkubuwono X dalam hal kepercayaan publik akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Wiranto dipercaya 18,3 persen, Sultan 21,9 persen dan Megawati 26,5 persen. Ketiganya lebih baik dari Sutiyoso (posisi 4), Prabowo Subianto (5), Hidayat Nur Wahid (6), Amien Rais (7), Akbar Tandjung (8), Jusuf Kalla (9) dan Abdurrahman Wahid (10).

Namun dalam polling yang dilakukan LSN ini, Susilo Bambang Yudhoyono tak dimasukkan sebagai tokoh yang disurvei. Dari sisi pengenalan tokoh oleh publik, LSN menemukan dalam survei pada Juni 2008, Wiranto berada di posisi nomor 6 di bawah Amien Rais. Pertama adalah Megawati, lalu berikutnya Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur, Jusuf Kalla dan Amien Rais. Dari segi kepantasan, Wiranto berada di urut ketiga setelah Yudhoyono di tempat pertama dan Megawati di tempat kedua. Walhasil Wiranto maju dengan modal pas-pasan.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id