NASIONAL

Guru Besar UI Kritik Ujian Nasional

Justru membuat anak tak dapat bersaing di skala internasional.
Minggu, 25 November 2012
Oleh : Mohammad Adam, Nila Chrisna Yulika
Ujian Nasional di Jakarta pada April 2012 lalu.

VIVAnews - Sebanyak 17 guru besar seluruh Indonesia yang tergabung dalam Koalisi Damai Reformasi Pendidikan memberikan petisi dan mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia.

Menurut Guru Besar Fakultas Ekomoni Universitas Indonesia, Prof. Mayling Oey Gardiner, Ujian Nasional (UN) justru membuat anak tak dapat bersaing di skala internasional. Pasalnya, UN hanya mencetak anak yang pandai menghafal.

"UN membuat anak murid menjadi tidak bisa bersaing dengan murid luar negeri karena anak murid hanya menghafal untuk ujian saja. Jadi tidak mendapat apa-apa," kata Mayling dalam diskusi Petisi Reformasi Pendidikan 2012 di Jakarta, Minggu, 25 November 2012.

Sistem pendidikan di Indonesia, kata Mayling, tidak mengajarkan keindahan pendidikan di luar sekolah seperti museum, tradisi, dan budaya. Yang ditekankan, kata Meyling, hanya menghafal.

Menurut Mayling, Ujian Nasional untuk SD dan SMP harus dihapuskan. Bukan UN yang menjadi masalah, melainkan akibatnya. Pasalnya, nilai-nilai UN juga dapat dimanipulasi. "Jadi guru bisa naik pangkat kalau hasil kebohongan UN anak didiknya bagus, begitu juga dengan kepala sekolah dan kepala dinas. Keterkaitan itu harus dihapus. Tidak ada gunanya anak SD itu harus diambil melalui nilai UN," kata Meyling.

Apalagi, UN juga hanya menghasilkan tekan-tekanan psikologis bagi anak-anak. Padahal, menurut Mayling para orangtua ingin anaknya memiliki karakter dan kreativitas yang terus berkembang. "Tapi bagaimana, untuk lulus UN saja dipenuhi dengan tekanan," kata Mayling.

Berbagai masalah yang muncul dari UN, menurut Mayling, harus diakhiri secepatnya. Menurutnya konflik kepentingan dan anggaran UN terlalu banyak.

"Yang mengerjakan soal dibayar, yang bagikan soal dibayar. Jadi semua dibayar dan butuh anggaran besar. Jadi masyarakat menghadapi tembok besar ini," kata Mayling.

 

 

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found