TUTUP
TUTUP
NASIONAL

Kelompok Pathuk, Pengibar Merah Putih Pertama di Istana Yogya

Bangsa ini merdeka tak hanya melalui perang, tapi juga peran pemuda.
Kelompok Pathuk, Pengibar Merah Putih Pertama di Istana Yogya
Imam Yudotomo, pakar sosialisme Indonesia sekaligus anak salah satu anggota kelompok Pathuk. (VIVAnews/Erick Tanjung)

VIVAnews - Sudah 67 tahun Indonesia merdeka, selama itu pula banyak pahlawan yang luput dikenang. Bangsa ini merdeka tidak hanya melalui perjuangan bersenjata, tapi juga peran pemuda terpelajar. Mereka pemberani dan bersemangat besar mewujudkan kemerdekaan bangsa.

Salah satunya, adalah sekelompok pemuda terpelajar yang dikenal sebagai Kelompok Pathuk. Kelompok ini pada masa penjajahan Jepang tahun 1942 hingga zaman kemerdekaan selalu berkumpul di kampung Pathuk, di sisi barat Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Pegiat dan pakar sosialisme yang juga anak salah satu anggota kelompok Pathuk, Imam Yudotomo, dalam perbincangan dengan VIVAnews menceritakan, kelompok Pathuk ini adalah "gerakan bawah tanah yang dipimpin oleh Bung Sjahrir yang menolak bekerjasama dengan Jepang".

Berbeda dengan gerakan bersenjata, Sjahrir dengan kelompok Pathuk kala itu berpandangan bahwa bangsa Indonesia sebentar lagi akan merdeka dan tidak perlu perang bersenjata melawan Jepang, sebab yang berkuasa adalah sekutu yang telah menang perang dunia kedua. Indonesia tidak akan kuat berperang melawan sekutu pada saat itu, karena kekuatannya sangat besar.

"Menurut Sjahrir tugas bangsa adalah menyiapkan kader-kader yang akan jalankan tugas negara saat kemerdekaan datang. Karena itu, Sjahrir membuat jaringan di seluruh Indonesia. Jaringannya pemuda-pemuda yang memiliki kekuasaan di sektor penting, telekomunikasi, buruh kereta, dan sebagainya,” kata Imam Yudotomo di rumahnya, Yogyakarta, Sabtu 10 November 2012.

Ia menuturkan, Bung Sjahrir memiliki janringan di beberapa kota di Indonesia. Di Surabaya Sjahrir memiliki jaringan pemuda bernama Johan Syahrusah. Johan memiliki kontak di Semarang, bernama Tobing dan Sunjono yang bekerja di Pusat Telekomunikasi. Dari Tobing inilah, Sunjoyo di Yogyakarta membuat Kelompok Pathuk yang beranggotakan KRT Yosodiningrat (yang lalu diangkat menjadi wakil menhan), Umar Joy, Dayino, Muhammad Tohib (ayah Imam Yudotomo), dan Sjam Kamaruzzaman (salah satu tokoh paling kontroversi dan misterius dalam gerakan Partai Komunis Indonesia).

“Sjam kala itu masih sangat muda. Kalau diskusi, duduknya paling pojok, hanya dengerin dan nggak pernah bicara,” kata Imam Yudhotomo.

Di sisi lain, pada saat itu Soeharto (mantan presiden), adalah Komandan Batalyon X. Dan Sunjoyo adalah seorang pemuda pemberani, yang memimpin penculikan terhadap sejumlah pemuda yang menjadi antek-antek Jepang. Pemuda-pemuda pribumi yang menjadi pengikut Jepang itu diculik dan dibawa ke Pleret untuk ditelanjangi dan dipaksa berjalan pulang untuk memberi pelajaran.

"Kedekatan Soeharto dengan kelompok Pathuk ketika Sunjoyo memimpin perebutan 26 pucuk senjata milik Pustel dan kemudian diserahkan kepada Soeharto selaku komanda Batalyon X. Ini yang membuat Kelompok Pathuk dikenal sebagai kelompok yang melahirkan orang-orang kontroversial dalam perjuangan bangsa,” kata Imam.

Pada saat Kemerdekaan Agustus 1945, istana negara Gedung Agung Yogyakarta masih dikuasai Jepang. Dan pertengahan September 1945, Kelompok Pathuk memimpin pengibaran bendera merah putih untuk pertama kalinya di Yogyakarta.

Kala itu yang bertugas mengibarkan bendera, ada pelukis terkenal Indonesia, Rusli. Sementara di istana negara itu masih banyak tentara Jepang yang berjaga-jaga. Namun, atas kedekatan Sunjoyo dengan Soeharto, Presiden RI kedua itu menjamin keamanan kelompok Pathuk dari tentara Jepang kala itu.

“Itulah peran penting kelompok Pathuk dalam perjuangan kemerdekaan yang jarang ketahui,” ujarnya.

Di kemudian hari, para aktivis Pathuk banyak berpindah ke Jakarta. Sunjoyo, di kemudian hari dituduh terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan kemudian melarikan diri ke Belanda. Setelah Soeharto berkuasa, dia pulang dan bergabung dengan Orde Baru.

Dalam perkembangannya, Sunjoyo diangkat sebagai penasehat spiritual Soeharto dan mendirikan padepokan di Gunung Lawu. Di akhir hayatnya, dengan menggunakan helikopter, jenazah Sunjoyo dibawa oleh Soeharto untuk dimakamkan di Jakarta. “Sejak di Pathuk, dia punya pengaruh yang kuat pada Soeharto,” katanya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP