NASIONAL

Cerita Terduga Teroris Bayu Mengenal Jihad

Lalu apa peran pria yang meneror kota kelahirannya sendiri itu?

ddd
Kamis, 6 September 2012, 17:11
Bayu Setiyono, terduga teroris Solo
Bayu Setiyono, terduga teroris Solo (ANTARA/Reno Esnir)

VIVAnews - Polisi memutar rekaman yang berisi testimoni atau pengakuan Bayu Setiyono, salah satu terduga teroris yang dibekuk di Solo, Jawa Tengah. Bayu yang masih berusia 22 tahun itu dibekuk setelah peristiwa saling tembak polisi dengan dua rekan Bayu, Farhan dan Muchsin. Dua rekan Bayu dan Briptu Suherman tewas dalam baku tembak di Jalan Veteran, Solo pada Jumat 31 Agustus lalu.

Polisi menyebut tiga orang ini terkait teror berantai yang terjadi di Solo. Pelemparan granat, penyerangan pos polisi di Singosaren yang menewaskan Bripka Dwi Data Subekti, dan baku tembak di Jalan Veteran. Bayu berhasil dibekuk hidup-hidup. Dari situ, polisi berhasil membekuk rekan mereka yakni Farhan di Depok, Jawa Barat, pada Rabu pagi 5 September 2012.

Lalu apa peran pria yang lahir, kecil, dan besar di Solo ini meneror kotanya sendiri? "Peran saya di sini adalah sebagai pengintai, survei. Sasaran dan target sudah ditentukan oleh Farhan. Untuk kota Solo saya sekali lagi minta maaf sebesar-besarnya. Saya di tim ini sebagai survei," kata Bayu dalam rekaman video yang diputar di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Kamis 6 September 2012.

Dalam rekaman, Bayu yang mengenakan kaos hitam itu berbicara lancar dan panjang. Dia bercerita, sebelum tahun 2008 dirinya masuk tim Hisbah. Kegiatan jihad dimulai. "Kegiatan kami melakukan jihad itu, pertama kali saya ikut pengajian yang dipimpin oleh Sigit Qurdowi," kata Bayu.

Siapa Sigit Qurdowi? Sigit dan rekannya, Hendro tewas dalam penyergapan di Sukoharjo pada Mei tahun lalu. Polisi menduga, jaringan Sigit Qurdowi penyuplai senjata Muhammad Syarif Astanagarif yang melakukan bom bunuh diri di Masjid Az Zikra, Mapolresta Cirebon 15 April 2011 lalu.

Bayu mengaku mengikuti pengajian pimpinan Sigit selama sekitar 1,5 tahun. Bayu mendapat pengajian amal ma'ruf nahi munkar. Mencegah kemunkaran. Akhir 2009, Bayu memberanikan diri keluar dari pengajian karena khawatir keluarganya dikucilkan. Dia juga mengaku mulai sulit mencari pekerjaan.

Dari pengakuan Bayu, jaringan Sigit memang melakukan jual-beli senjata. Sigit juga memberi jalan kepada pengikutnya untuk berusaha jual-beli senjata. "Dari hasil di Filipina, dijualbelikan ke Solo, Cirebon, Jakarta, Bekasi. Dan mungkin ihwan-ihwan (pengikut pria) itu sudah tertangkap semua," jelas Bayu. (eh)

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
meleko.matamu.cuk
07/09/2012
SNOUCK HURGRONJE, mungkinkah ada orang seperti itu di kasus terorisme di Indonesia??
Balas   • Laporkan
seppalea
07/09/2012
mrka2 inilah yg membuat kacau di poso dan ambon bbrpa wktu lalu, tp knpa dlm setiap khotbah dan pengajian yg dituduh jd dalang kerusuhan adalah justru mereka yg jd korban? merka akan slalu ada krna mrka slalu mendpt tmpt dan dukungan moril di negri ini
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru