NASIONAL

FOTO: Eksekusi Mati Imam DI/TII Kartosoewirjo

Sebanyak 81 foto langka dibuka ke publik. Ada fakta sejarah baru?
Rabu, 5 September 2012
Oleh : Nezar Patria, Oscar Ferri
Kartosoewiryo bersandar di papan eksekusi sebelum regu tembak mengakhiri hidupnya, 12 September 1962.

VIVAnews--Buku kumpulan foto itu menggetarkan siapa saja yang melihatnya: sebuah parade eksekusi mati dari seorang tokoh pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, SM Kartosoewirjo. Sebanyak 81 foto langka, dan belum pernah diterbitkan, hadir dalam sekuens menegangkan. Tersaksikan bagaimana seorang imam dari gerakan Darul Islam setengah abad silam, melangkah ke satu tiang untuk ditembak mati.

Diterbitkan oleh Fadli Zon Library, dia merupakan koleksi pribadi Fadli Zon, politisi yang juga Wakil Ketua Umum Gerindra, foto itu diluncurkan Selasa 5 September 2012 di Jakarta.  Ia hanya sekitar sepekan dari momen peringatan setengah abad meninggalnya Kartosoewirjo, yang ditembak mati pada 12 September 1962.

Inilah foto pertama dalam sejarah modern Indonesia, detik-detik terakhir seorang tokoh pemberontak dari masa galau republik muda setelah kemerdekaan 1945 itu terungkap ke publik. Buku itu juga menyodorkan detil baru, yang kerap keliru disebut oleh banyak buku sejarah. Di satu set foto yang diterima Fadli Zon dari seorang kolektor, misalnya, jelas disebutkan sang Imam dieksekusi di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Fakta itu menampik data yang banyak diyakini orang, termasuk keluarga Kartosoewirjo, bahwa sang Imam dimakamkan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu,  dekat pemakaman Belanda.  Letak persis makam itu cukup lama menjadi teka teki. Sardjono Kartosoewirjo, putra bungsu (dia anak ke-12) Kartosoewirjo baru mengetahuinya dua tahun silam, seperti diungkapkannya pada wawancara dengan VIVAnews setahun lalu, bahwa pada 2010,  “Saya berziarah untuk pertama kalinya ke makam bapak saya karena sudah ditemukan di Pulau Onrust di gugusan Pulau Seribu”.
 
Foto-foto itu diambil dalam sekuens yang kronologis, sehingga ia mampu berbicara sendiri tentang perjalanan akhir seorang Kartosoewirjo. Tak jelas siapa fotografernya. Namun kata Fadli Zon dalam catatannya di bukunya itu “Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII”, sangat mungkin diambil oleh salah satu anggota TNI yang bertugas hari itu.

Menilik komposisi gambar, dan momen yang diambil, sang fotografer tampaknya biasa melakukan pekerjaan dokumentasi.  Berikut kronologi naratif dari prosesi hukuman mati berdasarkan rangkaian foto di buku itu.

*

Foto itu dimulai dari pertemuan terakhir Kartosoewirjo dengan istri dan lima anaknya di sebuah ruangan yang dijaga petugas.

Hari itu 12 September 1962. Tak ada penjagaan sangat ketat di ruang mirip gudang pelabuhan itu. Wajah Kartosoewirjo tampak tua dan beruban, mukanya sedikit berminyak. Ia berkemeja lengan panjang, dengan sarung kotak-kotak. Dia duduk dengan jemari di tangan kirinya menjepit sebatang rokok. Istrinya, Dewi Siti Kalsum, duduk di sebelahnya membetulkan selendang. Dia tersenyum, mungkin juga sedang bergurau.

Setelah itu, ada hidangan santap siang tersaji di meja. Nasi putih dengan lauk rendang. Makan siang dimulai. Rendang itu mungkin terlalu berat rempah, sehingga Siti Kalsum tampak kepedasan.

Kartosuwirjo tak mau makan. Di depannya ada segelas kopi, sebungkus rokok dan asbak.

Tampak keluarga itu bersenda-gurau. Anak-anak Kartosoewirjo begitu tabah ketika oditur militer meminta ayah mereka memberi pesan terakhir. Sang ayah berpikir sejenak, rokoknya menyala dan siap dihisap. Lalu Kartosoewirjo berbicara, dan kedua putranya, Darda dan Tachmid, menyimak serius pesan terakhir itu.

Di atas meja, gelas-gelas teh telah habis isinya. Lalu anak beranak itu berkumpul, mengambil gambar terakhir. Kartosoewirjo duduk sebanjar dengan istri, lalu tiga putrinya, Kartika, Komalasari dan Danti. Di belakangnya berdiri dua putra mereka, Tahmid Basuki Rahmat, dan Dodo Mohammad Darda. Tampak raut muka mereka sedih. Ini jelas makan siang terakhir dengan sang ayah.  

Kartosoewirjo lalu melakukan salat taubat. Dia mengganti sarungnya dengan celana pantalon warna gelap, dan mengenakan peci hitam. Dia bersujud, dan setelah salat, dia berdoa. Seorang tentara, mungkin seorang imam dari seksi kerohanian TNI, memberikan wejangan. Sang Imam Darul Islam itu menyimaknya dengan memejamkan mata.

Seorang petugas datang dan memborgol tangannya. Dengan tangan digari itu dia memasuki ruang tunggu. Jam tangan Rolex-nya dilepas, dan sejumlah barang lain diserahkan ke keluarga.

Di ruang tunggu itu Kartosoewirjo duduk dan dijaga oleh petugas. Ruang mirip gudang itu, ada tumpukan barang terbungkus dan tersusun rapi. Di dinding ada foto Presiden Soekarno terpasang gagah. Sang presiden telah menolak grasi dari Imam DI/TII itu, yang membuatnya menjalani eksekusi hari itu.

Kartosoewirjo kembali mengambil sebatang rokok dari sakunya. Seorang petugas memberinya api.

Itu mungkin rokok terakhirnya sebelum dia diangkut mobil tahanan menuju kapal PGM yang membawanya ke Pulau Ubi, Kepulauan Seribu.

*

Di atas kapal, Kartosoewirjo terbaring di ranjang. Kepalanya diganjal dua bantal tanpa sarung. Seorang petugas dengan baret duduk di sisi ranjangnya. Di ujung ranjang ada dua petugas bersenjata. Kartosoewirjo menatap langit-langit. Dia mengatupkan dua tangannya yang terborgol, dan menaruhnya di atas perut.

Tak lama, dia dibawa petugas untuk pindah ke kapal LCM (Landing Craft Mechanized), dan di geladak kapal itu tampak Kartosoewirjo dihela ke dalam perut kapal. Seorang dokter menunggu di sana. Baju Kartosoewirjo dibuka petugas, sebelum dokter itu memeriksanya. Selesai pemeriksaan badan itu, sang dokter dengan stetoskop di leher, mengancingkan kembali baju Kartosoewirjo.

Lalu, petugas lain datang. Dia membawa baju putih-putih, dan meminta Kartosoewirjo bersalin pakaian. Sang Imam pun mengganti pakaiannya: baju putih, celana putih. Dia tetap berpeci hitam.

Saat akhir itu kian dekat. Kini matanya ditutup kain putih. Kapal sebentar lagi bersandar di pantai tempat eksekusi.

*

Kartosoewirjo turun dari kapal. Matanya tertutup kain putih dan dia dibopong oleh banyak petugas. Pantai itu sepi. Di buritan kapal, bendera merah putih berkibar.

Para petugas menggiring Kartosoewirjo ke tempat eksekusi. Matanya tertutup, dan tampak petugas berjalan bergegas. Dia menyeret kakinya di atas pasir putih. Dua anggota CPM mengapitnya dengan memegang dua tangannya. Dua orang bersenjata menggiringnya di kiri kanan. Serdadu lainnya berjalan di depan dan belakang.

Mereka terus melangkah menuju tiang tempat sang terpidana dieksekusi mati. Sebilah papan ditancapkan di atas tanah berpasir. Tingginya lebih sejengkal dari kepala Kartosoewirjo. Dia mulai diikat. Awalnya adalah tangannya, yang diikat pada sebilah kayu melintang di belakang papan itu.

Seorang imam tentara mendekat. Dia membisikkan doa.

*

Regu tembak bersiap. Di dekat barisan regu algojo itu ada hadirin dari berbagai lembaga. Ada seorang oditur, dan perwakilan dari Pangdam V/Djaja. Komandan regu tembak mulai memeriksa barisan. Segera setelah regu tembak siap, dia melaporkan kepada oditur. Pedangnya diangkat, memberi hormat. Oditur membalasnya dengan hormat.

Regu tembak dalam keadaaan istirahat di tempat. Komandan mereka memberikan arahan. Tatkala sang komandan berbicara kepada dua belas algojo itu, sang imam tentara terus membisikkan doa kepada Kartosowirjo. Tokoh DI itu tampak berdiri pasrah. Dia bersandar pada tiang papan. Kepalanya mendongak, pecinya sedikit bergeser. Matanya masih dibebat kain putih.

Sejenak kemudian, regu tembak bersiap. Bedil-bedil terangkat. Dua belas orang penembak mengambil posisi tembak.  Dua belas laras membidik tepat di jantung Kartosoewirjo.

Pedang sang komandan dijatuhkan. Selusin tembakan serempak meletus.

Di papan yang terpacak itu, tubuh ringkih berbaju putih putih tampak mengerang. Kepalanya masih tegak meskipun dadanya lubang oleh peluru. Komandan regu tembak mendekat. Dia menyiapkan pistol, dan mengarahkannya ke pelipis Kartosoewirjo yang lagi sekarat: tembakan terakhir.

Kepala Kartosoewirjo tertunduk. Tampak di foto itu kakinya tak lagi bertenaga. Lututnya lemah terkulai. Dokter lalu memeriksanya tubuhnya, dan menyatakan hidup sang tokoh Darul Islam itu telah tamat.

Foto-foto selanjutnya bercerita tentang penguburan Kartosoewirjo, jenazah berbaju putih itu dimandikan di pinggir laut, setelah dikafani dia disalatkan. Papan bekas eksekusi itu lalu dibakar. Jenazah Kartosoewirjo dimakamkan dengan tanda sebatang pohon besar. Kering merangas tanpa daun.

[Simak cuplikan foto-foto itu di sini]  

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found