TUTUP
TUTUP
NASIONAL

Dapat Award Unesco, Akses Kampung Waerebo Dibenahi

Kampung ini punya arsitektur rumah kerucut yang berumur 1080 tahun.
Dapat Award Unesco, Akses Kampung Waerebo Dibenahi
Rumah ada Mbaru Niang di kampung Waerebo (UNESCO)

VIVAnews - Rumah tradisional kampung Waerebo di Manggarai Flores NTT, pada 27 Agustus 2012 lalu meraih Award of Excellence, anugerah tertinggi dalam UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012 di Bangkok. Penghargaan diberikan untuk Mbaru Niang (rumah kerucut) kampung Waerebo, sebagai bentuk pengakuan terhadap arsitektural tradisional yang tetap eksis dan dilestarikan oleh masyarakatnya.

Rumah Niang Waerebo sendiri mendapat penghargaan setelah menyisihkan 42 warisan budaya dari 11 negara di Asia. Penghargaan diberikan berdasarkan beberapa kriteria, termasuk bagaimana situs itu mencerminkan semangat lokal, kegunaan, kontribusinya terhadap lingkungan sekitar dan keberlangsungan budaya serta sejarah lokal.

Rumah Niang Waerebo Pada November 2011 juga mendapat penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) award kategori bangunan konservasi.

Pelopor konservasi rumah Niang Waerebo sejak tahun 2008 adalah yayasan Rumah Asuh pimpinan arsitek Yori Antar. Sukses merenovasi dan merekonstruksi empat dari tujuh Niang yang nyaris ambruk sedari 2008 hingga tahun 2011, upaya Antar mencuri perhatian UNESCO. Itulah cikal bakal penghargaan yang diberikan di Bangkok pada 27 Agustus 2012.

Selain Mbaru Niang sejumlah penghargaan lain diberikan kepada Sethna Buildings di Mumbai dan Sistem Pengairan di Hampi, keduanya di India untuk kategori Awards of Distinction. Sementara Kompleks Zhizhusi di China, Kuil Chandramauleshwa di Hampi, India, dan Masjid Khilingrong di Shigar, Pakistan mendapat Awards of Merit.

Buka Akses Jalan

Pemberian penghargaan UNESCO kepada kampung tradisional Waerebo, tentunya membuat masyarakat Waerebo berbangga.” Kami sangat bangga dan berterimakasih kepada Yayasan Rumah Asuh yang telah membuat kampung kami luput dari kepunahan” Ujar tokoh adat Waerebo, Yos Katup.

Senada dengan warga kampung Waerebo, Bupati Manggarai Christian Rotok turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada yayasan Rumah Asuh dan sejumlah elemen lain termasuk media yang selalu mengekspose keberadaan kampung tradisional Waerebo ke seluruh dunia.

”Atas nama masyarakat Manggarai dan Warga Waerebo, kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang membuat Waerebo mendapat award tersebut” kata Christian Rotok.

Pemda Manggarai juga mulai berpikir tentang pembangunan di kampung yang sangat terpencil itu. Christian menegaskan, dalam waktu dekat akan dibuka jalan baru untuk memperpendek radius jalan kaki menuju waerebo.

Rencananya jalan yang segera dibuat dimulai dari SDK Denge sampai batas hutan Komunal tepatnya di Kali Wae Ronggo. ”Akan kita buka akses kendaraan sepanjang 3 kilo meter sampai batas hutan komunal dan hutan Negara. jalur jalan kaki yang ada tidak boleh diubah, dibiarkan begitu karena turis suka trek yang begitu. Kalau tak ada halangan jalan itu akan dibuka akhir tahun ini,” kata Christian.

Kampung 1080 Tahun


Kampung tradisional Waerebo kini sudah berusia 1080 tahun. Kampung yang sangat terpencil itu ditempuh dengan berjalan kaki mendaki melewati hutan larangan pegunungan Poco Roko selama 4 jam. Kampung yang tersembunyi dibawah kaki gunung itu hanya memiliki tujuh rumah kerucut beratapkan ijuk. Model dan ukuranya sama, dengan tinggi bangunan 12 meter.

Saat ini kampung terpencil Waerebo dihuni oleh 51 kepala keluarga atau 212 jiwa. Mereka tinggal di setiap rumah Niang. Satu rumah Niang dapat menampung enam hingga delapan kepal keluarga.

Dari hasil penelitian yang dilakukan arkeolog Jerman, usia kampung waerebo sudah berumur 1080 tahun” batu mesbah kampung kami sudah diteliti oleh arkeolog Jerman, umur kampung sudah 1080 tahum” kata Yos Katup.

Hingga saat ini kampung udik Waerebo belum memiliki sarana pendidikan dan pelayanan kesehatan. Anak-anak Waerebo terpaksa meninggalkan kampung saat menginjak usia sekolah. Mereka pergi memburu pendidikan di kampung-kampung di luar Waerebo dan tinggal di rumah kerabat di tempat mereka bersekolah. Sementara untuk masalah kesehatan, warga kampung Waerebo masih mengandalkan pengobatan tradisional.

(Laporan: Jo Kenaru | Kupang)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP