NASIONAL

1 Alamat, Masjid & Gereja Ini Berbagi Tembok

Kubah masjid di sebelah salib tinggi. Tak ada keangkuhan di sana.

ddd
Jum'at, 27 Juli 2012, 12:55
Masjid Al Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan.
Masjid Al Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan. (Fajar Sodiq (Solo))

VIVAnews -- Berbeda bukan berarti saling bermusuhan. Termasuk soal keyakinan. Kerukunan beragama niscaya terjalin jika masing-masing umat saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya.

Ajaran itulah yang terpancar dari seberang Jalan Gatot Soebroto No 222 Solo. Di sana berdiri dua bangunan tempat ibadah yang berbeda: Masjid Al Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan. Dengan nomor alamat yang sama.

Dari kejauhan, dua bangunan ibadah terlihat menonjolkan lambang masing-masing, kubah hijau dan bulan sabit bintang, juga salib besar yang berdiri di atap gereja. Namun, tak ada keangkuhan di sana.

Saking dekatnya, tembok masjid dan gereja saling berdempetan. Tempat imam masjid langsung berbatasan dengan ruang pertemuan gereja. Bahkan, di bagian atas ruang imam tersebut dibiarkan terbuka sehingga tembok salah satu ruangan gereja terlihat menonjol.

Menurut cerita Pendeta Widi Atmo Herdjanto, gereja dibangun lebih dulu pada tahun 1939. Kala itu, gereja didirikan di atas tanah milik H Zaini yang telah dibeli oleh sejumlah umat Kristen asal Danukusuman, Solo.

Saat bangunan gereja tersebut dibangun, para pendiri juga sudah mengetahui ihwal rencana pembangunan mushola, yang direalisasikan tahun 1947, tepat di sisi utara gereja.

“Mulai saat itulah kerukunan kedua umat beragama ini terjalin, seperti halnya kedua bangunan tempat ibadah. Perwakilan  Islam maupun Kristen membangun prasasti tugu lilin sebagi simbol kebersamaan,” ujar Pendeta Herdjanto kepada VIVAnews, Jumat, 27 Juli 2012

Prasasti lilin yang memiliki tinggi 100 centimeter hingga kini masih tegak berdiri, posisinya di  tempat wudlu perempuan yang terletak di sebelah selatan masjid. Tugu bercat putih tersebut menjadi sumpah janji di antara kedua pemeluk keyakinan yang berbeda itu. Untuk hidup rukun dan damai. Jangan sampai terjadi permusuhan dan peliharalah kedamaian selamanya.

Mushola menjadi masjid

Dalam perkembangannya, bangunan mushola tersebut pun berkembang menjadi masjid. Seperti diceritakan Ketua Takmir Masjid Al Hikmah, Muhamad Nasir Abu Bakar, sebelum merubah bangunan mushola menjadi  bangunan masjid, pihaknya terlebih dahulu juga melakukan komunikasi dengan pihak gereja.

Demikian juga ketika ada permasalahan yang menyangkut kepentingan kedua umat tersebut, Nasir mengakui selalu mengedepankan komunikasi yang penuh rasa kekeluargaan dan persaudaraan. Semisal, akan melakukan Salat Ied pada hari raya, pihaknya selalu meminta izin kepada pihak GKJ Joyodiningratan untuk meminjam halaman depan gereja untuk dijadikan sebagai tempat salat. Sebab, bangunan masjid terlalu kecil untuk menampung umat muslim.

“Sebelum melakukan Salat Ied, sekitar pukul 05.30 WIB jemaat gereja dengan remaja masjid berbaur ikut membersihkan jalan dan halaman yang akan menjadi tempat salat,” ujarnya.

Saat Idul Fitri jatuh pada hari Minggu, seperti dikatakan Pendeta Herdjanto, pihaknya akan menghilangkan jadwal  kebaktian pagi pukul 06.30 WIB. Padahal, setiap Minggu dalam satu hari terdapat empat jadwal kebaktian, yakni pukul 06.30, 08.30,14.30, 18.30 WIB. “Tetapi untuk menghormati  saudara muslim yang Salat Ied di depan gereja maka kami meniadakan jadwal kebaktian yang pagi supaya tidak menganggu kekhusyukan saudara kita yang sedang melaksanakan salat,”  kata dia.

Pun demikian saat umat Kristiani melaksanakan kebaktian setiap hari Minggu, jemaat gereja tersebut juga parkir di depan masjid. Yang menjaga kendaraan mereka adalah remaja masjid. “Ini dilakukan supaya saudara kita yang Kristiani tenang dan khusyuk selama mengikuti kebaktian. Karena kendaraannya ditunggu remaja masjid,” tutur Nasir.

Bahkan, keberadaan pengeras suara masjid yang terletak tepat diatas kantor gereja juga tidak dipermasalahkan. “Tidak ada complain sama sekali. Suara adzan itu memang keras, ya memang fungsinya untuk panggilan salat bagi kaum muslim," ucap pendeta.

Sebaliknya saat kalangan jemaat gereja melakukan peribadatan pada  misa Natal, lanjut dia, pihak pengurus masjid juga tahu diri. Kalau biasanya sebelum adzan didahului dengan membaca Alquran dengan pengeras suara selama 10 menit, namun untuk menghormati peribadatan umat Kristiani, pembacaan Alquran itu ditiadakan.

“Jika berbarengan dengan Natal, kami meniadakan bacaan Alquran sebelum adzan supaya tidak menggangu peribadatan umat Kristiani. Ini merupakan cara untuk menghormati mereka,” tegas Nasir.

Terkenal hingga luar negeri

Sikap toleransi yang terjalin di kawasan tersebut kabarnya menyebar ke seluruh dunia. Banyak orang asing yang berkunjung. Selain ingin melihat dari dekat, merea juga ingin mengetahui kunci kerukunan yang terjadi antara umat beragama tersebut. Bahkan, dua pekan lalu mendapatkan kunjungan special dari kalangan tokoh agama Eropa.

“Biasanya mereka yang studi banding ke sini menanyakan mengenai berdirinya gereja dan masjid. Saya selalu bilang, gereja lebih dulu berdiri. Kenapa masjid bisa berdiri karena ada kesepakatan dari para pendahulu kita. Silakan membangun masjid bersinggungan, bersampingan dan bergadengan dengan gereja. Dan momentum ini disertai dengan pendirian tugu yang artinya tidak akan ada perbedaan dan permusuhan sampai nanti. Jadi ke depannya insya Allah tetap aman,” harap Nasir.

Prinsip kehidupan yang penuh dengan toleransi tersebut, dikatakan Nasir,  akan selalu ditularkan kepada generasi muda di daerah tersebut.

Lantas, ia pun menegaskan bahwa baik dari phak gereja maupun masjid sangat menjaga betul arti pentingnya kedamaian, persaudaraan dan persatuan.  “Kami memang menjaga betul persatuan. Tetapi kalau mengenai agama tidak bisa bercampur, sendiri-sendiri. Dan dalam masalah itu ada pelajaran dari Allah bahwa Islam menjunjung tinggi toleransi, lakum dinukum waliyadin,” ucapnya. (umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
viollet
30/07/2012
ditempat gue di jakarta. jakarta selatan. tuh ada kampung dengan jumlah masjid 5, gereja protestan 5, dan satu Kapel. kami hidup dengan damai kok.. kalau hari raya tiap agama'nya disini selalu ramai. asyik tinggal disini.damai.toleran
Balas   • Laporkan
calm-_-joecy
27/07/2012
kalau sudah terjadi memang tidak ada masalah. yg masalah kalau belum kejadian...pasti dalam hati. NO no no NO...is haram. jangan munafik dan merubah kata hati.
Balas   • Laporkan
isheva1
27/07/2012
di tempat gue juga ada gan di tabalong, kalsel....di depan mesjid dibelakangya gereja cuma di batasi pagar yg rendah banget....n nggak ada masalah tuh kalo mau ibadah masing2 umat saling menghormati satu sama lain
Balas   • Laporkan
ardjo
27/07/2012
Its My Country Alahkah indah dan nyamannya hidup di negeri ini
Balas   • Laporkan
bisaprodankontra
27/07/2012
stupid idea
Balas   • Laporkan
toto.sugiyanto1
27/07/2012
masalah agama adalah masalah keyakinan seseorang tetapi jika keyakinan itu di barengi dengan rasa hormat dengan keyakinan orang lain yang berbeda akan melahirkan suatu kedamaian yang hakiki karena damai itu indah.
Balas   • Laporkan
jjjacob
27/07/2012
ALANGKAH BAHAGIANYA, HIDUP RUKUN DAN DAMAI
Balas   • Laporkan
setyo.pramono.16
27/07/2012
Dalam Islam Menyukutukan Alloh saja kufur hukumnya, apalagi menyembah kpd selain Alloh dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran ... " [Al-Maidah : 2]
Balas   • Laporkan
bara_ta | 27/07/2012 | Laporkan
setyo@kl cm phm 1 klmtaj jgn sok deh,apa km tau mksdnya bagiku agamaku,bagimu agamamu,jgn jd provokator deh
yoz.puguh | 27/07/2012 | Laporkan
ternyata anda menelan mentah" tanpa mengupas kulitnya. setiap agama pasti beda tp tujuannya sama, menyembah Tuhan yg jg disebut Allah.
vivanoob | 27/07/2012 | Laporkan
Yang haram itu membiarkan orang seperti kamu hidup dan mengurangi oksigen di dunia ini.
rozack
27/07/2012
Saya sampai haru meneteskan air mata membacanya. Kenapa Indonesia ku kini tidak bisa rukun dan saling pengertian seperti itu. Rasa Kebersamaan, komitmen dan salalu menjalin komunikasi yang baik, kalau saya lihat itu kunci nya.
Balas   • Laporkan
aom_gusman
27/07/2012
Pada dasarnya masyarakat itu sangat toleran dan bisa damai berdampingan, tetapi ketika para orang yang ditokohkan apakah itu tokoh agama, tokoh politik atau tokoh masyarakat punya kepentingan lain dan berwawasan sempit jadilah provokasi-2 kepentingan
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com