NASIONAL

AIDS Bunuh 5 Pelajar Penjaja Seks di Cianjur

Komisi Penanggulangan AIDS saat ini tangani pelajar idap AIDS hamil

ddd
Jum'at, 20 Juli 2012, 17:25
Pekerja Seks Komersial (PSK) Gang Dolly Surabaya
Pekerja Seks Komersial (PSK) Gang Dolly Surabaya (Tudji Martudji | VIVAnews)

VIVAnews - Jumlah wanita penjaja seksual (WPS) yang berstatus pelajar meningkat setiap tahunnya di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Berdasarkan data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cianjur, hingga saat ini jumlah WPS yang tercatat secara akumulatif sebanyak 1.048  orang, terdiri atas 621 orang WPS langsung dan 427 orang WPS tidak langsung (pelajar), dengan jumlah pelanggan diperkirakan mencapai 16 ribu orang.

“Dari keseluruhan jumlah WPS tersebut, jumlah WPS yang masih berstatus pelajar menunjukkan peningkatan jumlah yang signifikan lebih dari 15 persen dibanding tahun lalu. Bahkan dalam kurun satu dua tahun ke depan jumlahnya bisa seimbang dengan WPS umum bila tidak mendapat perhatian khusus,” kata Ketua Kelompok Kerja KPA Cianjur, Dede Rahmat, kepada VIVAnews, Jumat 20 Juli 2012.

Dede menjelaskan, pelajar merupakan fenomena sosial akibat pemahaman agama yang kurang serta minimnya pengawasan keluarga, juga lebih disebabkan perubahan pola hidup yang semakin konsumtif, namun tanpa ditunjang dengan kondisi atau keadaan ekonomi. “Dari berbagai kasus, kami banyak menemukan alasan mereka (pelajar --red) yang terjun menjadi WPS semata karena desakan ekonomi dan gaya hidup konsumtif,” katanya.

Selain itu, rendahnya pemahaman pelajar terhadap masalah HIV/AIDS mendorong tren WPS pelajar menjadi kian bertambah. “Pasar pun tentunya turut mendongkrak tren ini. Dalam artian, para pelanggan jasa WPS lebih tertarik menggunakan jasa WPS pelajar daripada yang biasa, alasannya tentu saja klasik, tahu sendirilah,” katanya.

Rendahnya pemahaman tentang HIV/AIDS dikalangan pelajar, menurutnya semata karena minimnya kegiatan sosialisasi serta tingkat kepedulian dinas terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur yang juga cenderung rendah. Deden belum pernah melihat ada upaya sosialiasi HIV/AIDS secara khusus yang datang langsung dari dinas terkait.

“Selalu harus dari kami, sementara angaran kami sendiri sangat-sangat minim dan terbatas. Karenanya, dari target pemahaman pelajar terhadap HIV/AIDS sebesar 30 persen, hingga saat ini baru tercapai 19 persen,” katanya.

Dengan bertambahnya jumlah WPS pelajar tersebut, terang Dede, tentu akan memicu penambahan jumlah penderita HIV/AIDS dari kalangan WPS pelajar itu sendiri. Dari data yang ada, jumlah penderita HIV/AIDS tercapat 281 orang dengan persentase dari kalangan WPS sebesar 26 persen.

“Jadi, besar kemungkinan WPS pelajar pun banyak yang terjangkiti HIV/AIDS. Hingga saat ini, sudah lima WPS pelajar yang meninggal dunia. Saat ini saja kita sedang menangani seorang WPS yang masih duduk di SMP yang terjangkit HIV dan tengah mengandung,” katanya.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com