NASIONAL

Juragan Kambing Ala Wakil Kepala PPATK

Agus Santoso menerapkan konsep pertanian tanpa limbah atau zero waste organic farm.

ddd
Rabu, 9 Mei 2012, 16:38
Wakil Kepala PPATK Agus Santoso.
Wakil Kepala PPATK Agus Santoso. (VIVAnews/Dedy Priatmojo)

VIVAnews – Wakil Kepala Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso ternyata punya julukan lain: "Juragan Kambing".

Julukan ini tidak melekat begitu saja. Tapi ada cerita tersendiri. Urusan kambing, Agus memang piawai. Pria berkumis lebat ini hafal ras-ras kambing mulai dari kambing lokal, etawa (kambing India bertelinga panjang), Saanen (kambing dari lembah Saanen di Swiss), sampai Anglo Nubian (silangan kambing perah Asia yang dimuliakan di Inggris). Juga bagaimana memelihara dan menternakkannya sehingga memberi manfaat ekonomi.

Lewat kambing, dia membuka jalan untuk pemberdayaan masyarakat di lingkungan Desa Pandansari, Gadog, Kabupaten Bogor. Saat ditemui VIVAnews.com akhir pekan lalu di peternakan kambingnya, Agus pun memulai cerita awal mula hobinya.

Sekitar 10 Tahun lalu, Agus dan istrinya, Juli, miris melihat salah satu warga di pinggiran Sungai Ciliwung "memanen" batu di lahan sawahnya.

"Sawah itu rusak. Selama 20 tahun dibongkar hanya untuk diambil batunya. Si pemilik sudah tidak sanggup membeli benih. Alhasil, dia hanya menjadi penjual batu," tutur Agus yang kemudian membeli sawah si petani dan lahan di sekitarnya. Saat itu ada 1.800 meter persegi.

Agus berusaha "menghidupkan" kembali sawah itu. Dan itu bukan perkara gampang. Dia harus mengolah dan menumpuk pupuk untuk meningkatkan unsur hara tanah. Terlintaslah dibenaknya untuk menerapkan konsep pertanian tanpa limbah atau zero waste organic farm.

Bagaimana caranya? Dibangunlah pabrik tahu. Bukan skala besar, tapi cukup untuk menghidupkan impiannya dan membantu warga sekitar. Seiring berproduksinya pabrik tahu ini, Agus merekrut warga sekitar untuk memasarkan tahunya dengan berdagang tahu gorengan pikulan. Semua bahan dagangan dia yang menyediakan. Si penjual hanya menyetor sekitar Rp15 ribu per hari.

Untuk memanfaatkan limbah pabrik tahunya, bapak satu putri ini lalu memelihara kambing. Semula hanya 10 ekor dari jenis Etawa dan Saanen. Kini kandang kambing yang semula hanya berukuran 1x6 meter berkembang pesat menjadi sebuah peternakan dengan berbagai jenis kambing perah unggul. Sedikitnya kini ada 150 ekor, mulai dari kambing lokal (Parahiyangan dan Garut), hingga kambing unggul dari India (Etawa), Swiss (Saanen), dan Anglo Nubian.

Jangan membayangkan kandang kambing di peternakan ini layaknya kandang kambing pada umumnya yang disesaki kotoran dan rumput. Kambing-kambing di peternakan ini sangat tertata. Masing-masing kambing memiliki bilik sendiri berukuran sekitar 1x1 meter. Juga tidak terlihat kotoran yang menumpuk.

Meski mempekerjakan warga sekitar, Agus tidak segan-segan turun tangan. Minimal seminggu sekali, tanpa terlihat jijik ia menyempatkan diri membersihkan kotoran dan memberi makan kambing-kambingnya. Wakil Kepala PPATK Agus Santoso di peternakan

Kini peternakan kambing itu telah menghasilkan puluhan liter susu setiap harinya. Itulah kenapa Agus sering dijuluki "Jurangan Kambing".

Lalu kemana kotoran yang dihasilkan kambing-kambingnya? Agus membuangnya ke sawah yang terletaknya bersebelahan dengan kandang kambing. Sawah yang dulu hanya mampu menghasilkan batu, setiap dua tahun sekali ini menghasilkan padi organik.

"Warga takjub, sawah yang dulu rusak kini menghasilkan padi. Pemilik lama sebelum meninggal sampai terharu, karena dia bisa menikmati lagi nasi dari sawah ini," kata pria yang juga pemilik 200 jenis anggrek dan ribuan buah pohon di halaman rumahnya ini.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com