NASIONAL

Hampir Mati di Mahakam

Sudah banyak jembatan gantung rubuh. Di Perancis 200 tentara tewas.
Senin, 5 Desember 2011
Oleh : Denny Armandhanu
Jembatan Kutai Kartanegara sebelum runtuh

VIVAnews - Aji Titin berkemas. Wanita paruh baya ini menjadi Asisten Dosen di Samarinda. Sabtu sore, 26 November 2011 itu, Titin hendak pulang ke rumah. Tugas hari itu kelar sudah. Pukul tiga lebih 30 menit. Dosen muda ini memacu motornya.

Satu jam perjalanan ia tiba di Jembatan Kutai. Itu jembatan yang membelah Sungai Mahakam. Panjang 710 meter. Bentang lebar 12 meter. Sore itu jalanan macet. Motor itu merayap memasuki jembatan. Berdesakan. Berebutan. Titin lolos masuk mulut jembatan itu. Lega. Sebentar lagi tiba di seberang.

Tapi tiba-tiba badan jembatan itu rubuh. Titin terperanjat. Berusaha menahan tapi tak sanggup. Tubuh kecil dosen muda ini meluncur ke bawah seperti di buang dari langit. Menghantam aspal.  Membentur besi penyangga. Lalu, menikam sungai dan tenggelam.

Terseret arus air Mahakam yang deras, Titin sulit bernafas. Tersengal-sengal, sebab helm pelindung yang dikenakan malah mencekik leher. Titin berusaha melepas helm itu.  Tapi susah. Pengaitnya macet. Baru terlepas setelah berkali-kali ditarik dengan keras.

Astaga! Neraka berikutnya adalah sungai itu. Arus deras Mahakam menyeret tubuh mungil itu. Melawan sia-sia belaka. Tapi pasrah jelas berarti mati. Sebab arus air itu juga menggulung material jembatan yang roboh. Titin berusaha mencari pegangan. Tubuh kecil itu timbul tenggelam di sungai raksasa itu.

Perlahan dia menguasai diri. Ketika menoleh ke jembatan itu, yang terlihat cuma besi kuning dan tali penahan tiang.  Titin terus menyebut nama Allah. Beristighfar menenangkan batin. Tapi lama-kelamaan tubuhnya kian lelah. Ia membatin, mungkin ini saatnya pulang ke sang Khalik.

Di tengah kepasrahan itu, samar-samar ia melihat sebuah kapal tug boat yang tenggelam. Juga melihat seorang laki-laki yang terseret arus. Pria itu memakai baju hitam.  Tubuhnya timbul tenggelam. Terus-terusan berteriak minta tolong. Sampai kemudian suara si lelaki itu hilang.

Tubuh kecil Titin terus mengapung. Tapi tiba-tiba ada tangan yang menangkap lengannya. Titin merasa tubuhnya seperti ditahan. Ia menengadah dan berusaha membuka mata.

Pria penolong itu datang dengan Gubang. Peharu kecil yang sering lalu lalang di sungai itu. “Saya betul-betul sudah habis. Ndak bisa bergerak lagi. Orang itu bilang istighfar, kamu selamat,” kisah Titin kepada VIVANews yang menemuinya, Senin 28 November 2011.

Titin kini dirawat di ruangan Asoka. Rumah Sakit Parikesit Tenggarong. Ditemani suami dan anak. Tulang punggungnya patah. Sempat mau dioperasi, tapi dokter menyarankan minum obat saja.

Ia merasa diberi kesempatan kedua, sebab sama sekali tidak bisa berenang, cuma terus berusaha menggerakan kaki. Meski cedera parah, ia bersyukur selamat dari petaka itu.  “Saya berharap bertemu dengan penyelamat saya. Dia benar-benar perpanjangan tangan Allah untuk menolong saya,” kata Titin.

Hingga berita ini diturunkan, sudah 20 orang tewas. Sembilan belas orang lain masih hilang. Masih dicari. Dan masih pula diselidiki sebab musabab runtuhnya jembatan yang melayang itu, yang lazim disebut jembatan bertipe suspensi.
 
200 Tentara Perancis Tewas
Dan ini bukan pertama kali jembatan jenis  suspensi itu membawa petaka. Di seluruh dunia, tercatat sudah puluhan  kali jembatan tipe ini, rubuh dan merengut nyawa.

Gampang celaka sebab jembatan jenis ini tidak memiliki tiang penyangga di tengah. Cuma  bertumpu pada tali penyangga --biasanya terbuat dari kabel baja-- yang dikaitkan ke dua tiang yang berseberangan. Badan jembatan seolah terbentang menggantung di atas sungai. Keliru berhitung, fatal sudah.

Jalan melayang di atas air itu pertama diperkenalkan oleh pembuat jembatan, yang juga seorang pendeta Tibet, Thangtong Gyalpo, sekitar abad ke 14. Saat itu bentuknya masih sangat sederhana. Guna memangku beban tengah jembatan, Gyalpo menggunakan rantai sederhana. Rancangan Gyalpo inilah awal mula  pembangunan jembatan suspensi di seluruh dunia.

Pada tahun 1433, Gyalpo telah mendirikan delapan jembatan di Bhutan timur. Namun, strukturnya yang rapuh dan material yang tidak memadai membuat seluruh jembatan buatan Gyalpo hancur. Satu-satunya jembatannya yang bertahan lama adalah yang menghubungkan Duksum dengan Trashi Yangtse. Jembatan ini tersapu arus 2004 silam.

Kecelakaan terparah jembatan jenis ini terjadi di Angers, Perancis. Itu jembatan melintas di atas sungai Maine di negeri itu. Mengantung sepanjang 102 meter di atas sungai. Jembatan ini dibangun selama tiga tahun. Antara 1836 hingga 1839. Kerap dilintasi penduduk. Juga para tentara yang bermarkas di Angers. Kabel utama yang dinilai sejumlah ahli super kuat, ternyata ambrol juga.

Hari itu tanggal 16 April 1850. Lebih dari 480 tentara berbaris di atas jembatan itu. Ada latihan. Warga juga berkerumun di sana menonton para tentara itu.

Tiba-tiba angin badai datang. Jembatan itu diayun ke kiri dan kanan. Angin makin kencang, goyangan kian kencang pula. Lama bergoyang, jembatan kian oleng. Memutus tali penyangga dan runtuh. Para tentara dan warga seperti dibuang ke laut. Ditimpa badan jembatan yang rubuh.

Setidaknya 226 orang tewas. Dua ratus orang dari 480 serdadu Perancis yang berbaris tewas di situ. Pemerintah Perancis yang menggelar penyelidikan atas kasus ini menemukan bahwa selain beban yang berat dan angin, runtuhnya jembatan Angers disebabkan oleh karat pada jangkar tali penyangga.
 
Karatan itu disebabkan oleh paparan air yang meresap melalui semen yang menahan jangkar penyangga di dasar sungai. Dan ini adalah dosa konstruksi yang fatal. Sebab semen tidak terlalu padat untuk mencegah air meresap masuk.

Dan Angers, bukanlah jembatan suspensi pertama yang rubuh karena angin dan kesalahan konstruksi. Sebelumnya, beberapa jembatan juga rubuh. Sebut saja Jembatan Dryburgh Abbey di Skotlandia pada 1818, The Royal Suspension Chain Pier di Brighton, Inggris, pada 1836, dan jembatan Menai di Wales, Inggris yang runtuh beberapa kali pada tahun 1825, 1836 dan 1839.

Jembatan suspensi yang runtuh lantaran terpaan angin dan terekam kamera video adalah Tacoma Narrow. Jembatan itu menghubungkan Tacoma dan Semenanjung Kitsap di Washington, Amerika Serikat.  Ini jembatan terpanjang ketiga di dunia. Setelah jembatan Golden Gate dan George Washington.

Jembatan itu mulai beroperasi tanggal 1 Juli 1940. Canggih, tapi umurnya pendek. Hari itu tanggal 7 November 1940. Angin menyapu kencang. Dalam rekaman video yang beredar luas, goyangan jembatan itu membentuk gelombang.
 
Padahal dalam masa uji coba, soal badai itu sudah dihitung. Dalam uji coba itu seratus persen dipastikan bahwa  konstruksi jembatan Tacoma berada di titik vertikal untuk membelah angin. Artinya setiap kali badai itu menyergap, tiang vertikal itu akan membelahnya. Tapi kekuatan angin sungguh tak bisa dikira.

Dari penyelidikan kemudian diketahui bahwa angin yang menyebabkan runtuhnya jembatan Tacoma mencapai 64 km per jam. Tersisa dari jembatan tersebut hanyalah menara dan tali penyangga. Beruntung, korban tewas dalam insiden itu hanyalah seekor anjing yang sedang dibawa jalan-jalan majikannya.

Runtuhnya jembatan Tacoma sering digunakan sebagai contoh dalam pelajaran konstruksi. Dalam insiden tersebut, diperoleh pelajaran soal bagaimana memperhitungkan segi aerodinamis dengan efek resonansi angin dalam struktur bangunan.

Paling Mematikan Dalam 100 Tahun
Dalam rentang 100 tahun belakangan, kendati teknologi konstruksi semakin canggih, namun ambruknya jembatan sering terjadi. Sudah ratusan jembatan ambruk di seluruh dunia. Majalah Time mencatat 10 yang paling mematikan.

Pertama adalah jembatan Quebec di Kanada. Runtuh tanggal 11 September 1916. Ini adalah kali kedua jembatan ini runtuh, setelah pada tahun 1907 juga mencium sungai. Dua kali petaka  95 orang tewas. Sebabnya diduga karena salah hitung. Bobot jembatan lebih berat dari yang diperhitungkan.

Tragedi kedua yang paling mematikan adalah jembatan suspensi Silver. Menghubungkan Virginia Barat dan Ohio Amerika Serikat, jembatan itu ambruk-- setelah 39 tahun beroperasi -- pada 15 Desember 1967. Diduga retakan pada dudukan suspensi akibat semakin beratnya kendaraan yang melintas menyebabkan tali penunjang putus. Sebanyak 46 orang tewas.

Yang juga dicatat paling mematikan dan berada di urutan ketiga adalah jembatan di Hyatt Regency, Kansas, Amerika Serikat. Jembatan itu rubuh 17 Juli 1981. Jembatan yang berada di dalam gedung ini runtuh menewaskan 114 orang. Kala itu jembatan penuh padat, beberapa orang menari. Diduga, jembatan runtuh akibat guncangan para penari tersebut.

Petaka jembatan Mianus di Greenwich, Amerika Serikat menempati posisi keempat. Rubuh 18 Juni 1983. Tiga orang tewas. Penyebabnya, penyangga jembatan selama konstruksi dilakukan patah. Kelima, jembatan Songsu di Seoul, Korea Selatan, ambruk pada 21 Oktober 1994, 31 orang tewas. Bagian tengah jembatan ambruk, diduga akibat kesalahan perawatan dan rancangan.

Jembatan Pelangi di kota Qijiang, China, menempati urutan keenam. Rubuh pada 4 Januari 1999. Setidaknya 49 orang tewas. Menurut hasil penyelidikan, jembatan ini dibangun dengan besi berkualitas rendah. Akibat kecelakaan  ini, beberapa pejabat dipecat, salah satunya bahkan dihukum mati.

Ketujuh, jembatan Ribeiro-Hintze di Portugal yang runtuh pada 4 Maret 2001, menewaskan 59 orang. Belum diketahui penyebab pasti runtuhnya jembatan tersebut, namun pemerintah Portugal telah menjatuhkan vonis bersalah pada para teknisi pembuat jembatan karena dinilai gagal.

Jembatan Daman di India menempati posisi kedelapan. Runtuh pada 28 Agustus 2003. Dan 25 tewas. Pemerintah mengatakan, runtuhnya jembatan akibat kondisi struktur yang sudah tua. Daman ricuh saat ratusan warga yang marah menyerang gedung pemerintah, polisi terpaksa menerapkan jam malam.

Kesembilan, runtuhnya jembatan di Almunecar, Granada, Spanyol pada 7 November 2005, menewaskan enam orang. Dan yang terakhir, kesepuluh, adalah jembatan berusia 150 tahun di Bihar, India. Runtuh pada 2 Desember 2006. Jembatan menimpa kereta yang sedang lewat. Menewaskan 33 orang.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found