NASIONAL

Tradisi Malam Selikuran di Keraton Surakarta

Seribu tumpeng diperebutkan abdi dalem dan masyarakat sekitar Keraton.

ddd
Minggu, 21 Agustus 2011, 00:13
Tradisi malam selikuran di Keraton Solo
Tradisi malam selikuran di Keraton Solo (VIVAnews/ Fajar Sodiq)

VIVAnews - Seribu tumpeng diperebutkan oleh abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta dan masyarakat sekitar. Tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun untuk memeringati malam selikuran atau malam ke dua puluh satu dalam hitungan bulan Ramadan yang biasa disebut malam Lailatul Qadar itu.

Seribu tumpeng tersebut dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung Solo yang berjarak sekitar 500 meter. Para abdi dalem juga membawa lampu menyerupai lampion atau ting. Sehingga kirab ini juga dikenal dengan nama ting-ting hik.

Di depan barisan ancak canthaka, terdapat joli kencana atau kotak menyerupai anchak canthaka yang berukuran besar dan berbentuk menyerupai rumah-rumahan. Di dalam joli kencana tersebut terdapat ingkung. Setiap prosesi tumpeng seribu selalu ada dua joli kencana dan satu ting berukuran besar, lengkap dengan cap logo Keraton Surakarta.

Ketua Pengurus Masjid Agung. KRT Tafsir Anom XXIII mengatakan tradisi malam selikuran dengan mengusung seribu tumpeng merujuk pada malam lailatul qodar yang jatuh pada malam ganjil di bulan Ramadan.

“Makanya kirab dilakukan pada malam selikur sebagai malam ganjil. Dan pada malam lailatul qadar adalah malam seribu pahala. Lalu, jumlah pahala tersebut diibaratkan dengan jumlah seribu tumpeng,” kata dia kepada VIVAnews.com, Sabtu, 20 Agustus 2011, malam.

Selain itu, pada malam ke dua puluh satu bulan Ramadan atau malam ganjil , Nabi Muhammad SAW juga mendapatkan wahyu di Jabal Nur. Dan ketika turun dari Jabal Nur disambut oleh para sahabat dengan membawa obor selama perjalanan pulang menuju kediaman Sang Nabi.

Dengan begitu, obor yang dibawa oleh para sahabat Nabi tersebut diibaratkan dengan membawa ting pada prosesi kirab ini. Bentuk ting yang dibawa para abdi dalem pun beraneka ragam, ada yang berbentuk bintang, kotak hingga bulat lampion.

Setelah melakukan kirab dari keraton hingga masjid, selanjutnya seribu tumpeng tersebut diletakkan di serambi masjid. Lantas, tumpeng tersebut pun dibacakan doa yang diamini oleh para abdi dalem dan warga masyarakat umum.

Tak berselang lama, aba-aba untuk pembagian tumpeng pun diserukan. Lalu, beberapa perwakilan abdi dalem pun membagi-bagikan secara merata kepada peserta maupun jamaah masjid.

Namun, pemandangan ini sedikit berbeda dibandingkan tahun lalu, sebab tumpeng-tumpeng tersebut tidak diperebutkan yang menyebabkan dalam hitungan menit pun ludes. Tetapi tumpeng dibagi secara tertib oleh abdi dalem. (Laporan: Fajar Sodiq | Solo, umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com