NASIONAL

The Untold Stories

Misteri Meninggalnya Ibu Tien Soeharto

Betulkah dua anak Soeharto saling tembak lalu mengenai Ibu Tien?

ddd
Kamis, 9 Juni 2011, 06:29
Kenangan Soeharto dan Ibu Tien
Kenangan Soeharto dan Ibu Tien (wisatasolo.com)

VIVAnews - Isu tak sedap menyeruak beberapa hari setelah meninggalnya Tien Soeharto. Beredar kabar, Ibu Negara itu meninggal akibat terkena peluru nyasar dari keributan yang antara Bambang Trihatmodjo dan Hutomo Mandala Putra.

"Itu adalah rumor yang sangat kejam dan tidak benar sama sekali. Saya saksi hidup yang menyaksikan Ibu Tien terkena serangan jantung mendadak," tutur bekas ajudan Soeharto, Jenderal (Purn) Sutanto dalam buku 'Pak Harto The Untold Stories'. Buku itu diluncurkan Rabu kemarin, 8 Juni 2011 di Jakarta, memperingati ulang tahun Presdien Indonesia yang kedua itu.

Ibu Tien  Soeharto meninggal pada tanggal 28 April 1996 pukul 05.10 di RSPAD Gatoto Subroto. Dan kabar yang beredar saat itu adalah bahwa dua anak Soeharto Bambang dan Tommy sempat berebut proyek mobil nasional. Mereka berkelahi dan sempat terjadi baku tembak. Salah satu tembakan diisukan mengenai Ibu Tien.

Sutanto yang kemudian menjadi Kapolri dan kini menjabat Kepala Bin itu menceritakan bahwa sehari sebelum Ibu Tien meninggal, almarhumah sempat mengunjungi sentra pembibitan buah Mekarsari. "Agaknya Ibu Tien terlalu asyik dan gembira melihat-lihat banyaknya tanaman yang tengah berbuah. Ibu Tien lupa bahwa sebenarnya beliau tidak boleh berjalan terlalu lama dan jauh. Hal itu untuk menjaga kesehatan Ibu Tien yang sedang mengidap gangguan jantung," kisahnya.

Dalam buku itu Sutanto menulis bahwa pada 27 April 1996, Soeharto pulang dari laut memancing ikan. Dia sempat bertemu dengan istrinya itu. "Suasananya berlangsung seperti biasa. Hanya pada waktu itu, Ibu Tien harus banyak istirahat karena kelelahan," ujar bekas Kapolri itu.

Kemudian pada 28 April 1996 sekitar pukul 04.00, Ibu Tien mendapat serangan jantung mendadak. Saat itu, Ibu Tien tampak sulit bernafas. ""Dalam kondisi genting segera diputuskan untuk membawa Ibu Tien ke RSPAD Gatot Subroto. Saya melihat dokter kepresidenan Hari Sabardi memberi bantuan awal pernapasan dengan tabung oksigen. Saya sendiri turut membawa ibu negara dari rumah ke mobil dan selanjutnya ke RSPAD," tuturnya.

Saat itu, lanjut Sutanto, Tommy dan Sigit juga ikut mengantarkan ibunya ke rumah sakit.

Namun, setelah berbagai upaya penyelamatan medis dilakukan, sekitar pukul 05.10 Ibu Tien menghembuskan nafas terakhirnya. Pada saat itu, Soeharto tampak terus mendampingi istrinya di rumah sakit.

"Saya harap jangan sampai rumor tidak benar itu tetap dipercaya oleh sebagian orang yang hingga kini terus menganggapnya benar," tegas Sutanto.

Buku Untold Stories itu ditulis oleh sejumlah mantan bawahan Soeharto. Antara lain mantan Wapres Try Sutrisno, mantan Menteri Keuangan JB Sumarlin, dan sejumlah mantan menteri pada era orde baru. Sejumlah ajudan Soeharto juga berkisah lewat buku ini. Sejumlah petinggi negara tetangga seperti Mahathir Muhammad, Sultan Hasanah Bolkiah dari Brunei Darrussalam, dan mantan Presiden Philipina ikut menulis.

Lebih dari tiga puluh tahun memimpin negeri ini-- dalam cara yang penuh kontroversi-- Soeharto jatuh sesudah reli unjuk rasa mahasiswa dan kelompok pro demokrasi. Sejumlah mahasiswa meninggal dalam unjuk rasa menurunkan Soeharto. Kerusuhan Mei itu hingga kini dikenang sebagai salah satu peristiwa terburuk dalam sejarah bangsa ini.

Banyak yang memuji Soehato, tapi sungguh banyak pula  kalangan yang menuduhnya terlibat pelanggaran HAM, dari peristiwa 1965 hingga kasus Aceh. Ia juga dirundung tuduhan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) sepanjang memerintah lebih dari 30 tahun itu.

Soeharto sempat dijadikan tersangka dalam kasus KKN. Tapi dia tidak datang ke persidangan karena sakit. Belakangan sakitnya itu bersifat permanen.  Kasus itu kemudian dipendam oleh kejaksaan hingga Soeharto wafat.

Sesudah kejatuhannya, polemik tentang Soeharto terus menyala. Antara mereka yang mendukung dan massa yang menentang.

Banyak yang mendukungnya menjadi pahlawan, banyak pula yang menentang keras sebab sejumlah sejarah gelap kekerasan sepanjang massa 30 tahun harus diluruskan sebelum dia dianggap pahlawan.

Ais Ananta Said adalah anak sulung Ali Said, SH, Jaksa Agung di masa Soeharto berkuasa mendukung penuh Soeharto menjadi pahlawan. Jasa mantan presiden itu, katanya, terlalu banyak untuk diabaikan dari  gelar pahlawan. 

Sejumlah anak tokoh Partai Komunis Indonesia dan korban pelanggaran HAM menolak keras.  "Dijatuhkan rakyat, kok jadi pahlawan," tanya Ilham Aidit, anak Dipa Nusantara Aidit. (baca selengkapnya wawancara VIVAnews.com dengan Ilham di sini).

Dahlia Biki, putri Amir Biki tokoh yang tewas dalam traegdi Tanjung Priok 1984 mempertanyakan kelayakan Soeharto jadi pahlawan. Pelanggaran HAM yang dituduhkan kepadanya, kata Dahlia, harus ikut dipertimbangkan. (Baca wawancara Dahlia di sini)

Pertengahan Mei lalu, survei Indobarometer mengejutkan publik. Mayoritas responden yang disurvei ternyata sudah rindu dengan Soeharto. Meski banyak kaum cendekia yang mempersoalkan metode dan pertanyaan dalam survei ini, sosok Soeharto kembali ramai dibicarakan.  Dan Rabu kemarin, sejumlah mantan bawahannya meluncurkan buku The Untold Stories itu.

Baca Juga

Mulai Terkuak, Misteri Keringat Darah Dora

VIDEO: Penipuan SMS ‘Pulsa Mama’ Terbongkar

Kisah Pengamen Nekat Salemba

177 Sindikat 'SMS Mama' Diburu Polisi China

Garuda Indonesia Kalah Melawan Tommy Soeharto

Pengalaman Seru Bulan Madu Marshanda ke Eropa

Ruhut: Saya Pastikan Nazar Tak Datangi KPK

Data 200 Ribu Nasabah Citibank Dicuri

 

 



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
gendut
10/08/2011
temen abang gue yg TNI (paspampres) pnh crita kjadian spt itu. Thats true story..
Balas   • Laporkan
duduls
19/07/2011
di indo presiden dan rakyat dr gembel sampai tajir sama aja, sama2 cari makan....gak penting itu...kecuali ada visi dan misi membangun peradaban, baru dibutuhin presiden
Balas   • Laporkan
asrul
04/07/2011
tidak ada jaman presiden siapapun di negeri ini yang terasa aman dan nyaman bepergian kemanapun. itulah kelebihan yang tak ada bandingannya bagi pak to... camkan oleh presiden yang lain dan siapapun nanti yang jadi presidennya.
Balas   • Laporkan
be strong
01/07/2011
Jepang harus merasakan bom atom sebelum jadi negara Jepang yang sekarang Amerika harus merasakan perang berkali-kali sebelum jadi negara adidaya seperti sekarang Warga China yang terbunuh lebih dari seratus juta jiwa sebelum menjadi negara China saat ini
Balas   • Laporkan
panembahan
17/06/2011
Asal tahu saja ya..... bahwa sesungguhnya demikianlah orang memiliki kebiasaan. Kalau tidak menggunjing yang memuji. Menjadilah orang yang bijaksana sobat.
Balas   • Laporkan
verra2305
16/06/2011
ndk usah tunggu smpai di akui jadi pahlawan .. biar jadi pahlawan di hati kami orang2 yg sangat kagum sama Pak Harto!!! dan sangat mencintai Beliau. LovE YOU FULL !! sampe skarang masih kangen sama Beliau!!!
Balas   • Laporkan
babas | 03/07/2011 | Laporkan
OK BGT tuh................kangen ma karakter kepemimpinan kayak p.harto, walaupun banyak kesalahan tapi lihat/kenang pula kebaikannya....
spydycom | 16/06/2011 | Laporkan
oke ... i like
phanzphie
13/06/2011
Kangen jamannya Pak Harto... harga stabil...dolar stabil...keamanan stabil... jarang ada demo gak jelas kaya' sekarang... pers jaman dahulu juga gak kaya paparazi spt saat ini... truz neey yah...skrg..mana ada presiden mau makan tela rebus????
Balas   • Laporkan
babas | 03/07/2011 | Laporkan
parah Era Orde KORUP FULL
supriadimumbul | 01/07/2011 | Laporkan
aq sutuju banget dengan mu,mana ada presiden mau ke kampung dan sawah pas rakyat nya panen..
fairplay | 16/06/2011 | Laporkan
gw setuju banget...gw nyesel dulu ikut demo mati2an di DPR/MPR jaman reformasi( mending dulu kita rubuhin aja tu gedung sekalian)...ya memang kita meruntuhkan order baru...tapi kita memulai Orde Super Korup...korupnya lebih parah dari jaman pak Harto..dah
antonius.mursito
13/06/2011
Sebagai mantan PNS (sek. udah pensiun) memang gaji lebih besar sekarang. Tapi sebagai masyarakat yang memandang secara general, dari jaman Soekarno, Soeharto, Habiebie, Gus Dur, Megawati, SBY. Pada Jaman Soeharto jauh lebih damai, aman n nyaman.
Balas   • Laporkan
shangguriang
11/06/2011
kenapa sich pada menggunjing beliau...???kalo bener you bisa mimpin......,BUKTIKAN dulu siapa dirimu di negri ini...,ingat dan resapi kata2 ini,,"kerendahan hati disukai orang2 terkenal,namun orang yang bukan apa2,sulit untuk rendah hati"
Balas   • Laporkan
umam22 | 11/06/2011 | Laporkan
betool sodara-sodara....
damaranggara
11/06/2011
kalo memang benar Ibu Tien meninggal bukan karena kena peluru nyasar, kenapa jenazah Beliau di sembunyikan dan tidak di beritahukan ke masyarakat lewat konfrensi pers kalu Ibu Tien meninggal bukan karena kena peluru nyasar...
Balas   • Laporkan
yando01 | 01/07/2011 | Laporkan
haha,, dalem juga balesan lo bro umam.. emang bner si dulu pers gk bisa seleluasa skrg,, tp kek y lebih baik kepemimpinan waktu jaman almarhum soeharto.. TEGAS gk neko"
iphang | 11/06/2011 | Laporkan
gak usah ngurusin peluru nyasar yg dah jaman lalu, ngurusin aja banyaknya peluru nyasar jaman sekarang, ok!
umam22 | 11/06/2011 | Laporkan
lo lahir taon berapa sih.. seingat gue jaman pak Harto, nyaris gak ada yg namanya konfrensi pers.. lagian media waktu ntu, gak bisa seenak udelle dewe seperti media sekarang ini.. media sekaarang ni, bukan sekedar nyampein berita,, tapi sekaligus nyisipi


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com