NASIONAL

Ulama Perak

"Poco-poco Haram, Ganti Joget Lokal Malaysia"

Tarian Poco-poco mulai populer di negeri jiran pada 2001. Ditarikan tokoh politik.

ddd
Jum'at, 1 April 2011, 11:42
Poco-poco
Poco-poco (VIVAnews/Dokumentasi KBRI Praha)

VIVAnews - Para ulama dalam Jawatankuasa Fatwa Negeri Perak, Malaysia mengharamkan tari Poco-poco bagi umat muslim. Isu ini jadi polemik di negeri jiran.

Meski banyak pihak yang mengatakan, tak ada alasan Poco-poco diharamkan, Mufti (ulama) Perak, Tan Sri Harussani Zakaria tetap kukuh memegang pendapatnya: bahwa Poco-poco haram. Ia menyarankan, ganti saja Poco-poco dengan tarian lokal, zapin atau joget.

Menurut Harussani, penetapan fatwa haram tarian pergaulan impor dari Indonesia itu bukan tanpa alasan. Kata dia, ia telah mengecek Departemen Warisan Nasional terkait asal-usul Poco-poco. Kata dia, tarian seperti itu muncul pertama kali di Jamaika dan terkait pemujaan roh. "Elemen ini jadi alasan jelas, mengapa umat muslim tak sepatutnya ikut berpartisipasi dalam tarian itu," kata dia seperti dimuat New Straits Times, Jumat 1 April 2011.

Sebelumnya juga disebutkan, gerakan Poco-poco mengandung elemen Kristiani. Gerakan ke depan-kiri-kanan-belakang dianggap membentuk salib.

"Ketimbang Poco-poco, mengapa tidak menarikan tarian lokal Malaysia," tambah dia. Kata Harussani, tak bakal ada konflik jika umat muslim menarikan tarian Melayu. Mereka masih bisa menjaga kesehatan tanpa mengompromikan keyakinannya."

Ditambahkan dia, pelarangan ini dihasilkan dari rapat dewan fatwa Februari 2011 lalu. Meski pelarangan belum mengikat saat ini, pihaknya akan segera mendaftarkannya menjadi fatwa.

Sementara, dari pusat pemerintahan Malaysia di Putrajaya, Deputi Menteri di Kantor Perdana Menteri, Datuk Dr Mashitah Ibrahim mengatakan, jika didaftarkan menjadi fatwa, larangan tersebut hanya akan berlaku di Perak.

Menurut dia, situasi sangat berbeda di negara bagian lainnya. Ia menambahkan tak ada alasan larangan tersebut di bawa ke dewan Fatwa Nasional. "Sejauh yang saya lihat, ini hanya variasi tarian, dalam gerakan dan lagu," kata dia.

Mashitah menegaskan, kecuali ada keluhan terkait Poco-poco, tarian itu tak akan dilarang di negara bagian lain. "Sebuah fatwa hanya dikeluarkan jika ada aplikasi oleh sultan dari sebuah negara bagian, mufti, atau pengaduan dari masyarakat."

Warga Malaysia mengakui Poco-poco berasal dari Indonesia. Tarian pergaulan itu mulai dikenal di negeri jiran pada tahun 2001.

Poco-poco lantas populer, ditarikan secara meluas di Malaysia oleh semua kalangan, termasuk polisi, tentara, guru, siswa, selebriti, bahkan tokoh politik.

Ketua Pemuda Barisan Nasional, Khairy Jamaluddin mempertanyakan pelarangan itu. "Jika dilakukan untuk olahraga, tanpa tujuan tertentu, apa salahnya?" kata dia, yakin warga Malaysia tak menganggapnya mengandung elemen Kristen atau pemujaan roh.

Sementara, anggota biro politik pusat PAS, Khalid Samad mendeskripsikan putusan Poco-poco haram 'konyol' dan 'sama sekali tak bisa diterima'. "Orang melakukan Poco-poco hanya olahraga, tak ada urusan keyakinan di dalamnya," kata dia seperti dimuat The Star. (umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
sentrocampo
04/04/2011
Begini dah persoalan tidak penting malah diributkan...
Balas   • Laporkan
must_julius
01/04/2011
sensasi basi dari Malaysia, karena di sana miskin berita bermutu. huahahaha....
Balas   • Laporkan
freedom
01/04/2011
Sekalian aja batik juga diharamkan karena mengandung mistik jawa.... juga haramkan rumah-rumah tempat tinggal karena lintangan balok-baloknya atapnya membentuk palang atau salib.
Balas   • Laporkan
waukesha
01/04/2011
Bagus...Setuju... sekalian HARAM kan juga permainan Reog, Tari Pendet dan lain-lain seni budaya asli Indonesia yg ada di Malaysia...
Balas   • Laporkan
imamtaufik
01/04/2011
Kapan indonesia seberani ini.....
Balas   • Laporkan
indarto123 | 03/04/2011 | Laporkan
Indonesia memang gak berani, kami gak berani buat klaim sesuatu yg bukan punya kami, kami gak berani buat nyiksa para pekerja, juga gak berani buat bajak produk dan budaya org lain
bobbymario | 03/04/2011 | Laporkan
brani buat apa klo gak untungnya ini seni dari indonesia kan di malasya booming, di indonesia bebas buat ngapain2 dimalasya apa sebebas indonesia, malasya donk harus brani MERDEKA orang2nya jangan mati gaya aja, bisanya nyiksa TKI


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru