NASIONAL

Mitos Air Kurasan Gentong Makam Raja Mataram

Hari ini, empat gentong di Makam Raja-raja Mataram dibersihkan.

ddd
Selasa, 28 Desember 2010, 22:17
Ribuan pendukung Sri Sultan Hamengku Buwono X kunjungi makam Raja Imogiri
Ribuan pendukung Sri Sultan Hamengku Buwono X kunjungi makam Raja Imogiri (Antara/ Regina Safri)

VIVAnews - Ribuan warga Yogyakarta berebut air sisa kurasan enceh (gentong) di Puralaya, Kompleks makam raja-raja Mataram di Pajimatan, Imogiri, Bantul. Mereka  percaya air itu mendatangkan berkah dan menyembuhkan penyakit.

Ritual menguras enceh ini memang selalu dilakukan setiap tahun, tepatnya setiap  hari Jumat Kliwon di Bulan Sura. Berdasarkan penanggalan Jawa, upacara tersebut jatuh pada hari ini, Selasa 28 Desember 2010. Upacara digelar di depan pintu masuk makam Raja Sultan Agung.

Prosesi Nguras Enceh dimulai pukul 09.00 WIB. Acara dibuka dengan kenduri dan pembacaan doa bersama yang dipimpin sesepuh jurukunci Puralaya Imogiri.

Acara kemudian dilanjutkan pencucian empat enceh Nyai Danumurti, Kyai Danumaya, Kyai Mendung dan Nyai Siyem. Proses pencucian ini juga diawali dengan doa bersama di hadapan keempat enceh yang terletak di depan gerbang makam Sultan Agung.

Abdi dalem Kraton Surakarta melakukan ritual di depan enceh Kyai Mendung yang berasal dari Ngerum (Romawi) dan enceh Nyai Siyem (Siam). Sedang abdi dalem Ngayogyakarta bertugas membersihkan enceh Kyai Danumurti dan enceh Kyai Danumaya yang berasa dari Palembang.

Usai pembacaan doa, para abdi dalem Surakarta terlebih dahulu mengisi dua buah enceh Kyai Mendung dan Nyai Siam. Setengah jam berikutnya, para abdi dalem Ngayogyakarto mengisi enceh Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti.

Air yang melebur dari enceh itulah yang kemudian diperebutkan warga. Banyak warga yang langsung mengusap tangan di badan enceh kemudian mengelap di kening, kepala dan tengkuk. Sebagian lagi memasukkannya ke dalam botol bekas air minum untuk dibawa pulang. Tapi banyak pula yang langsung meminumnya, padahal air tersebut masih mentah.

"Air dari enceh ini dipercaya membawa berkah dan menyembuhkan berbagai penyakit bagi yang mempercayainya,” kata Nyoto, salah seorang warga Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, Selasa, 28 Desember 2010

Salah seorang abdi dalem Puralaya Sultan Agung Hanyokrokusumo, KRT Suryonegoro mengatakan, prosesi menguras atau membersihkan enceh ini dilakukan sejak Senin malam.  Pada pagi harinya, dilakukan pengisian kembali enceh dengan air yang diambil dari mata air Bengkung, Dlingo, sekitar 6 kilometer arah timur makam Imogiri.

”Yang diperebutkan warga adalah air sisa kurasan yang telah bercampur dengan yang diambil dari mata air. Dulu keempat enceh itu berfungsi sebagai tempat wudhu,” ujarnya.

Laporan Juna Sanbawa | Yogyakarta



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id