NASIONAL

Guterres Ditawari Xanana Bikin Partai

Namun Guterres menampik. "Saya ingin ingatkan pada Xanana, jangan Anda merasa menang."
Senin, 29 November 2010
Oleh : Arfi Bambani Amri
Mantan Wakil Panglima Pasukan Pejuang Integrasi (PPI) Timtim, Eurico Guterres

VIVAnews - Mantan Wakil Panglima Pasukan Pejuang Integrasi (PPI), Eurico Gutteres, menolak ajakan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao agar kembali ke Timor Leste. Xanana mengajak Guterres membangun partai sendiri di negeri asalnya itu.

Namun Guterres menampik tawaran itu. Dia lebih berminat membenahi Uni Timor Aswain (Untas), organisasi yang mewadahi para bekas pejuang prointegrasi dengan Indonesia.

“Bagi saya, ajakan PM Xanana boleh-boleh saja, tetapi kami belum berpikir ke sana," kata Guterres. "Untas sesungguhnya organisasi yang memang  ingin menjadi bagian dari NKRI. Oleh karena itu Untas harus membenahi diri. Untas belum berpikir untuk ke Timor Leste. Kalau Untas bisa mendirikan partai maka didirikan di Indonesia,” kata Guterres dalam jumpa pers di Kupang, Minggu 28 November 2010 malam.

Menurutnya, kalau memang Xanana ingin Untas mendirikan partai politik di Timor Leste maka sebaiknya semua pihak harus duduk untuk bicara. “Tetapi saya ingin ingatkan pada Xanana bahwa jangan Anda merasa sudah menang. Kemerdekaan kemarin bukan hasil perjuangan Xanana. Itu kebetulan saja. Yang sekarang kami inginkan adalah mari kita saling menghargai dan menghormati pilihan yang sudah ada. Jadi tidak usah mengajak orang untuk datang dan mendirikan partai. Kami tidak berpikir seperti itu. Kami hanya berpikir bagaimana membenahi Untas supaya bisa mengangkat harkat dan martabat Untas untuk tetap setia dengan NKRI,” kata Guterres.

Kongres Untas yang dibuka Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM RI, Aidir Amin Daud, Minggu malam, antara lain membahas Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, peraturan organisasi dan pemilihan kepengurusan baru.

“Kami ingin organisasi ini ke depan adalah Untas yang biijaksana. Menghargai dan menghormati perbedaan. Untas yang bersahabat, demokratis dan mendengar seluruh aspirasi warga. Untas yang menjadi mitra pemerintah pusat dan daerah,” kata Guterres.

Hal yang sama disampaikan Ketua Umum Untas Dominggos MD Soares. Menurutnya, Untas hampir dilupakan pemerintah dalam menangani warga bekas Timor Timur. “Kami harapkan ke depan bisa bermitra dengan pemerintah,” katanya.

Dirjen Administrasi Hukum dan HAM Kementrian Hukum dan HAM RI, Aidir Amin Daud, mengatakan, eks pengungsi Timor Timur sudah teruji kesetiaannya pada Indonesia. “Mereka menderita di kamp, tapi kesetiaan mereka terhadap bangsa Indonesia tidak pernah luntur,” kata Aidir.

Dia berharap Untas dapat membenahi diri untuk kemudian didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM sebagai salah satu organisasi massa di Indonesia. Kongres yang dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari seluruh Indonesia tersebut berlangsung dalam kawalan ketat aparat keamanan. Hadir dalam kongres antara lain mantan-mantan pimpinan PPI dan tokoh pro integrasi.

Laporan Jemris Fointuna | Kupang

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found