NASIONAL

Taufiq Kiemas: RMS Itu Warga Belanda

"Ini tanggung jawab pemerintah Belanda, bagaimana sikapnya terhadap Indonesia."

ddd
Kamis, 7 Oktober 2010, 14:53
Taufiq Kiemas dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
Taufiq Kiemas dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Biro Pers Istana Presiden/Abror Rizki)

VIVAnews - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Taufiq Kiemas, menyatakan sebenarnya kelompok yang mengklaim Republik Maluku Selatan bukan masalah besar bagi Indonesia. RMS itu seharusnya jadi masalah bagi Belanda.

Karena, "RMS itu warga Belanda sendiri," kata Taufiq di gedung parlemen, Jakarta, Kamis 7 Oktober 2010.

Namun, meski mereka memperjuangkan "negara" yang berbeda, sebagai sebuah negara demokrasi, Belanda membiarkan. Jadi, kata Taufiq, "Ini tanggung jawab pemerintah Belanda, bagaimana sikapnya terhadap Indonesia."

Namun Taufiq menyatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap harus memikirkan secara matang rencana ke Belanda. "Nanti dulu, lihat-lihat dulu," kata Taufiq. "Kalau menerima tamu negara, tuan rumah harus menjamin keamanan, keselamatan, harus ditanggung dengan baik oleh negara yang bersangkutan," katanya.

Sebelumnya, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menyatakan akan mengundang Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa berbicara mengenai RMS itu. DPR, kata Mahfudz, ingin tahu perihal kelompok yang mengklaim Republik Maluku Selatan (RMS). Mahfudz sendiri berpendapat, persoalan sebenarnya bukan di RMS. "RMS itu ibarat orang, tubuhnya sudah mati, rohnya gentayangan."

"Yang perlu disayangkan sikap politik pemerintah belanda terhadap RMS. Resmi mereka tidak mengakui tapi memberi kesempatan aktivitas leluasa di Belanda. Di Belanda itu, RMS bebas melakukan kegiatan, pengumpulan dana, dan macam-macam," katanya.

Selasa kemarin, Presiden membatalkan rencana ke Belanda karena ada persidangan yang menyidangkan tuntutan RMS agar SBY ditangkap. Presiden SBY menegaskan bahwa sebagai presiden suatu negara yang berdaulat, tuntutan hukum dari kelompok pemberontak RMS yang masih diproses sidang pengadilan di Den Haag itu sudah melecehkan kehormatan bangsa.

"Itu menyangkut harga diri dan kehormatan kita sebagai bangsa. Saya tahu itu adalah pengadilan biasa, tapi ini menyangkut harga diri," kata Yudhoyono dalam jumpa pers dadakan di Bandara Halim.

Dan kemarin, Pengadilan Den Haag kemudian menyatakan Presiden tak bisa ditangkap karena selaku tamu negara memiliki imunitas diplomatik. (umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
akulahkebenaran
03/07/2011
pendapat Taufik & SBY cukup dewasa, tp ada pola pkir yg lebih dewasa tp kami ragukan kemampuan bangsa ini u/melakukannya, jika RI telah berpikir "Kpn saatnya kita menjajah BELANDA???"
Balas   • Laporkan
Undang Supriatna
09/10/2010
Penundaan SBY ke Belanda sy stuju dgn. Pak Taufik. Tapi masalah RMS dianggap tak berbahaya?......wah jangan gegabah dong.... sparatis itu subversif. Masih ingat kerusuhan Maluku? siapa dalangnya? Dr. Alex Manuputi tuh dedengkotnya....ini terorisme euy
Balas   • Laporkan
decko
08/10/2010
ular beludak belanda! pelindung penghianat RMS!
Balas   • Laporkan
Cinta Indonesia
07/10/2010
350 tahun Indonesia dibodohi Belanda, jangan sampai kita kecolongan lagi, pasti ada udang di balik batu,ngga mungkin belanda baik pasti ada maunya....betul kata bang Mahfudz, RMS ibarat hantu gentayangan yang ngga memiliki raga,
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru