NASIONAL

Kisah Anak DN Aidit

44 Tahun Ilham Tak Sanggup Tulis 'Aidit'

Sejak usia 6 tahun, Ilham Aidit, sudah tahu hidupnya bakal sulit.

ddd
Jum'at, 1 Oktober 2010, 19:11
Hari Kesaktian Pancasila
Hari Kesaktian Pancasila (ANTARA/Nyoman Budhiana)

VIVAnews - Putra bungsu ketua Central Committee PKI DN Aidit, Ilham Aidit, hari ini berbaur bersama anak-anak jenderal Pahlawan Revolusi dan anak penguasa Orde Baru, Tommy Soeharto.  Ilham mengaku bersyukur diundang dan diberi kesempatan membacakan testimoni pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Dalam testimoninya di acara yang bertajuk Forum Silaturahmi Anak Bangsa ini,Ilham mengajak semua pihak berjiwa besar agar konflik masa lalu yang kelam tidak berbuntut panjang.

"Saya selalu ingin mengajak melihat peristiwa secara lebih lengkap," kata Ilham, Jumat 1 Oktober 2010.

Peristiwa pahit G30S/PKI pada 1965 lalu, kata dia,  punya ekses yang panjang. Namun sejarah hanya mencatat segelintir dari seluruh bagian kisah pedih tersebut. "Sejarah tidak pernah mencatat ratusan ribu orang yang terbunuh, ribuan orang yang dibuang ke Pulau Buru atau mereka yang tidak bisa kembali ke negaranya," kata Ilham.

Ilham berharap sejarah ditulis secara lengkap untuk pembelajaran bagi generasi berikutnya mengenai apa yang sebenarnya pernah terjadi di Indonesia.

Meski demikian, Ilham mendukung seluruh anak bangsa melakukan rekonsiliasi demi kemajuan Indonesia dan memaafkan dengan jiwa besar menerima apa yang telah terjadi. "Rekonsiliasi butuh sikap ksatria dan jiwa besar harus kita wariskan pada generasi berikutnya," kata Ilham.

Kisah Pilu

Ilham lalu menceritakan kisah pahitnya saat masih berusia 6 tahun. Ketika itu ia sedang bermain di luar rumah. Tiba-tiba ia melihat ada tulisan besar 'gantung Aidit, bubarkan PKI' di sebuah tembok. Ilham kaget bukan kepalang karena beberapa waktu lalu dirinya masih melihat ayahnya, DN Aidit, berpidato di Istora Senayan. Belakangan Ilham baru tahu situasi begitu cepat berubah.

"Sejak itu saya tahu hidup saya akan sulit, karena Bapak saya dicap sebagai musuh besar bangsa," kata Ilham.

Dugaan Ilham ternyata tidak salah. Dirinya jadi sering berkelahi karena tidak terima dengan ejekan  mengenai ayahnya yang dikait-kaitkan dengan PKI. "Saya melawan, saya harus lawan orang yang meledek saya," kata Ilham.

Meski di sekolah Ilham dikenal termasuk murid yang berprestasi tapi dirinya juga terkenal tukang berkelahi. "Saya juara kelas, tapi saya
berkelahi terus," kata Ilham.

Hingga seorang pastor menegurnya, agar jangan terus berkelahi demi kelulusannya. Ilham menuturkan perkataan sang pastor, "Nilai kamu bagus, saya tahu siapa kamu, kamu harus berhenti berkelahi. Kalau kamu berkelahi terus kamu bisa-bisa tidak lulus."

Dan yang paling menderita bagi Ilham adalah dirinya tidak bebas menuliskan namanya secara lengkap: Ilham Aidit. Dengan nada getir
Ilham menceritakan dulu setiap menulis nama, tangannya selalu berhenti dan gemetar begitu selesai menulis 'Ilham'. Dia merasa tak sanggup melanjutkan untuk menulis 'Aidit' sebagai bagian dari kepanjangan namanya.

"Tangan saya diam agak lama, selalu begitu. Saya harus berhenti menggunakan nama itu. Sampai umur 44 tahun saya tidak menggunakan nama saya," kata Ilham. (hs)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
ipmawan.taryono
16/05/2012
tdk ada yang benar 100% dan salah 100% saya kira sekecil apapun perjuangan pendahulu kita tetap harus dihargai. yg ngaku-ngaku ideologis malah kadang lebih ateis dari yg ateis.
Balas   • Laporkan
tukang oncom
18/10/2010
tapi nt bukan PKI kan...?? itu aja yang penting... orang tua boleh salah.. tapi anak belum tentu.. nah kalo mo beli tanah di bogor ke =http://hotel-forsale.blogspot.com== aja yah...
Balas   • Laporkan
keith
01/10/2010
halo gank.. jangan takut untuk bersikap.. dan selalu tetap berdoa agar negeri kita tidak menjadi negeri pedendam..
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id