NASIONAL

Kemarau Basah, Harga Kopi Anjlok

Karena sering hujan aroma dan rasa kopi berubah, selain sulit mengeringkan biji kopi.

ddd
Selasa, 21 September 2010, 17:09
 
  (Antara/ Anis Efizudin)

SURABAYA POST - Kemarau disertai hujan juga menurunkan kualitas kopi di Probolinggo hingga harganya anjlok 40–55 persen. Sejumlah petani di sentra penghasil kopi di lereng Gunung Argopuro, Kabupaten Probolinggo, mengeluhkan dampak buruk hujan.

“Karena sering diguyur hujan, aroma dan rasa kopi pun berubah. Belum lagi sulitnya mengeringkan biji kopi karena jarang panas,” ujar Andik Purnomo, petani kopi di Desa Tlogoargo, Kec Tiris, Kab Probolinggo.

Akibatnya, harga kopi turun hingga sekitar 40-55 persen setelah Lebaran 2010. Harga kopi unggulan Probolinggo, kopi Nangka (daunnya mirip daun nangka) kini paling mahal, Rp 14 ribu/kg. “Padahal, selama bulan Puasa lalu harga kopi nangka lumayan mahal, Rp 24 ribu per kilogram,” ujar Tutik Sayekti, bidan desa yang juga petani kopi di Tlogoargo.

Kopi Arabika yang selama bulan Puasa menembus Rp 20 ribu/kg, pasca Lebaran anjlok menjadi Rp 12 ribu. ’’Selain itu ada kopi yang tidak jelas varitasnya yang biasa disebut kopi biasa harga lebih rendah lagi, Rp 9 ribu padahal sebelumnya masih laku Rp 16 ribu,” ujar Andik.

Soal anjloknya harga kopi juga diakui Awir, petani asal Desa Ranugedang, Kec. Tiris. ’’Kalau terlalu banyak diguyur hujan daun kopi bisa luruh, selain itu aroma biji kopi berkurang,” ujarnya.

Saat hujan, pengolahan pasca panen kopi juga menjadi kendala tersendiri. Sebab selama ini para petani kopi mengandalkan pengeringan alami dengan sinar matahari. Tiadanya lantai jemur memadai membuat petani menjemur kopi di sembarang tempat. Bahkan jalan beraspal menjadi lantai jemur saat panen kopi.

Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kab Probolinggo Ir Nanang Trijoko Suhartono mengatakan, faktor hujan yang mempengaruhi kualitas kopi petani memang sulit diatasi. ’’Kalau sudah bicara pengaruh cuaca saya angkat tangan, itu faktor alam,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Disbunhut, areal kopi di Kab Probolinggo terhampar seluas 2.333 hektare (Ha) di sejumlah kecamatan. Mulai di Kec. Tiris dan Krucil (lereng Gunung Argopuro) dan di Kec Gading dan Pakuniran. Selain itu kopi juga terhampar di Kec Sukapura, Sumber, dan Lumbang (lereng Gunung Bromo).

Dari hamparan kopi seluas itu, sebagian besar adalah kopi Robusta (90 persen) dan Arabika (10 persen). Produksinya tercatat 500-650 kg/Ha. Sehingga dengan luas areal 2.333ha, produksi total kopi di Probolinggo antara 1.166.500-1.516.450 kg per tahun.

Kecamatan Sumber menjadi areal pengembangan kopi seluas 775 Ha (33,22%) dari total areal kopi di Kab Probolinggo. Di lereng Gunung Bromo itu Pemkab menggandeng perusahaan swasta menanam kopi Arabika Timtim (berasal dari Timor Leste). Penanam kopi di Kec Sumber dilakukan dengan sistem bagi hasil. Kelak setelah kopi dipanen, hasilnya 80 persen untuk petani dan 20 persen untuk rekanan (swasta).

Selain ditanam di Kec. Sumber, kopi Arabika Timtim juga dikembangkan di Krucil dan Tiris (lereng Gunung Argopuro). Kopi Arabika Timtim yang bibitnya berasal dari Sumatera kemudian dikarantina di Bandung itu tergolong baru di Probolinggo. Sebelumnya, petani Probolinggo biasa menanam bibit kopi Robusta bersertifikasi yang diproduksi  Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Jember.

Laporan: Ikhsan Mahmudi



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id