NASIONAL

Suhu Naik, Terumbu Karang di Aceh Rusak Parah

"Ini tragedi. Tak hanya untuk keanekaragaman hayati terumbu karang dunia, juga manusia."

ddd
Rabu, 18 Agustus 2010, 11:21
terumbu karang perairan Pulau Hoga, Wakatobi, Sulawesi
terumbu karang perairan Pulau Hoga, Wakatobi, Sulawesi (Antara/ Prasetyo Utomo)

VIVAnews -- Salah satu indikasi kerusakan terumbu karang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah  sedang terjadi di bawah laut Indonesia.

Karang mengalami pemutihan dengan cepat akibat tingginya suhu permukaan air laut. Lembaga konservasi, The Wildlife Conservation Society (WCS) mengatakan, kenaikan suhu permukaan laut yang dramatis diduga kuat bertanggung jawab atas kehancuran tersebut.

Mei lalu, WECS mengirimkan tim yang terdiri dari para ahli biologi untuk menginvestigasi pemutihan terumbu karang di Aceh. Survey dirasakan mendesak, sebab, lebih dari 60 persen karang di wilayah tersebut memutih.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dikeluarkan awal Agustus, ini adalah peristiwa matinya karang terparah yang pernah dicatat. Para ilmuwan menemukan 80 persen spesies akan mati hanya dalam beberapa bulan ke depan.

"Ini adalah tragedi. Tak hanya untuk keanekaragaman hayati terumbu karang dunia, tapi juga untuk manusia yang tinggal di wilayah itu."

"Banyak dari mereka sangat miskin dan bergantung pada terumbu karang untuk makanan maupun mata pencaharian mereka," kata Direktur Program Kelautan WCS, Caleb McClennen, seperti dimuat laman Christian Science Monitor.

Seperti diketahui, terumbu karang adalah tempat berlindung  ikan dan makhluk laut lainnya. Ikan-ikan  besar cenderung berkumpul di sekitar terumbu -- yang menyediakan pakan yang baik untuk mereka.

Pemutihan karang terjadi ketika algae yang hidup di jaringan karang mati. Ini adalah indikasi stres yang disebabkan perubahan lingkungan yang drastis -- salah satunya fluktuasi suhu laut. Karang yang mengalami penutihan bisa pulih atau bahkan mati.

Ilmuwan menemukan, kejadian ini adalah akibat dari kenaikan suhu air laut di Laut Andaman -- area perairan yang meliputi wilayah Myanmar, Thailand, Andaman, Kepulauan Nicobar, dan wilayah utara Indonesia.

Menurut data yang terdapat dalam situs National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), suhu di area ini naik drastis Mei lalu sampau 34 derajat Celcius -- atau naik 4 derajad dari suhu rata-rata.

"Ini adalah perkembangan yang mengecewakan terutama mengingat fakta bahwa karang yang sama terbukti tahan terhadap gangguan ekosistem, bahkan tsunami di Samudera Hindia tahun 2004," kata Direktur Program Kelautan WCS  Indonesia, Stuart Campbell.
 
Terumbu karang terbukti tidak dapat melindungi diri dari kenaikan suhu air laut. Mutlak diperlukan  upaya internasional untuk menghentikan penyebab dan dampak perubahan iklim.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
hanafi_genteng
18/12/2010
ya biasalah...kalo gawat baru gerak....
Balas   • Laporkan
bayu
18/08/2010
asstaghfirlloh hal adzim??????
Balas   • Laporkan
antonius
18/08/2010
kalau udah begini pastideh baru pada panik and care sama alam dan biasanya pasti lagi2x alam yang disalahkan...manusia gitu loo.....
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru