NASIONAL

Bubur Samin, Menu Khas Berbuka Warga Solo

Diperkirakan tradisi ini muncul sekitar tahun 1950, waktu itu hanya untuk jamaah masjid.

ddd
Jum'at, 13 Agustus 2010, 11:14
proses pembuatan bubur samin
proses pembuatan bubur samin (Fajar Sodiq (VIVAnews))

VIVAnews - Bagi masyarakat sekitar Masjid Darussalam Jayengan Kidul, Serengan, Solo, Jawa Tengah, nama bubur samin sudah sangat lekat dengan tradisi berbuka puasa.

Makanan ini pertama kali diperkenalkan oleh sejumlah pedagang permata dan berlian asal Martapura, Kalimantan Selatan yang saat itu berdagang di Solo, dan ditularkan ke masyarakat setempat.

Asal muasal nama bubur samin, karena warna bubur menyerupai warna minyak samin yang kekuning-kuningan. Setiap Ramadan selalu tersaji di masjid yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat perantau maupun orang keturunan Martapura.

Tradisi ini muncul sekitar tahun 1950, awalnya disajikan sebagai menu buka puasa di Masjid Darussalam. Waktu itu masih sebatas dibagikan kepada para jamaah masjid yang kebetulan mengambil takjilan di masjid.

Seiring perkembangan, bubur samin kini bisa disajikan di rumah. Maka tidak heran, jika selepas adzan Ashar banyak sekali warga dari berbagai daerah di Kota Solo menenteng rantang untuk meminta secara cuma-cuma bubur itu dibawa pulang.

Takmir Masjid Darussalam, Anwar mengatakan karena niatnya bershodaqoh, maka siapa pun saja bisa meminta bubur samin. Baik, dari kalangan masyarakat menengah ke bawah maupun menengah ke atas.

"Ada buruh bangunan, tukang becak, supir taksi hingga bos-bos. Namun, mereka tetap berbaur menjadi satu. Ini merupakan wujud kerukunan yang tidak membedakan status sosialnya," tegas dia kepada VIVAnews di Solo, Kamis, 12 Agustus 2010

Bubur yang terbuat dari bahan baku beras, daging sapi dan bumbu rempah-rempahan itu setiap harinya menghabiskan beras sebanyak 40 kilogram ditambah daging sapi 7 kilogram.

Dari jumlah tersebut nantinya akan dibagi menjadi 250 piring bubur samin, untuk jamaah masjid dan 750 piring yang dibawa pulang oleh masyarakat.

Selain bubur samin, pihak takmir juga menyediakan sajian menu minumah khas, yakni kopi susu, yang setiap harinya menghabiskan 1,5 kilogram, 8 kaleng susu putih dan 7 kilogram gula. Minuman yang disajikan secara hangat itu sangat pas dengan menu bubur samin plus kurma sebagai makanan pembuka.

Biaya yang dikeluarkan setiap harinya untuk membuat bubur samin dan minuman kopi susu, mencapai Rp 1,5 juta per hari. (adi)

Laporan: Fajar Sodiq | Solo



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
suyono
13/08/2010
salut buat kota rukun seperti solo,.harusnya ini menjadi contoh buat kalangan masyarakat indonesia sluruhnya..harusnya pemerintah atau pihak terkait tidak tingal diam hal ini,.kenapa tradisi yg sperti ni tidak di tularkan ke masyarakat lainya,.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id