NASIONAL

Kisah Kampung Islam Bugis di Bali

Kampung seluas 2,5 hektar ini hanya dihuni sekitar 70 kepala keluarga atau 280 warga Islam
Kamis, 12 Agustus 2010
Oleh : Amril Amarullah
makam Syeikh Haji Mu'min di perkampungan Islam di Bali

VIVAnews - Kampung Islam Bugis, begitulah desa ini lebih dikenal masyarakat. Desa yang merupakan salah satu saksi sejarah keberadaan agama Islam di Bali ini terletak di Pulau Serangan, pulau kecil yang terpisah dengan daratan Pulau Bali berjarak 17 Kilometer arah selatan kota Denpasar.

Namun kedua pulau ini tidak lagi terpisah, sebab pada tahun 1995 dibangunlah sebuah dermaga kecil dan jembatan yang menghubungkan Pulau Bali dan pulau Serangan.

Kampung seluas 2,5 hektar ini dihuni oleh sekitar 70 kepala keluarga atau 280 warga muslim. Warga kampung yang dikelilingi oleh perkampungan Hindu dengan sejumlah Pura ini memiliki mata pencaharian sebagai nelayan karena letaknya yang dekat dengan pesisir pantai.

"Beberapa peniliti mengatakan kampung ini sudah ada sejak abad ke-17 masehi, warga kami mengetahuinya dari para leluhur yang turun-
temurun," ungkap Mochammad Masyur (70), salah satu tokoh masyarakat di Kampung Islam Bugis, kepada VIVAnews, 11 Agustus 2010.

Menurut cerita, keberadaan kampung ini berawal dari kedatangan seorang bangsawan bernama Syeikh Haji Mu dan 40 anak buah kapalnya (ABK) melarikan diri dari Makasar, Ujung Pandang karena tidak sefaham dengan Belanda sebagai efek dari perjanjian Bongaya.

"Tapi, saat Syeikh Haji Mu tiba di pulau ini justru dicurigai pihak kerajaan Badung Bali sebagai mata-mata Belanda. Kemudian ditawanlah Syeikh Haji," jelas Mansyur.

Selama ditawan oleh kerajaan Badung Bali, Syeikh Haji Mu dan anak buahnya berhasil meyakinkan Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan III, bahwa Syeikh bukanlah mata-mata Belanda. Akhirnya rombongan Syeikh Haji Mu dibebaskan dan tinggal di Istana Puri Pemecutan untuk sementara.

"Hingga kemudian mendiami kampung Gelagi Gendong, sebelah barat kerajaan agar tidak bercampur dengan warga," kata Masyur.

Kebiasaan dan keahlian perantau Bugis itu melaut, membuat mereka semakin di senangi. Hingga akhirnya mereka dipindahkan dari Kampung Gelagi Gendong ke Pulau Serangan yang saat itu masih berupa hutan.

"Hasil tangkapan nelayan mereka pun dapat dinikmati oleh orang Hindu di sekitar kampung kami, dengan menjualnya," jelas Mansyur.

Sejak itulah Syiekh Haji Mu dan pengikutnya menetap Pulau Serangan. Hubungan antara perantau Bugis dengan Kerajaan Badung yang terus terjalin dengan baik.

Karena hubungannya yang erat dengan kerajaan Badung, Haji Mu meminta ijin kepada Raja Pemecutan untuk membuatkan satu tempat kecil untuk beribadah, atau mushola.

Hingga kini masih berdiri kokoh, namun sudah direnovasi dan berubah menjadi masjid yang diberi nama As-syuhada.

Dikampung itu pula terdapat sebuah kuburan Bugis Kuno yang saat ini khusus digunakan untuk mengubur warga kampung Islam Bugis. Di makam yang kuno tersebutlah Syeikh Haji Mu dimakamkan, beserta pengikutnya, hingga turun temurun. (hs)

Laporan : Peni Widarti | Bali

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found