NASIONAL

Isi Lengkap Surat Hendra untuk SBY

SBY diminta tidak tinggal di Cikeas karena menyengsarakan pengguna jalan.

ddd
Jum'at, 16 Juli 2010, 17:35
 
  (Biro Pers Istana Presiden/Abror Rizki)

VIVAnews -Hendra NS, seorang warga Cibubur, berkeluh kesah soal rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  yang kadang bikin macet  jalur tol Cibubur. Dia juga mengeluhkan perlakuan salah satu oknum Patroli Pengawal (Patwal) Presiden, yang menurut Hendra main hardik sebelum Presiden lewat.

Hendra menulis semua keluh kesahnya itu di Harian Kompas, Jumat 16 Juni 2010. Ini versi lengkap surat itu.

Trauma oleh Patwal Presiden

Sebagai tetangga dekat Pak SBY, hampir saban hari saya menyaksikan arogansi Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi. Karena itu, saya --juga mayoritas pengguna jalan itu-- memilih menghindar dan menjauh bila terdengar sirene Patwal.

Namun, kejadian Jumat (9/7) sekitar pukul 13.00 WIB di Pintu Tol Cililitan (antara Tol Jagorawi dan tol dalam kota) sungguh menyisakan pengalaman traumatik, khususnya bagi anak perempuan saya. Setelah membayar tarif tol dalam kota, terdengar suara sirene dan hardikan lewat mikrofon untuk segera menyingkir. Saya pun sadar, Pak SBY atau keluarganya akan lewat. Saya dan pengguna jalan lain memperlambat kendaraan, mencari posisi berhenti paling aman.

Tiba-tiba muncul belasan mobil Patwal membuat barisan penutup semua jalur, kira-kira 100 meter setelah Pintu Tol Cililitan. Mobil kami paling depan. Mobil Patwal yang tepat di depan saya dengan isyarat tangan memerintahkan untuk bergerak ke kiri. Secara perlahan, saya membelokkan setor ke kiri.

Namun, muncul perintah lain lewat pelantam suara untuk menepi ke kanan dengan menyebut merek dan tipe mobil saya secara jelas. Saat saya ke kanan, Patwal di depan murka bilang ke kiri. Saya ke kiri, suara dari pelantam membentak ke kanan. Bingung dan panik, saya pun diam menunggu perintah mana yang saya laksanakan.

Patwal di depan turun dan menghajar kap mesin mobil saya dan memukul spion kanan sampai terlipat. Dari mulutnya terdengar ancaman, "Apa mau Anda saya bedil?"

Setelah menepi di sisi paling kiri, polisi itu menghampiri saya. Makian dan umpanan meluncur tanpa memberi saya kesempatan bicara. Melihat putri saya ketakutan, saya akhirnya mendebatnya. Saya jelaskan situasi tadi. Amarahnya tak mereda, malah terucap alasan konyol tak masuk akal seperti "dari mana sumber suara speaker?", atau "mestinya kamu ikuti saya saja", atau "tangan saya sudah mau patah gara-gara memberi tanda ke kiri".

Permintaan saya dipertemukan dengan oknum pemberi perintah dari pelantam tak digubris. Intimidasi hampir 10 menit yang berlangsung tepat di depan Kantor Jasa Marga itu tak mengetuk satu pun dari anggota Patwal lain yang menyaksikan kejadian itu. Paling tidak, menunjukkan diri sebagai pelayan pelindung masyarakat.

Karena dialog tak kondusif, saya buka identitas saya sebagai wartawan untuk mencegah oknum melakukan tindak kekerasan. Ia malah melecehkan profesi wartawan dan tak mengakui perbuatannya merusak mobil saya. Identitasnya tertutup rompi. Oknum ini malah mengeluarkan ocehan, "Kami ini tiap hari kepanasan dengan gaji kecil. Emangnya saya mau kerjaan ini?"

Saat rombongan SBY lewat, ia segera berlari menuju mobil PJR-nya, mengikuti belasan temannya meninggalkan saya dan putri saya yang terbengong-bengong.

Pak SBY yang kami hormati, mohon pindah ke Istana Negara sebagai tempat kediaman resmi presiden. Betapa kami saban hari sengsara setiap Anda dan keluarga keluar dari rumah di Cikeas. Cibubur hanya lancar buat Presiden dan keluarga, tidak untuk kebanyakan warga.

HENDRA NS
Cibubur



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
Tetangga SBY
24/07/2010
SBY ini kalo lewat tol bayar gak ya. KALO GAK JANGAN BELAGU DEH, KAYA MAFIA AJA DIKAWAL2 BODYGUARD!!!!!
Balas   • Laporkan
Jalinus
22/07/2010
Saya pikir hampir semua masyarakat pengguna jalan di wilayah cilengsi-cibubur sd cawang sangat setuju kalau pak sby pindah saja ke istana atau menggunakan helikopter saja untuk pulang pergi dari cikeas ke istana atau sebaliknya.........
Balas   • Laporkan
no name
21/07/2010
SALAH PILIH...!!!
Balas   • Laporkan
tangerang man
20/07/2010
contoh donk presiden Iran...sangat bersahaja hidupnya! nyadar bgt kalo presiden itu hidup untuk rakyatnya!
Balas   • Laporkan
Tari
19/07/2010
Pak Pres; jalan itu kan jln rakyat, kalau tol mesti bayar pula, jadi ya para pejabat itu merakyatlah, teramat sakit hati ini kalau ditahan luaammaa bgt di tol cawang sering > setengah jam. Waduh pak, tdk adakah setitik rasa sungkan (kan org jawa) bikin or
Balas   • Laporkan
Titis Widhi Astu
18/07/2010
sudah dari dulu penguasa selalu menindas rakyatnya, mau zaman penjajahan atau zaman sudah merdeka ya sama saja. Bedanya, kalu zaman penajajahan, pemerintah penjajah yang menindas rakyat negeri jajahannya, nah kalau zaman merdeka, ya penguasa yang sah, dal
Balas   • Laporkan
Hendro
18/07/2010
waduhh, kok kebangetan sih pak pengawal, mbok ya ngomongnya itu yang enak, sopan ke masyarakat...meskipun anda seorang aparat, anda juga bagian dari masyarakat Indonesia... apakah aparat dibentuk untuk memusuhi rakyat, jika seperti itu lebih baik aparat y
Balas   • Laporkan
I i n
18/07/2010
"lagu" lama yang masih eksis sampai sekarang....
Balas   • Laporkan
Wan E.
17/07/2010
saya memahami sikap oknum polisi yang menghardik Sdr. Hendra karena dia hanya menjalankan tugas protokoler dan yang perlu diperbaiki adalah sistem protokoler itu sendiri supaya luwes dan santun, saya yakin kalau presidennya baik semua yang dilakukannya pa
Balas   • Laporkan
budi
17/07/2010
patwalnya di kasih trainning soft skill pak, biar murah senyum dan gak kalapan kerjanya....
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru