NASIONAL

Agus Yudhoyono Lulus dari Harvard

Putra tertua Presiden ini berhak menyandang gelar Master of Public Administration
Senin, 31 Mei 2010
Oleh : Arfi Bambani Amri
Agus Harimurti Yudhoyono usai menerima ijazah master NTU

VIVAnews - Putra pertama pasangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Bambang Yudhoyono, Kapten Agus Harimurti Yudhoyono, telah menyelesaikan pendidikannya di John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Agus berhak menyandang gelar Master of Public Administration.

Agus diwisuda pada Kamis 27 Mei 2010 yang lalu bersama 577 rekannya yang mewakili lebih dari 80 negara. Dengan kelulusan ini, Agus punya dua gelar akademis: MSc dan MPA. Gelar MSc sudah diperoleh empat tahun lalu.

Prosesi wisuda berlangsung sangat meriah. Puluhan ribu orang yang datang. Agus sendiri datang didampingi istri, Annisa Harimurti Yudhoyono, dan putrinya, Almira Tunggadewi Yudhoyono. “Ini merupakan salah satu momen terindah dalam hidup saya," kata Agus dalam pesan elektronik ke situs resmi Presiden, Senin 31 Mei 2010.

Agus termasuk salah satu mahasiswa program platinum Kennedy School, yaitu Edward S. Mason Fellowship bagi mahasiswa internasional dari negara-negara berkembang, termasuk China, India, dan Brasil. Alumni Mason Fellowship, antara lain PM Singapura Lee Hsien Loong dan Presiden Meksiko Felipe Calderon.

Program studi yang diikuti Agus adalah Master in Public Administration/Mid Career (MPA/MC) yang hanya berdurasi 1 tahun. Mahasiswa peserta program Mid Career harus memiliki pengalaman profesional paling tidak 8 tahun. Agus adalah satu-satunya perwira militer (mahasiswa internasional) yang mengikuti program ini.

Agus, 32 tahun, masuk ke Kennedy School of Government pada Juli 2009, dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu satu tahun. Program tersebut bersifat non-tesis dan Agus mengambil 9 modul yang umumnya terkait dengan kepemimpinan dan manajemen, kebijakan luar negeri, ekonomi, ilmu politik, serta pertahanan dan keamanan.

Untuk program MPA/MC, ada 210 mahasiswa, termasuk 77 mahasiswa peraih Mason Fellowship yang datang dari berbagai latar belakang profesi dan kebangsaan. Kuliah diawali dengan program khusus bagi Mason Fellowship selama dua pekan.

“Kegiatannya sangat intensif, setiap hari dari pagi hingga sore, di antaranya melakukan analisis terhadap berbagai contoh kasus yang dihadapi negara-negara berkembang, mulai dari pembangunan ekonomi, demokrasi, desentralisasi, korupsi dan masih banyak lagi,” Agus menjelaskan.

Program dilanjutkan dengan kelas musim panas (summer course) bagi seluruh mahasiswa Mid Career selama satu bulan. Di sini awal bergabungnya Mason Fellowship dengan mahasiswa dari negara-negara maju, seperti AS, Kanada, Perancis, Inggris, Jerman, Jepang, Australia, Israel, dan lainnya.

“Setiap hari kami dibekali dengan ekonomi mikro dan metode kuantitatif sebagai alat dalam analisis kebijakan,” Agus bercerita. Setelah itu, Agus mengikuti modul untuk Fall Semester dan Spring Semester.

Secara umum, Agus menyelesaikan seluruh program itu dengan baik dengan hasil cukup memuaskan. Selain ujian, tugas-tugas yang diberikan rata-rata berbentuk policy memo atau rekomendasi dan presentasi. Interaksi di dalam maupun di luar kelas sangat dinamis. Salah satu yang paling bernilai adalah kesempatan berdiskusi dengan sesama mahasiswa, dimana masing-masing memiliki pengalaman sangat berharga di bidangnya.

Agus juga sempat diminta untuk memberikan presentasi di hadapan seluruh mahasiswa Mid Career tentang pengalaman sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon. “Saya ambil kesempatan itu sebaik-baiknya untuk memaparkan komitmen dan peran Indonesia dalam perdamaian dunia. Mereka memberikan apresiasi yang luar biasa,” kata Agus.

“Alhamdulillah, banyak sekali profesor dan mahasiswa yang memberikan apresiasi positif terhadap Indonesia sebagai negara yang demokratis dan juga telah mencapai sejumlah capaian, baik di bidang ekonomi, pemberantasan korupsi, penanggulangan terorisme, penyelesaian konflik Aceh dan aktif dalam kampanye perubahan iklim,” Agus menjelaskan.

Agus seringkali menjadi narasumber di kelas dalam pembahasan isu-isu tertentu. Indonesia dinilai sebagai role model tidak hanya oleh negara berkembang, tetapi juga oleh sejumlah negara maju. Cukup banyak teman-teman Agus yang tertarik untuk mencari pekerjaan atau melakukan penelitian di Indonesia setelah lulus dari Universitas Harvard.

Agus Harimurti Yudhoyono menyelesaikan pendidikan di SMA Taruna Nusantara tahun 1997 dan melanjutkan ke Akademi Militer. Mengikuti jejak sang ayah yang merupakan lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Darat tahun 1973, Agus juga merupakan lulusan terbaik Akademi Militer tahun 2000. Agus kemudian menyelesaikan gelar Master di bidang Strategic Studies di Institute of Defence and Strategic Studies, Nanyang Technological University (NTU), Singapura, pada 2006.

Sebelum berangkat untuk melanjutkan pendidikan ke Harvard, Kapten Agus mengabdi pada kesatuannya Yonif Linud 305/Tengkorak, Kostrad, Karawang, Jawa Barat. Agus juga ikut serta dalam Pasukan Garuda XXIII/A yang telah diberangkatkan sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL). Ia tergabung dalam Yonif Mekanis. (umi)

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found