NASIONAL

Hotel Terapung Maninjau Menunggu Investor

Jika terrealisasi, hotel terapung ini akan menjadi yang pertama di dunia.
Selasa, 25 Mei 2010
Oleh : Arfi Bambani Amri
Rancangan hotel terapung di Danau Maninjau

VIVAnews - Hotel terapung di Danau Maninjau menjadi ide besar alumnus Insitut Teknologi Bandung (ITB) Zukri Saad. Meskipun masuk dalam program lanjutan relokasi korban gempa Tanjung Sani, Kabupaten Agam, jika ada investor proyek ini bisa langsung dimulai.

“Ini investasi yang menarik tentunya karena jika terwujud, akan menjadi hotel terapung pertama di dunia,” ujar Zukri Saad pada VIVAnews, Selasa, 25 Mei 2010.

Menurut mantan Direktur Walhi ini, konsep hotel terapung ini tentunya akan menelan biaya besar. Biaya terbesar itu ada pada penempatan pelampung sebagai penopang bangunan yang ada di atas air.

Satu pelampung untuk satu unit rumah terapung menghabiskan dana Rp 30juta. Dan jika pelampung tersebut dilakukan untuk membangun hotel, tentunya akan menghabiskan banyak pelampung sesuai dengan luas bangunan. Untuk mengintegarasikan antar-bangunan hotel, juga dibutuhkan pelampung untuk menopang jembatan.

Hotel terapung ini juga dibangun dalam tiga kelas hunian dari deluxe hingga president suite. Hanya saja, ujar Zukri, konsep ini menjadi konsep berikutnya setelah rumah terapung bagi korban gempa terwujud.

“Di lokasi hotel, tepatnya di tengah danau, akan kita bangun tempat pendaratan (landing) paralayang yang berukuran 60 x 60 meter,” katanya. Kawasan Danau Maninjau terkenal dengan olahraga paralayang yang berada di Puncak Lawang, sebuah pebukitan beberapa kilometer dari danau.

Menurutnya konsep ini bisa dibagi antara masyarakat sekitar danau dengan investor. Dan hal ini, menurutnya, investasi menarik bagi para investor. Terkait masalah sanitasi, setiap bangunan akan dilengkapi bioseptic tank yang berada di kedalaman 4 meter di bawah permukaan air.

Pengelolaan air limbah dilakukan dengan sistem  Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menggunakan mikroba sehingga akan kembali normal sebagaimana kondisi air danau. “Bioseptic tank ini sekali lima tahun akan disedot sehingga ramah lingkungan,” katanya.

Hal serupa juga akan diterapkan pada rumah terapung bagi 3.802 warga korban gempa di Tanjung Sani, Kabupaten Agam. Sebanyak 798 unit rumah terapung akan dibangun dengan biaya mencapai Rp 50 miliar. Biaya satu unit rumah ditaksir akan menghabiskan biaya Rp 68 juta—Rp 38 juta untuk material bangunan dan Rp 30 juta untuk pelampung. (wm)

Laporan Eri Naldi | Padang

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found