NASIONAL

Entreupreneur Penghafal Alquran Dibangun

Pembangunan ponpes ini untuk menjawab tantangan alumni ponpes khuffadz.

ddd
Minggu, 23 Mei 2010, 17:52
 
  (VIVAnews/Tri Saputro)

SURABAYA POST - Pondok Pesantren Entrepreneur Penghafal Quran (PEPQ) di kawasan Gunung Anyar mulai dibangun. Pembangunan ponpes ini untuk  menjawab tantangan alumni ponpes khuffadz yang minim skill kewirausahaan. Pembangunannya ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh, Sabtu 22 Mei 2010.

Menurut Ketua Yayasan Nurul Hayat, Muhammad Molik, pesantren yang dibangun di atas lahan seluas 600 m2 itu akan memfokuskan diri memberi pembinaan terhadap semangat dan skill kewirausahaan. "Kami ingin jadi pesantren khuffadz yang fokus pada kemampuan kewirausahaan santri," tutur Molik.

Khuffadz adalah sebutan bagi penghafal Al Quran. Dia mengatakan banyak alumni pondok yang kesulitan bersaing di dunia kerja setelah lulus mondok. Hal ini disebabkan karena ketiadaan bekal wirausaha dan keterbatasan kompetensi.

Padahal menurut statistik 2005 disebutkan bahwa Jawa Timur menempati posisi teratas dalam jumlah ponpes. Jumlahnya mencapai 3.582 buah seperti yang terdaftar di Departemen Agama saat itu. Dari ribuan ponpes, beberapa di antaranya adalah pesantren untuk menghafal Al Quran (Ponpes Tahfidz).

Dijelaskan Molik, meski ketekunan dan kesungguhan menghafal Al Quran mengantarkan mereka menjadi manusia mulia seperti yang disebutkan di banyak riwayat hadis. Namun, di lapangan secara materi para penghafal Al Quran jauh dari standar hidup berkecukupan.

Sehingga muncullah ide untuk membangun pesantren PEPQ ini. "Walaupun bernama pesantren tapi kurikulum utamanya akan dibuat seperti sekolah entrepreneur dan aplikatif dengan dunia kerja," tegas pemilik usaha Jamu Madura tersebut.

Nantinya khuffadz ini akan dibimbing untuk mengembangkan kompetensi diri tetapi tetap memberikan pengayaan terhadap paham ke-Islam-an mereka seperti belajar ilmu tafsir dan hadis dalam ruang kuliah.

Untuk materi pengembangan jiwa kewirausahaan, 50 % dilakukan dalam metode praktikum baik terjun di lapangan maupun di laboratorium. Sedangkan 20% pendidikan diisi dengan berbagi kisah sukses para pengusaha sukses sedangkan sisanya akan diajarkan teori.

Mendiknas M. Nuh mengatakan pembangunan ini akan memperkuat generasi muda karena mengandung tiga pilar. Yaitu memiliki kemampuan sebagai penghafal Al Quran, pesantren dan entrepreuner. "Konsep ini cocok diterapkan karena jumlah penduduk miskin di Jatim mencapai 16% atau sekitar 6 juta," katanya.

Laporan : Nani Mashita



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com