NASIONAL

Kisah Calon Bupati di Makam Keramat Mbah Ud

Makam Mbah Ud di kampung Pagerwojo Kec. Buduran dikunjungi banyak orang.

ddd
Rabu, 19 Mei 2010, 14:30

SURABAYA POST - Masuk kampung Pagerwojo, Kec. Buduran yang sempit akan menjumpai sebuah makam yang dikelilingi dinding papan berhias ukiran Jepara di bawah sebuah joglo. Di teras joglo yang dipaving dan dipasang karpet hijau orang-orang bersimpuh membaca Alquran dan berdoa.

Di sekitar makam istimewa itu ada puluhan makam lain yang hanya dikijing semen dengan nisan bercat putih. Sebagian nisan ini ada yang ditutup kain hijau. Tempat istimewa berukiran itu adalah makam KH Ali Mas'ud yang dikenal dengan sebutan Mbah 'Ud.

Hampir semua warga Sidoarjo terutama generasi tua mengenal kisah Mbah Ud. Dia dinilai sebagai kiai yang mempunyai karomah bahkan pejabat dan masyarakat menganggapnya sebagai wali.

Karena itulah makam Mbah Ud yang meninggal tahun 1979 dalam usia 46 tahun itu termasuk yang dikeramatkan. Orang berziarah untuk mengenang kealimannya dan tidak sedikit yang berdoa di makam itu untuk ngalab berkah.

"Badannya memang kecil ngiyeyet (lunglai). Tapi jangan macam-macam. Dia itu sangat malati (bertuah)," ungkap Amir (77), penjaga makam dan masjid KH Ali Mas'ud ditemui Selasa (18/5) selepas magrib.

Amir mengaku dirinya sangat mengenal Mbah 'Ud karena mereka berdua adalah rekan sekampung halaman di Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran. 

"Umur kami berdua itu iring-iringan (sebaya). Umurnya nggak jauh dari saya, dia lebih tua sedikit. Kalau sekarang Mbah Ud masih hidup mungkin usianya sekitar 80 tahunan," tutur Amir.

Di masyarakat Pagerwojo sudah umum beredar kisah-kisah tuah Mbah Ud yang diceritakan tutur tinular.  Contohnya cerita Ali Mas'ud kecil minta uang jajan kepada ayahnya yang punya usaha jasa slep padi.

Ayahnya tak mau memberi sehingga Ali Mas'ud kecil pun marah. Dia lantas berkata, "Ooo, sampeyan iku gak negeke'i duit aku, matek slepan sampeyan." Seketika itu pula, menurut kisah itu, usaha slep padi ayah Ali Mas'ud macet.

Kisah-kisah lainnya seperti ketika diundang pejabat pemerintah dalam sebuah acara Mbah Ud tidak mau dijemput naik mobil. Dia berangkat sendiri naik becak yang ternyata datang lebih awal dari mobil jemputannya.

Amir tak membantah kisah itu. Dia lalu mengatakan,  Mbah 'Ud tak hanya bertuah semasa hidupnya. Namun juga setelah meninggal dunia. Makamnya di RT 26 RW 6 Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran itu menjadi  tempat ziarah banyak pelaku usaha dan politikus yang mengharapkan kesuksesan.

"Dulu pernah ada orang, sepertinya pengusaha dari Kalimantan. Begitu mendarat di Juanda  langsung ke sini. Tujuannya, cuma ambil tanah makamnya Mbah Ud buat dibawa pulang," cerita Amir.

Makam Mbah Ud sendiri memang gampang dicari. Dari Surabaya, traffic light pertama selepas jalan layang Jenggolo Kota Sidoarjo langsung belok ke kanan masuk Jl Raya Pagerwojo, persis di sebelah utara Sungai Pucang.

Kemudian lurus mengikuti jalan itu sampai bertemu lagi  traffic light. Di sekitar traffic light itu ada papan penunjuk ke makam Mbah 'Ud yang mengarahkan untuk berbelok ke kanan masuk jalan kampung yang lebarnya cuma sekitar 4-5 meter tapi beraspal mulus.

Lurus terus mengikuti jalan kampung itu, sampai ketemu tanda penunjuk arah untuk belok ke kiri masuk ke gang selebar 3 meter tapi beraspal mulus.

Dari mulut gang, berjarak 200 meter segera terlihat sebuah joglo megah dan cungkup makam berhiasan ukir-ukiran di sebelah kiri jalan. Di puncak atap joglo dan cungkup makam dihiasi lampu kelap-kelip berwarna-warni. Ya, itulah makam Mbah Ud yang dikeramatkan. Kemudian di seberangnya berdiri sebuah masjid yang sedang direnovasi.

Di depan joglo, terpasang dua papan besar. Satu bertuliskan susunan silsilah keluarga Mbah Ud dan satu lagi bertuliskan struktur organisasi pengurus kompleks makam Mbah Ud.

Menurut susunan silsilah keluarga itu Mbah Ud punya garis keturunan dari Rasulullah Muhammad saw lewat salah satu cucunya, Husain, anak dari Fatimah binti Muhammad yang kawin dengan Ali bin Abi Thalib. Kemudian menurun ke Abdullah Umdatuddin (sepupu Sunan Ampel), Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) hingga ke Mbah Ud.

Di depan cungkup makam terpasang kaligrafi bertuliskan cuplikan surat Yunus ayat 2: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidaklah mereka bersedih hati."

Joglo, cungkup makam, dan masjid yang sedang direnovasi itu, kata Amir, adalah salah satu bukti karomah Mbah Ud setelah dia meninggal dunia. Joglo dan cungkup dibangun oleh Bupati Win Hendrarso setelah  sukses terpilih kembali untuk periode kedua.

"Dulu ya sering (nyekar) ke sini. Terus kepilih lagi untuk lima tahun kedua, dia mbangun joglo satu set dengan cungkup makam ukir-ukiran itu. Itu nilainya Rp 500 juta," tutur Amir.

Sedangkan renovasi masjid, panitia pembangunannya sama sekali tak mengeluarkan duit sepeserpun untuk membeli material. Semuanya  sumbangan dari pengunjung makam atau anggota jamaah pengajian yang rutin digelar di kompleks makam Mbah Ud itu setiap Jumat malam dan Senin pagi.

"Kami merenovasi masjid ini sejak tahun 2002. Sedikit-sedikit. Tanahnya tanah waqaf. Materialnya, ada saja yang nyumbang. Entah pasir, batu bata, besi atau semen. Yang paling banyak nyumbang semen," ungkap H Khusen Arifin, yang pernah menjabat sebagai Ketua Takmir Masjid KH Ali Mas'ud untuk periode 2005-2009.

Hingga saat salat maghrib kemarin  itu suasana kompleks makam Mbah 'Ud terlihat ngelangut. Hanya ada 3-4 orang yang berada di joglo dan depan cungkup makam.

Tiga orang berada di sebelah barat cungkup makam tampak khusyuk membaca kitab sambil menghadap ke cungkup. Dan seorang lagi di joglo terlihat lesehan juga membaca kitab. Sementara di masjid, jamaah salat magrib hanya tiga shaf.

"Pengunjung makam itu, ramainya jam 12 malam ke atas. Banyak di antara mereka yang datang naik mobil bagus-bagus," kata Amir.

Menjelang Pemilukada Sidoarjo 2010, imbuh Amir, kunjungan ke makam Mbah Ud makin banyak. Menurut dia, hampir semua kandidat calon kepala daerah menyempatkan diri untuk nyekar ke makam Mbah Ud.

Tapi ada yang memang punya tradisi ziarah ke makam Mbah 'Ud. Seperti Saiful Ilah, Wakil Bupati Sidoarjo sekaligus kandidat calon bupati dari PKB.

Kata Amir, Saiful kerap berkunjung ke makam Mbah Ud sekadar singgah atau memang berziarah khusus. "Biasanya malam-malam, jam satu atau jam dua Pak Saiful tiba-tiba sudah leyeh-leyeh di masjid ini," ungkapnya.

Dia juga ingat  Imam Sugiri, kandidat calon bupati yang gagal maju pemilukada karena tiketnya dari PAN dianulir KPU Kabupaten Sidoarjo pernah ke situ. Imam, ungkap Amir, berziarah ke makam Mbah Ud didampingi 20 pendukungnya. ”Mereka ngotot masuk ke dalam cungkup makam,” dia bercerita.

Setelah usai ziarah, Imam membagikan uang ke beberapa penjaga kompleks makam tersebut. "Lumayan, saya dapat Rp 50 ribu. Kalau lainnya rata-rata cuma Rp 15 ribuan satu orang," kata Amir sambil tertawa. (hs)

laporan: satriyo eko putro



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
kerupuk
20/05/2010
tuhh gambar malah makam Hittler gitu, ayo RALAT sekarang juga... sy sbg warga Sidoarjo protes
Balas   • Laporkan
adoel
19/05/2010
ini berita nya bagus tapi gambar nya ngak nyambung itu kan cerita nya kiyai kenapa makam nya gambar dari agama lain ini lalai apa "SENGAJA", di ralat dong tuh !
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru