NASIONAL

Prostitusi ABG

Polisi Lacak Akun 'Tiduri Aku' di Facebook

Modus para ABG pelaku prostitusi, memasang foto di facebook dan transaksi via chatting.

ddd
Rabu, 3 Februari 2010, 06:05
 
  (digiactive.org)

VIVAnews - Prostitusi bukan barang baru. Salah satu profesi tertua di dunia ini terus bertahan hingga kini. Bedanya, modusnya lebih canggih, memanfaatkan kecanggihan teknologi. Transaksinya pun kini online.

Kepolisian menguak kasus prostitusi remaja anak baru gede (ABG) di Surabaya, Jawa Timur. Para remaja tanggung menjual diri lewat laman jejaring sosial, Facebook.

Modusnya, para ABG ini memasang foto di Facebook. Pengguna seks kemudian menghubungi mereka melalui fasilitas chatting.

Sumber VIVAnews di Polwiltabes Surabaya mengungkapkan, prostitusi melalui Facebook bisa ditemukan lewat sebuah akun bernama 'Tiduri Aku'.  Modusnya, kata sumber, berawal dari chatting, si pemilik akun akan memberikan nomor telepon genggamnya.

"Diantaranya ada nomor HP 08995 902XXX. Setelah saya hubungi ada suara wanita yang kemudian menyebutkan harga. Termasuk postur tubuh dan warna kulit 'sang penawar' yang dikehendaki. Bener, itu memang ada," kata sumber.

Polisi pun pernah menyaru sebagai calon 'pembeli' melalui akun tersebut. Diceritakan dia, dalam chatting yang pernah dilakukan, muncul penawaran Rp 500 ribu hingga Rp 2  juta.

Jika harganya cocok, pertemuannya bisa diatur, sesuai kesepakatan.

Namun, peminat harus lebih dulu menyetor uang ke sebuah rekening yang dikirim dalam obrolan chatting. "Sepertinya, itu sebuah syarat utama," pungkas sumber tersebut.

Penelusuran VIVAnews, ada dua akun 'Tiduri Aku' di Facebook. Salah satunya, memasang foto seorang wanita, diduga ABG, dengan pose menggoda.

Belum ada konfirmasi polisi, apakah ini akun yang dimaksud. Namun, dialog  dalam akun ini mengarah ke perbincangan berbau sensual.


****

Selain pelaku tunggal, ada juga ABG yang beroperasi melalui perantara. Kepolisian Surabaya mencokok dua mucikari yang memperdagangkan para ABG ini, yakni  Afif (21) warga dukuh Kupang Timur, Surabaya, dan Endri Margarini alias Fey (20) warga Bungur Asri, Surabaya.

Afif (21) mengaku awalnya sekedar iseng sebelum benar-benar tercebur dalam bisnis prostitusi.

"Awalnya hanya iseng, karena sering chatting dengan teman saya [Endri Margini alias Fey], dan saat itulah terjalin kerjasama," ujar Afif kepada VIVAnews, Senin 1 Februari 2010.

Keduanya sepakat membagi peran. "Saya cari pembeli, si Fey cari 'ayam' [wanita]."

Soal pembagian untung pun diatur bersama, Fey mendapatkan komisi yang seimbang dengan kualitas gadis ABG yang disediakan.

"Setelah itu kami sama-sama sepakat untuk memasang foto wanita itu di facebook," ujar Afif.

Jika ada order dari lelaki hidung belang, Afif mengaku segera menghubungi Fey dan minta disediakan wanita yang sesuai dengan foto yang tercantum dalam facebook.

ABG pesanan siap diantar ke pemesan, dengan syarat uang sudah ditransfer. "Harganya beragam, mulai dari Rp 400 ribu sampai Rp 2 juta rupiah," kata Afif.

Wanita-wanita yang disediakan pun adalah para mahasiwa disekitar kampus Surabaya dan sejumlah siswa SMA dan sekolah pariwisata.

Modus berbeda diungkap Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait. Kata dia, perdagangan anak maupun remaja lewat dunia maya adalah modus lama.

Ada juga yang melalui penipuan. "Modusnya, awalnya pelaku menjadi teman chatting, korban ditipu dan dirayu, hingga akhirnya mau bertemu dan melakukan hubungan seks dengan pelaku," jelas Aris.

Ketika melakukan hubungan itu, korban difoto. "Korban lalu diminta melayani orang lain, jika tak mau, diancam foto-fotonya akan disebar. Ini murni kriminal dan melibatkan jaringan," lanjut Aris.

Laporan: Tudji Martudji| Surabaya



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
aalexx
09/03/2010
salut dengan kinerja kepolisian,.......tetapi sekarang nie adalah yang terpenting adalah bagaimana memutus mata rantainya
Balas   • Laporkan
pengen
17/02/2010
mbok jangan ditangkap dulu... pengen nyoba nih... ntar abis nyoba... silaken kalo pada mo ditangkap...
Balas   • Laporkan
irbie
07/02/2010
Agama, kontrol orang tua dan orang terdekat seerta keterbukaan komunikasi di dalam klrga mungkin bisa membentengi hal seperti itu terjadi pada setiap anak-anak di keluarga indonesia
Balas   • Laporkan
sulthon
04/02/2010
jangan biarkan itu berkembang..cepat tangkap pelaku dan beri pengarahan..bila negara ingin selamat
Balas   • Laporkan
nuraeni
03/02/2010
memang harus di berantas tuh,,, merusak moral bangsa aja...
Balas   • Laporkan
redi alfian
03/02/2010
asyikk juga nih
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru