NASIONAL

Tahun Baru, Harga Beras Merangkak Naik

Kenaikan harga beras dan gabah dirasakan sejak akhir tahun 2009.

ddd
Jum'at, 1 Januari 2010, 10:54
Angkut Beras
Angkut Beras (ANTARA/Arief Priyono)

SURABAYA POST – Tahun baru harga jual gabah dan beras di Jombang naik antara Rp 500 sampai Rp 600 perkilogramnya. Kenaikan bahan pokok ini setelah stok gabah dan beras yang dimiliki petani semakin habis.

Pemantauan Surabaya Post harga jual gabah di Jombang kenaikannya minimal Rp 500/kg. Seperti di Kecamatan Diwek Jombang, harga jual gabah kering giling IR 64 semula Rp 2.300/kg kini menjadi Rp 2.800/kg. Untuk gabah jenis Mambramu harga jual semula Rp 3.600/kg kini meningkat menjadi Rp 4.100/kg.

Untuk harga beras jenis Ir 64 semula harga jual di penggilingan padi Rp 5.000/kg, kini menjadi Rp 5.500/kg. Untuk jenis Mambramo semula Rp 5.600/kg kini menjadi Rp 6.200/kg. Sedangkan harga jual di pedagang untuk Ir 64 semula Rp 5.200/kg, kini menjadi Rp 5.700/kg, dan jenis Mambramo semula Rp 5.900/kg kini menjadi Rp 6.500/kg .

Wagiman (45), petani padi asal Diwek Jombang, mengatakan kenaikan harga jual gabah mulai terjadi, kemarin. “Saya tahu harga jual gabah naik, ketika sisa stok gabah untuk kebutuhan makan keluarga, mendadak gabah jenis Ir 64 saya ditawar tengkulak Rp 2.400/kg. Karena saya sangat butuh beras, maka gabah itu tidak saya jual justru saya selepkan ke penggilingan beras. Padahal, sebulan lalu saya menjual gabah hasil panen ke tengkulak Rp 1900/kg,” katanya, Jumat 1 Januari 2010.

Kenaikan harga jual gabah, dan kenaikan harga beras sekarang ini justru tidak menguntungkan petani, namun sebaliknya. Banyak petani tidak memiliki stok gabah atau beras. Di sisi lain, petani sekarang justru membutuhkan beras, dan harga beras dan gabah naik.

Setiawan (50) pemilik penggilingan padi di kawasan Ngoro Jombang mengatakan, dengan kenaikan harga jual gabah dan beras membuat omzet penjualan berasnya menurun sampai 50 persen, sehingga membuat keuntungan yang diperolehnya berkurang. “Saya lebih senang harga beras dipasaran di bawah Rp 5.000/kg. Kalau harga jual beras di atas Rp 5.000/kg, saya sulit mendapat gabah untuk diproses menjadi beras,” katanya.

Kalau harga beras di pasaran kurang dari Rp 5.000/kg, omzet penjualan beras dua hari sekali bisa antara 2-4 ton. Karena, untuk mendapatkan gabah di petani masih mudah. Berapapun gabah yang dibutuhkan tentu bisa didapatkan dipetani. Kalau harga beras di atas Rp 5.000/kg, gabah masih dipohon belum dipanen saja, sudah dibeli tengkulak.

Parman (45) tengkulak gabah asal Mojoagung, Jombang, mengatakan, seiring kenaikan harga jual gabah dan beras naik membuat pendapatanya meningkat. “Stok gabah saya masih 10 ton. Saat membeli, harga gabah jenis Ir 64 Rp 1.900/kg sampai Rp 2.400 kini dijual lagi Rp 2.700/kg sampai Rp 2.800/kg."

Di sisi lain, Parman justru senang kalau harga jual gabah stabil untuk Ir 64 antara Rp 1.900 sampai Rp 2.200/kg. Karena dengan harga jual stabil mencari gabah mudah, kalau harga jual mahal, cari gabah harus memberi uang muka ke petaninya dan gabahnya belum dipetik.

Laporan Bambang Sujarwanto



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru