NASIONAL

Petani Terpaksa Beli Pupuk Non Subsidi

Pasokan pupuk bersubsidi tak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Jum'at, 11 Desember 2009
Oleh : Amril Amarullah
Petani terpaksa beli pupuk sendiri non subsidi

SURABAYA POST -- Petani di sejumlah desa di Kecamatan Merakurak terpaksa membeli pupuk non subsidi. Pasokan pupuk bersubsidi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Selain itu, mereka mengaku kesulitan mendapat jatah pupuk bersubsidi karena tidak masuk dalam daftar penerima.

“Saya dimana-mana ditolak, terpaksa beli pupuk Pusri dengan harga Rp 120 per zak,” keluh Taslam (46), petani di Desa Koro, Kecamatan Merakurak, Kamis (10/12).

Taslam mengaku mendapatkan pupuk non subsidi tersebut dari sebuah kios di Kecamatan Jenu. Harga pupuk tersebut jelas jauh di atas harga pupuk subsidi. Di tempatnya, pupuk bersubsidi keluaran Petrokimia Gresik (PG) seharga Rp 70 ribu per zak ukuran 50 Kg untuk jenis urea tabur.

Untuk mendapatkan pupuk jenis ini, Taslam harus rela keliling dengan sepeda pancalnya dari desa satu ke desa lainnya, sebab di tempatnya tidak ada kios resmi. Malangnya, kendati seharian ia keliling, tidak sejumputpun mendapatkan pupuk itu.

“Kata pemilik kios, hanya orang dari desa setempat yang boleh membeli pupuk. Semua begitu. Ya terpaksa saya beli di Jenu meski harganya mahal dan jauh tempatnya,” kata Taslam.

Hal sama dialami beberapa petani di Desa Sugihan. Namun petani alasan petani di desa ini karena jatah pupuk bersubsidi yang diterima terbatas. “Kami hanya boleh membeli satu paket berisi satu zak urea dan satu zak TSP atau Phonska. Untuk menutupi kekurangan, saya beli pupuk lain,” kata Muhadi (40), petani setempat.

Kades Sugihan, Warsito, membenarkan beredarnya pupuk non subsidi di tempatnya. Namun dia mengaku tidak bisa berbuat banyak karena pasokan pupuk bersubsidi yang diterimanya tidak bisa mencukupi kebutuhan petani.

Senada dikatakan H.M. Anwar, Direktur CV Fimaco, distributor pupuk untuk wilayah tersebut. Tetapi menurutnya, jumlah pupuk non subsidi yang dibeli petani tidak banyak. “ CV Fimaco rutin mengirim pupuk ke desa-desa, rata-rata 100 ton per hari. Kalau pun masih kurang, tidak banyak kok,” jelas Anwar.

Ia mengimbau petani agar memanfaatkan pupuk kandang sebagai alternatif untuk menutup kekurangan kebutuhan pupuk, sehingga kekurangan tersebut tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum spekulan untuk mempermainkan harga.

Pantauan Surabaya Post, pupuk non subsidi yang beredar di kalangan petani kebanyakan jenis urea tabur produk Pusri dan Pupuk Kaltim. Namun dari dua jenis pupuk itu, pupuk Pusri yang banyak diminati petani. Alasannya, pupuk Pusri lebih lembut sehingga irit penggunaannya. Sebagian petani malah mengaku terlanjur terbiasa menggunakan pupuk Pusri sehingga enggan menggunakan pupuk lainnya, termasuk pupuk PG yang bersubsidi tersebut.  

Laporan: Subekti

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found