NASIONAL

Korban Pembantaian Rawagede Gugat Belanda

Pada 9 Desember 1947, pasukan Belanda membantai 413 penduduk pria Rawagede.

ddd
Kamis, 10 Desember 2009, 00:43
Pembantaian Rawagede
Pembantaian Rawagede (www.eenvandaag.nl)

VIVAnews - Keluarga korban pembantaian Rawagede mengajukan gugatan kepada pemerintah Belanda.

Gugatan didaftarkan di Pengadilan Distrik The Hague pada Rabu 9 Desember 2009, tepat 62 tahun peringatan pembantaian Rawagede, yang kini bernama Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang. Letaknya  di antara Karawang dan Bekasi

Seperti dimuat laman Earth Times, kuasa hukum penggugat, Liesbeth Zegveld mengatakan keluarga korban juga meminta pemerintah Belanda mengakui kekejaman yang mereka lakukan di Rawagede. Mereka juga menuntut kompensasi.

Pada 9 Desember 1947, di hari nahas itu, pasukan kolonial Belanda dengan dalih mencari gerombolan pengacau memasuki Desa Rawagede. Berdasarkan hasil investigasi pada 1969, pasukan kolonial membunuh 150 penduduk desa laki-laki.

Namun, menurut versi saksi mata dan Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) delapan korban. Pembantaian itu menewaskan 430 penduduk pria Rawagede.

Pembantaian Rawagede diyakini merupakan tindakan kriminal paling kejam, paling brutal, dan paling berdarah yang dilakukan Belanda dalam kurun waktu 1945 sampai 1949

Namun, di Belanda, selama beberapa dekade, pembantaian Rawagede hanya dianggap konsekuensi dari aksi polisi yang mengejar para pengacau.

Pemerintah Belanda, melalui Menteri Luar Negeri, Maxime Verhagen menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi Rawagede. Namun, pemerintah Belanda secara resmi tak pernah meminta maaf pada keluarga korban dan menawarkan kompensasi.

****
Dikisahkan, pasca pembantaian Rawagede, hujan yang mengguyur mengakibatkan genangan darah membasahi desa tersebut.

Yang tersisa hanya wanita dan anak-anak. Keesokan harinya, setelah tentara Belanda meninggalkan desa tersebut, para wanita menguburkan mayat-mayat dengan peralatan seadanya.

Seorang ibu menguburkan suami dan dua orang putranya yang berusia 12 dan 15 tahun. Mereka tidak dapat menggali lubang terlalu dalam, hanya sekitar 50 cm saja. Untuk pemakaman secara Islam, yaitu jenazah ditutup dengan potongan kayu, mereka terpaksa menggunakan daun pintu, dan kemudian diurug tanah seadanya, sehingga bau mayat masih tercium selama berhari-hari.

Tahun 1969 atas desakan Parlemen Belanda, Pemerintah Belanda membentuk tim untuk meneliti kasus-kasus pelanggaran/penyimpangan yang dilakukan oleh tentara tentara kerajaan Belanda antara tahun 1945 – 1950.

Dalam laporan itu, dinyatakan 150 orang tewas di Rawagede. Namun, mayor yang bertanggungjawab atas pembantaian tersebut, demi kepentingan yang lebih tinggi, tidak dituntut ke pengadilan militer.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
Kholik
16/09/2011
TRAGEDI RAWA GEDE... Jangan sampai dibuat lahan korupsi kasihan ARWAH yg sudah tenang, jangan sampai ARWAH ngejar2 haknya yang dikorupsi oknum-oknum tertentu. Barang siapa yang makan bukan Haknya, Insya akan mendapat Azab dari Tuhan Y'M'E,
Balas   • Laporkan
tanjung
29/06/2011
Ketua Yayasan Rawagede & Yysan Sampurna Raga adalah oknum2 yg memanfaatkan Rawagede untuk kepentingan pribadi. Di back up penuh oleh pejabat Pemda Karawang. Percuma dana milyaran juga, nggak bakalan sampai ke yg bnr2 berhak. Audit tuh Koperasi Rawagede...
Balas   • Laporkan
a sudrajat
16/06/2011
ingat sejarah tidak boleh kita lupakan, saya sebagai putra daerah karawang mendukung secara moral terhadap para simpatisan pejuang rawa gede yang menuntut haknya terhadap kerajaan belanda, walaupun materi bukanlah ukuran dan tidak akan pernah tergantikan
Balas   • Laporkan
mbahdharmo
10/12/2009
mengapa harus mengorek luka lama?knp harus menoleh ke belakang lagi? kapan bisa maju negara ini jika terus menoleh ke belakang.Alangkah baikna apabila kita menjadikan hal ini bagian dari sejarah kita semua.yang lalu ya biarlah....toh seandainya di tuntut
Balas   • Laporkan
yudie_79 | 15/06/2011 | Laporkan
kenapa harus di tuntut..? kalau yang salah harus di hukum biar tidak di lakukan kembali.. jangan berbicara HAM bila minta ma'af saja tidak bisa..
mbahdharmo
10/12/2009
mengapa harus mengorek luka lama?knp harus menoleh ke belakang lagi? kapan bisa maju negara ini jika terus menoleh ke belakang.Alangkah baikna apabila kita menjadikan hal ini bagian dari sejarah kita semua.yang lalu ya biarlah....toh seandainya di tuntut
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id