NASIONAL

Labbaika Allahumma Labbaika, Jamaah ke Arafah

Hari ini, tiga juta jamaah wukuf di Padang Arafah,untuk berdiam diri berintrospeksi diri.

ddd
Kamis, 26 November 2009, 11:30
Terik matahari di Arafah
Terik matahari di Arafah  

VIVAnews -- Ratusan ribu orang menyemut sejak selepas Subuh kemarin. Berjalan bergerombol, beberapa naik bus, mereka bergerak ke titik yang sama, Arafah.

Kalimat talbiyah yang dikumandangkan mengalun dengan indah. "Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni mata laka wal mulka. laa syarika laka." (Ya Allah, aku datang karena panggilan-Mu.Tiada sekutu bagi-Mu. Segala nikmat dan puji adalah kepunyan-Mu dan kekuasaan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu).

Di persimpangan, mereka terbagi dua. Ada yang mengarah ke Mina untuk melakukan tarwiyah (berhenti sejenak dan bermalam di Mina sebelum melakukan wukuf di Arafah), ada yang langsung ke Arafah menanti wukuf esok hari (hari ini, red).

Ada yang naik bus, tak sedikit yang mencontoh sunah Rasulullah SAW, berjalan kaki. Bahkan ada yang sengaja bermalam di Masjidil Haram dan mengawali langkah dari sana.

Tak sedikit jamaah calon haji Indonesia yang bergabung dalam barisan ini. Mereka memisahkan sejenak dari rombongan untuk melakukan sunah Rasul bertarwiyah. "Asal sudah berkoordinasi dengan rombongannya, tak ada masalah," kata Kepala Panitia Pelaksana Ibadah Haji Daerah Kerja Makkah, Subakin AM.

Hari ini, tiga juta jamaah dari berbagai negara melakukan wukuf atau perenungan diri di Padang Arafah, jaraknya 25 Km dari Mekah, untuk berdiam diri berintrospeksi. Selepas tengah malam, jemaah bergeser ke Muzdalifah untuk mabit (bermalam dan bersiap melontar jumrah).

Wukuf menamsilkan saat manusia berada di hari penantian (Padang Masyhar) dalam formasi antre, menanti giliran untuk dihisab (ditimbang-timbang amal baik dan buruknya). Wukuf adalah inti ibadah haji. Sesuai sabda Rasulullah Muhammad SAW, maka jika wukuf tidak dilakukan, ibadah hajinya dianggap tidak sah.

Itu sebabnya, Panitia Pelaksana Ibadah Haji melakukan berbagai langkah untuk menyukseskan prosesi ini. Seluruh jamaah dipastikan bisa hadir di Arafah, walau dalam keadaan sakit. Mereka diangkut dengan menggunakan kendaraan khusus dan didampingi seorang pembimbing ibadah.

"Bukan bermaksud mendahului Yang di Atas, namun optimisme perlu. Dan sejauh ini memang tidak ada kendala yang berarti dalam persiapan wukuf ini," ujar Menteri Agama Suryadharma Ali usai rapat koordinasi persiapan wukuf bersama Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Menkokesra) Agung Laksono dan PPIH di Makkah, akhir pekan lalu.

Menurut Menag, PPIH dengan bekal pengalaman tahun-tahun lalu telah menyiapkan segala hal terkait pelaksanaan wukuf.  "Persiapan yang dilakukan cukup mendetail. Untuk mengantisipasi jemaah keliru jalan misalnya, dilakukan secara berlapis melalui pos-pos yang akan memantau dan mengarahkan pergerakan jamaah," ujar Menag.

Di Arafah, jamaah menempati tenda-tenda yang dikelompokkan menjadi 70 maktab. Setiap maktab menampung 2.500-3.000 jamaah.

Pada puncak pelaksanaan wukuf hari ini, jemaah akan tinggal di Arafah hingga lepas Magrib. Setelah itu, jamaah akan diangkut dengan bus menuju Muzdalifah yang berjarak 9 km dari Arafah.

Jumlahnya 7-8 bus per maktab atau satu bus untuk sekitar 450 jemaah. "Bus-bus itu akan bergerak bolak-balik Arafahâ¬ĚMuzdalifah. Teknik ini sudah dilakukan selama tiga tahun terakhir dan lancar," ujar Haris.

Di Muzdalifah, jamaah akan menjalani prosesi mabit (menginap). Selanjutnya, jamaah bergeser menuju Mina yang berjarak sekitar 6 km dari Muzdalifah. Di Mina, jamaah akan tinggal 3-4 hari di tenda-tenda tahan api untuk prosesi melempar jumrah.

Tempat jamarat sekarang sudah lima lantai dan dilengkapi teknologi canggih, dengan 10 pintu masuk dan 12 pintu keluar. "Jadwal lempar jemarat diatur untuk setiap negara sehingga jamaah bisa melempar jamarat dengan mudah," jelas Haris.

Selama di Arafah hingga Mina, jamaah akan mendapat makanan secara prasmanan diselingi satu kali pemberian makanan dalam kotak saat di Muzdalifah. "Dengan sistem prasmanan, makanan yang tersaji lebih segar, jamaah juga lebih leluasa untuk memilih dan mengambil jenis makanan sesui selera," ujar Pengawas Katering Armina Sri Ilham Lubis.

Meski penyajiannya menggunakan model prasmanan, namun menurut Sri jamaah tidak perlu mengantre lama saat hendak makan. Sebab, jadwal makan akan digilir per rombongan dengan jumlah jamaah per rombongan terdiri dari 45 orang.

Amirulhaj Bahrul Hayat, mengemukakan, kehadiran sekitar tiga juta jemaah haji di Arafah memiliki makna yang sangat strategis bagi terbentuknya tata dunia yang adil dan damai. Melalui haji, umat Islam memperlihatkan kepada dunia, bahwa mereka adalah besar. Oleh karena itu, wajar kebesaran tersebut kemudian diikuti dengan hak dan kewajiban yang besar pula.

"Di antara umat Islam yang kolosal itu, jemaah haji mempertontonkan pribadi yang mabrur. Pribadi yang lebih suka damai. Toleransi yang tercipta di antara sesame jemaah haji telah memperlihatkan bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh dunia," kata Sekretaris Jenderal Departemen Agama tersebut.

Secara nasional, kehadiran jemaah haji Indonesia di tengah tiga juta jemaah lainnya di Arafah juga memiliki makna yang amat strategis. Sebab, makna Arafah yang sesungguhnya adalah "tahu". Kehadiran jemaah Indonesia merupakan tamu Allah, yang harus mengetahui hak dan kewajibannya sebagai hamba dan mengetahui hak dan kewajiban Allah sebagai Sang Pencipta.

"Sebagaimana dikemukakan Rasulullah dalam hadis, bahwa kewajiban hamba adalah menyembah kepada Allah. Mereka kemudian berhak terhindar dari neraka jika tidak melakukan syirik kepada-Nya. Sedangkan hak Allah adalah mendapatkan sembah dari hamba-Nya, namun berkewajiban memasukkan ke dalam surga bagi hamba-Nya yang tidak berbuat syirik kepada-Nya," kata Bahrul Hayat.

Kata "tahu" secara sosial, kata Bahul Hayat, harus lebih ditujukan agar setiap jamaah lebih tahu terhadap dirinya sendiri daripada lebih ingin tahu terhadap diri orang lain.

Justru karena tidak tahu terhadap dirinya sendiri, bangsa Indonesia secara nasional mengalami stagnasi moral, baik di bidang politik, hokum, sosial, dan berbagai bidang lainnya. Dengan tahu diri masing-masing, setiap individu bangsa Indonesia dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa ke depan yang lebih baik.

Setiap jamaah Indonesia yang melakukan wukuf di Arafah tahun 1430 H ini juga diharapkan meraih haji yang mabrur. Menurut pria kelahiran Tasikmalaya tahun 1959 ini, mabrur berarti sikap terbuka untuk senantiasa memberikan yang terbaik, dan sikap terbuka untuk senantiasa membuang keburukan.

"Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni mata laka wal mulka. laa syarika laka." (sumber: depag.go.id)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com